Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
S—2 : Cinta Untuk Sabian


__ADS_3


Zura terus mengikuti langkah Sabian yang tak berarah. Entah sudah berapa kilometer mereka mengayunkan langkah kakinya, hingga pada akhirnya Zura menyerah tak sanggup lagi untuk mengikuti Sabian yang terus berjalan.


“Sabian ... sebenarnya kamu mau kemana, sih? Aku capek!” seru Zura dari belakang.


Langkah Sabian pun terhenti dan langsung menoleh kebelakang. “Aku mau pergi kemana bukan urusanmu dan yang paling penting aku tidak menyuruhmu untuk mengikutiku.”


“Sabian .. sebenarnya kamu kenapa, sih? Kalau ada masalah itu jangan kabur! Dasar pecundang!” teriak Zura yang kini sedang mengatur napasnya.


Tentu saja Sabian langsung terpancing dengan ucapan Zura. Kakinya pun melangkah untuk mendekati Zura. Bahkan sorot matanya terlihat sangat tajam. “Apa kamu bilang? Aku pecundang? Kamu itu enggak tahu apa-apa, jadi enggak usah sok tahu. Mending kamu sekolah yang benar sana!”


“Sekolah?” cicit Zura menahan tawanya. “Apakah aku terlihat sekecil itu di matamu? Asal kamu tahu, satu tahun lagi aku akan lulus dari bangku kuliah. Seharusnya itu kata-kataku untukmu! Kamu ngapain siang-siang keluyuran di jalanan? Jangan bilang kamu beneran lagi kabur dari rumah ya? Wah ... parah! Tunggu, aku telepon Om Raka dulu!” Zura segera mengambil ponselnya untuk menghubungi ayahnya Sabian. Namun, baru saja hendak memanggil nama ayahnya Sabian, tiba-tiba saja ponsel Zura telah di rampas oleh Sabian.


“Bian ... ! Kamu apaan sih! Kembalikan ponselku!” teriak Zura yang berusaha untuk mengambil alih ponsel dari tangan Sabian. Namun, sabian segera meninggikan ponsel hasil rampasannya.


“Enggak segampang itu! Ada syaratnya kalau kamu mau ponsel ini aku kembali. Tapi kalau enggak mau ya, enggak apa-apa. Lumayan bisa aku tukar dengan permen karet,” ujar Sabian.


“Enak aja! Kamu pikir itu ponsel recehan? Sini kembalikan Bian!” Lagi-lagi Zura berteriak kepada Sabian untuk meminta ponselnya. Akan tetapi Sabian masih bersikukuh dengan penawarannya.


“Aku akan kembalikan dengan satu syarat, gimana? Mau enggak?”


Zura tidak mempunyai pilihan lain daripada dia harus kehilangan ponsel yang sudah menjadi aset berharga, karena semua data dan tugas kuliah dia simpan di ponselnya. Dengan bibir yang mengerucut, Zura pun langsung menyetujui keinginan Sabian.


“Ya udah, apa syaratnya?”


Bibir Sabian langsung mengemban dengan luas manakala dia telah menang. “Aku lapar dan aku juga butuh pakaian ganti,” ujarnya.


“Lalu?”


“Ya .. kamu harus belanja aku. Kalau enggak mau ya udah, tukarkan ponselmu dengan permen karet!”


Zura kembali mengernyit sambil menggeleng kepalanya. Dia benar-benar tidak percaya dengan keinginan kesepian dianggap sangat konyol. Namun, Zura tidak bisa menolak keinginan Sabian demi semua aset yang ada di dalam ponselnya.


“Oke. Tapi kembali dulu ponselku!”


Tangan Sabian pun terulur untuk memberikan ponselnya pada Zura. Namun, bukannya langsung diberikan, Sabian malah menarik kembali ponsel yang ada ditangannya.

__ADS_1


“Itss ... tunggu, satu lagi! Kamu enggak boleh menelepon ayah ataupun keluargaku! Bagaimana? Bisa?”


Zura semakin yakin jika saat ini Sabian memang benar-benar sedang kabur dari rumahnya. Tanpa pikir panjang, Zura pun mengangguk dengan pelan.


“Baiklah, aku berjanji tidak akan memberitahu siapa-siapa jika sat ini kamu sedang bersamaku. Dan sekarang kembalikan ponselku.”


“Janji!”


“Isya Allah.”


Sabian pun langsung menyerahkan ponsel Zura dan segera menarik tangannya untuk menuju ke sebuah rumah makan yang sejak tadi aromanya sudah membuat para cacing mendemo dirinya.


Lagi-lagi Zura hanya bergidik geli dengan sikap Sabian layaknya seorang gelandang yang sedang kelaparan.


Aku yakin, Bian memang sedang kabur, batin Zura.


Diam-diam wanita itu mengirimkan pesan pada ayahnya Sabian untuk bertanya tentang Sabian. Sesuai dengan dugaan, ayah Sabian mengatakan jika saat ini Sabian sedang kabur dan sedang dalam pencariannya. Bola mata Zura pun langsung terbelalak lebar karena saking terkejutnya. Namun, sebisa mungkin Zura berusaha untuk menyembunyikan raut wajahnya agar tidak terbaca oleh Sabian yang saat ini sedang menikmati hidangannya.


