Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 96


__ADS_3

Raka membelah jalanan yang yang mulia gelap untuk mencari keberadaan anaknya. Satu-satunya tempat yang harus dia kunjungi adalah tempat balapan yang sering digunakan untuk melakukan balapan liar. Ya, meskipun dalam hatinya tidak begitu yakin tetapi tidak ada salahnya jika Raka mengikuti saran ibunya untuk mencari Raka di tempat balapan.


Sesampainya di tempat yang dituju, Raka segera turun dari mobilnya untuk mengecek apakah salah satu diantara pemain balapan itu adalah Sabian. Sepertinya tanpa dicari ataupun ditanya jawabannya adalah sabyan memang sedang mengikuti balapan liar. Semua itu karena beberapa orang penonton yang meneriaki nama Sabian.


“Astaghfirullahaladzim! Ternyata enggak ada jera-jeranya anak ini! Udah dikasih ancaman, masih aja gak takut! Dia pikir dia punya nyawa cadangan!” gerutu ayah Bian dengan geram.


Tidak ingin membuat keributan, Raka memilih untuk menyaksikan Sabian menguasai jalanan yang sepi sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Orang tua mana yang akan mendukung anaknya bermain nyawa. Sudah pasti tidak akan ada, karena balapan liar resikonya sangat besar. Masih mending jika diangkut oleh satpol PP, daripada diangkut keranda.


“Bian .... Bian ... Bian ... ”


Begitu banyak orang yang menyemangati sabyan ketika hampir sampai di tempat finish. Tak butuh lama, teriakan para penonton pecah saat Sabian telah menyambar sebuah bendera yang ada di garis finish. Entah harus ikut bahagia atau marah ketika melihat kemenangan Bian yang kini dihampiri oleh beberapa temannya untuk diberikan ucapan selamat.


“Aku tidak tahu daerah siapa yang mengalir pada anak itu! Apakah lingkungan tempanya bermain yang membuat nyalinya besar. Bahkan sama sekali tidak memikirkan risiko paling besarnya. Bian ... Bian!” Raka pun berjalan pelan untuk menghampiri Sabian yang sedang bahagia karena kemenangannya.


Sabian tidak menyangka jika masih bisa mengalahkan lawannya, padahal dia sendiri sudah lama tidak bermain bebas lagi. Ya, anggap saja itu adalah sebuah keberuntungan.


“Keren, Bi! Sumpah kamu keren sekali! Perdana main udah langsung menang aja!” seru Gala yang tak kalah merasa sangat bahagia dengan kemenangan Sabian.


Sabian tertawa pelan dan segera melepaskan beberapa atribut yang dia pakai. “Anggap saja hidupku penuh keberuntungan karena selalu menang!”


“Iya ... iya, aku percaya! Jadi jangan lupa traktirannya, ya!”


“Oke! Malam ini aku terakhir kalian semua!” seru Bian pada teman-temannya.


Sorak ria pun menggema dari teman-temannya. Bahkan Raka yang ikut berdiri diantara teman-temannya Bian langsung maju kedepan.


“Selamat atas kemenanganmu, Sabian,” ucap Raka.


Bola mata Sabian langsung membulat dengan lebar manakala di depan matanya telah berdiri sang ayah yang mengeluarkan tangan untuk memberi sebuah ucapan selamat atas kemenangannya. Tubuhnya pun seketika ikut membeku bahwa dadanya terasa sesak.


“Ayah,” gumamnya dengan pelan.


Beberapa diantara temannya yang mendengar kata ayah keluar dari bibir Sabian langsung membungkam mulutnya sendiri. Mereka semua hampir tidak percaya jika pria yang sedang berdiri di depan Sabian adalah ayahnya.


“Bian ... are you oke?” ucap ayahnya.


Sabian menelan kasar salivanya, dia tidak menyangka jika sang ayah ada di depan matanya. “Ayah ngapain ke sini?”

__ADS_1


“Lihat kamu balapan. Sekali lagi selamat atas kemenanganmu.”


