
Bayangan tentang apa yang terjadi tadi malam masih begitu jelas dalam ingatan. Ais merasa malu jika mengingatnya kembali, dimana dia meminta disentuh oleh suaminya. Begitu juga dengan Hanafi yang baru pertama kali melakukannya merasa malu jika mengingat kembali apa yang telah dia lakukan.
“Kalina kenapa kok nasinya enggak dimakan?” tanya ibunya Ais.
Dua orang yang saling menunduk dengan pemikirannya sendiri akhirnya mengangkat kepala mereka dan saling bersitatap. Pernikahan yang terjadi secara tiba-tiba membuat keduanya masih merasa canggung.
“Malah bengong! Buruan dimakan! Keburu dingin enggak enak!” lanjut ibunya Ais lagi. “Kenapa? Enggak enak?”
Hanafi segera menindakkan makanan ke dalam mulutnya. “Enggak kok, Bu! Makanannya enak.”
“Iya. Enak kok, Bu,” timpal Ais yang mengikuti Hanafi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Butuh waktu lima belas menit untuk menghabiskan makanan yang ada di piring, karena sesekali Hanafi diajak berbicara dengan bapak mertuanya. Di meja makan Pak Ali juga memberikan sebuah wejangan pada anak dan menantunya agar tidak gegabah untuk mengambil sebuah keputusan agar tak terjadi kegagalan dalam rumah tangga mereka. Pak Ali juga berpesan pada Hanafi jika dalam waktu satu tahun Ais belum juga hamil, dia harus bersabar dan terus berdoa kepada Allah agar diberikan amanah.
“Bapak tenang saja, Hanaf tidak akan mendesak Ais untuk segera memberikan seorang anak, karena Hanaf ingin Ais fokus terlebih dahulu dengan kuliahnya. Begitu juga dengan ibu yang tidak akan memaksa Ais untuk segera memberikan cucu. Bapak dan Ibu tenang saja Hanaf akan menjaga air dengan baik. Hanaf berjanji tidak akan pernah menyakiti Ais,” ucap Hanafi untuk meyakinkan kedua orang tua Ais.
__ADS_1
“Syukurlah jika kamu bisa mengertikan keadaan Ais saat ini. Bapak dan ibu titip Ais sama kamu. Tolong jaga dia dan balutlah luka dalam hatinya. Bapak yakin jika Ais bisa memberikan seorang anak. Yang penting kamu jangan patah semangat jika Allah belum memberi dalam waktu dekat,” ujar pak Ali lagi.
“Iya, Pak. Doakan saja agar Allah segera memberikan kepercayaan kepada Ais.”
“Bapak dan ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Yang penting gegabah untuk mengambil sebuah keputusan,” sela ibu Ais.
Di lain sisi di rumah Hanafi ...
Bapak dan Ibu Hanafi hampir shock saat mendengar sebuah pengakuan dari Maryani adik dari Ibu Hanafi. Keduanya benar-benar tidak percaya jika yang menggiring tentang kejadian Ais dan juga Hanafi adalah dirinya.
“Tapi tidak dengan cara menggiring opini yang buruk tentang mereka berdua, Yani! Itu sama aja kamu memfitnah mereka. Nama mereka telah buruk di mata keluarga. Bukan kamu aja yang menginginkan agar Hanafi segera menikah. Mbak sebagai ibunya juga sangat berharap, tetapi tidak dengan cara seperti itu Yani! Mbak sungguh kecewa dengan perbuatanmu!” geram ibu Hanafi pada adiknya sendiri.
Dia benar-benar tidak menyangka dibalik penyebaran berita tentang Ais dan juga Hanafi ternyata adalah adiknya sendiri. Rasanya ingin marah karena dengan kejadian itu nama baik Hanafi telah hancur dan tak ada kepercayaan warga lagi pada Hanafi.
“Mbak ... Mas ... maafkan Yani.”
__ADS_1
Helaan napas terdengar sangat berat. Nasi telah menjadi bubur. Bahkan permintaan maaf pun tidak akan bisa untuk mengembalikan nama baik Hanafi. Semua warga sudah terlanjur memandang Hanafi buruk.
“Sebaiknya kamu mau minta maaf kepada Ais dan juga Hanafi. Lalu bersihkan nama mereka berdua. Jika kamu tidak bisa membersihkan nama mereka berdua Mbak tidak akan pernah memaafkan kamu!” tegas ibu Hanafi.
“Tapi bagaimana caranya aku meyakinkan warga jika malam itu tidak terjadi apa-apa antara Ais dan juga Hanafi? Mereka sudah terlanjur mempercayai foto dan video itu, Mbak.”
“Itu urusanmu Yani! Yang mbak mau nama mereka segera bersih di mata warga. Kamu pikir hati mbak enggak sakit mendengar ocehan para warga saat menjelekkan Hanafi? Sakit Yani! Jika tidak mengingat kamu adalah adik mbak, mungkin Mbak sudah membawa masalah ini ke jalur hukum!”
“Bu ... sudahlah. Kita ambil saja hikmahnya. Mungkin dengan cara seperti ini Allah menyatukan Hanafi dan juga Ais. Bukankah ibu juga menginginkan Ais untuk menjadi menantu ibu?” Pak Taufik mencoba untuk menenangkan hati istrinya.
“Tapi tidak dengan cara seperti ini, Pak! Ibu memang menginginkan Ais untuk menjadi menantu Ibu tapi caranya nggak seperti ini, Pak! Apakah Bapak tahu ocehan warga tentang Ais? Tidak kan, Pak! Mereka yang tidak mengenal Ais terus-menerus membicarakannya, terlebih dengan statusnya yang janda. Mereka menganggap semua janda itu buruk.”
Pak Taufik tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tahu Maryani salah, tetapi dia yakin jika semua ini terjadi karena Allah, meskipun dengan cara yang salah. Mungkin dengan cara seperti itu Hanafi mau menikah dan tidak menjadi bujang lapuk lagi.
...####...
__ADS_1