“Nama kamu tadi siapa?” tanya Sabian ditengah-tengah mengunyahnya.


“Namaku Azura, panggil saja aku Zura.”


Cukup lama Zura menemani Sabian untuk menghabiskan makanan yang dipesannya. Zura tidak mengira jika pria yang dijodohkan dengan kakaknya adalah anak SMA yang terlihat urakan. Bahkan rasanya sangat tidak pantas untuk kakaknya yang nyaris sempurna di mata para pria. Entah mengapa keluarganya tanpa pikir panjang menyetujui perjodohan itu. Apakah keluarganya sama sekali tidak mengetahui bagaimana sifat Sabian yang sesungguhnya?


“Bian ... kamu kenapa terlihat seperti gelandang yang kelaparan sih?” yang Zura yang sejak tadi terus memperhatikan Sabian menghabiskan makanannya.


Mendengar pernyataan Zura, Sabian langsung mendongak. “Benarkah? Tapi sepertinya kamu harus memakai kacamata yang tebal lagi deh sebelum menilai seseorang! Mana ada gelandang yang wajahnya ganteng seperti ini! Yang ada langsung diadopsi sama dinas sosial! Sudahlah, aku sudah kenyang, sekarang waktunya cari pakaian. Semakin lama aku pakai kaos oblong semakin besar peluang orang untuk mengganggapku seperti seorang gelandang!”


“Baiklah, aku bayar dulu, ya!”


Setelah puas mengisi perut, kini tiba saatnya Sabian untuk mengganti pakaiannya. Meskipun nyaman dipakai, tetapi penampilan terlihat seperti seorang pengemis ataupun gelandang yang baru lepas.


“Bi, jangan pilih yang mahal-mahal ya! Soalnya uang bulanan dari Abah enggak seberapa. Kebutuhanku juga banyak. Lagian kamu kan kaya, kenapa enggak pakai uangmu sendiri, sih? Apakah kamu enggak dikasih uang bulanan sama ayah kamu?”


“Tenang aja, besok aku ganti semuanya. Jadi Kamu enggak usah takut!”


“Janji?” Zura meyakinkan.

__ADS_1


Kepala Sabian mengangguk dengan pelan. “Janji.” Asalkan enggak disita aja sama ayah, aku pasti bisa mengambilkan sepuluh kali lipat. Ya, semoga saja ayah tidak menyitanya. batin Sabian sambil menghela napas panjang.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Sabian pun tak lupa untuk mengucapkan kata terima kasih pada Sura yang telah bersedia membiayai keperluan. Namun, saat langkahnya keluar dari toko baju, tiba-tiba saja wajah Sabian langsung ditekuk, karena teringat jika saat ini tak ada arah dan tujuannya.


“Ada apa lagi? Apakah ada yang kurang?” tanya Zura saat melihat tubuh Sabian membeku ditempat.


Seketika Sabian hanya menggeleng dengan lemas. Tidak mungkin jugandia bercerita pada Zura jika saat ini dirinya memang sedang kabur.


“Enggak ada. Aku hanya sedang malas aja untuk pulang ke rumah. Sepertinya aku butuh bantuanmu lagi. Bantu aku untuk kali ini, esok aku akan menggantinya,” ujar Sabian dengan wajah memelasnya.


“Bantu apa lagi, Bi?”


Sabian terpaksa menyunggingkan senyumnya, berharap Zura mau membantu dirinya yang benar-benar sedang membutuhkan bantuan.


“Pinjamkan aku uang satu juta. Lusa aku kembalilah.”


Zura langsung terbelalak dengan lebar. “Apa? Satu juta? Enggak! Enggak bisa! Baru satu jam bersamamu aku sudah kehilangan tabunganku hampir lima juta! Kamu tahu enggak lima juta itu uang jajanku selama dua bulan! Mending kamu pulang sana! Enggak usah kabur-kaburan! belajar yang bener!”


“Zura ... please! Help me! Aku janji lusa aku kembalikan!” rengek Sabian.


“Tapi aku enggak bawa uangnya, Bian!”


“Ya udah ambil sana! Aku temenin, deh!”


Zura sekilas melirik Sabian dan pada akhirnya Zura pun menghela napasnya dengan kasar.


“Baiklah, tapi kamu beneran mau antarin aku pulang, kan?”


“Iya ... iya. Dasar bawel!”


Karena Sabian sudah setuju Untuk mengantarkan Zura pulang, wanita itu pun segera menyetop sebuah taksi untuk pulang. Selama perjalanan pulang ke rumah Zura, tak ada satu kata yang terucap dari keduanya. Suasana di dalam taxi terasa hening, hingga pada akhirnya Sabian terbelalak dengan lebar saat taksi memasuki sebuah gapura dengan tulisan Selamat datang di pesantren Al Janah


Dengan bodohnya Sabian sama sekali tidak mengingat jika Zura adalah adik dari Aluna, wanita yang telah dijodohkan untuknya. Itu sama saja saat ini Sabian masuk sendiri ke kandang singa dengan suka rela.


“Berhenti!” teriak Sabian yang sudah mulai gugup.


“Gak usah, Pak! Jalan terus aja. Bentar lagi juga sampai kok. Tolong masuk sampai depan pendopo, ya!” titah Zura.

__ADS_1


“Baik, Mbak.”


__ADS_2