Sabian memberi isyarat kepada teman-temannya untuk bubar, karena dia ingin berbicara kepada ayahnya. Dan setelah satu persatu teman membubarkan diri, Bian langsung menyuruh ayahnya untuk mengatakan tujuan ayahnya datang. Bukannya menjawab, sang ayah malah langsung menjewer telinga Sabian.


“Aduh ... aduh ... sakit, Yah!” teriak Sabian mencoba untuk menepis tangan ayahnya dari telinganya.


“Sakit ya? Oh ... jadi kamu masih bisa merasakan sakit ya?”


“Ayah ... ayah ... lepaskan! Sakit! Iya, Bian minta maaf karena telah ingkar!”


“Bukan masalah ingkar, Bian! Tapi kamu enggak dengerin ayah! Tadi ayah bilang jangan lama-lama! Kamu ingin membuat ayah malu di hadapan pak Abdullah ya? Untung aja ayah bisa segera menemukanmu. Ayo pulang atau ayah benar-benar sita semua fasilitasmu!” ancam ayahnya.


“Iya ... iya, Yah! Bian akan pulang, tapi lepaskan dulu! Bian malu, Yah!”


Raka segera melepaskan jeweran dari telinga Bian dan segera berlalu begitu saja. Bian pun langsung menggosok telinganya yang terasa panas dan segera mengejar ayahnya. Namun, sebelum pulang dia memberikan amanah kepada Gala untuk membawa teman-temannya makan sepuasnya, karena Bian tidak bisa ikut bergabung bersama mereka.


“Gal, semuanya kamu yang urus! Masalah biaya, aku yang akan bertanggung jawab. Maaf, aku enggak bisa gabung karena malam ini ada acara!” Pesan Sabian.


“Oke, kamu tenang aja! Aku akan mengurus semuanya. Yang penting sekarang selamatkan dulu hidupmu. Kita bisa ngertiin, kok!” timpal Gala.


***


“Ya amoun Sabian ... kamu darimana aja sih? Ini udah mau jam tujuh malam? Cepat mandi sana! Terus kita berangkat!“


“Nek ... Bian capek! Nenek sama ayah aja yang pergi ya!”


“Oh ... jadi udah enggak butuh fasilitas dari ayah. Ya sudah enggak apa-apa. Nanti serahkan semua fasilitas yang selama ini ayah berikan!” ancam ayahnya.


Sebenarnya Sabian merasa sangat malas untuk ikut, tetapi ayah dan neneknya terus memaksanya. Bahkan tak segan-segan ayahnya selalu memberikan ancaman untuk menundukkan Sabian.


“Bisa enggak sih gak usah ngancem terus! Daripada semua fasilitas ditarik mending Bian di coret aja dari silsilah keluarga. Biar aja Bian hidup di kolom jembatan sekalian!” komentar Bian yang merasa tersakiti karena harus terus mengikuti ucapan Neneknya


“Ya udah, kalau emang kemauan kamu mau jadi gelandangan enggak apa-apa. Ayah cari anak orang aja yang mau diangkat jadi anak!” timpal ayahnya yang kemudian berlalu meninggalkan Sabian di teras


“Ayah!” teriak Sabian.


“Maaf, nenek enggak ikut-ikutan.” Neneknya pun berlalu meninggalkan Sabian yang kini tinggal seorang diri.

__ADS_1


“Argh ... sialan!” Sabian mengumpat. Terpaksa Sabian pun juga ikut masuk untuk bersiap untuk mengikuti acara makan malam.


Karena ulah Sabian, keluarga Pak Abdullah harus menunggu selama hampir tiga puluh menit. Namun, pak Abdullah merasa tidak masalah dan memakluminya, karena ayah Sabian memang orang yang sangat sibuk. Bisa meluangkan waktu sebentar saja sudah bersyukur.


“Assalamualaikum ... maaf kami telat,” ujar Raka ketika telah sampai di meja tempat pak Abdullah menunggu. Disana sudah ada Pak Abdullah bersama dengan istri dan dua orang putrinya.


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Enggak apa-apa, Pak. Kami juga belum lama sampainya. Silahkan duduk, Pak ... Bu ... ” Dengan sopan Pak Abdullah menyerahkan Raka dan juga ibunya untuk duduk.


Keduanya berbincang-bincang sebentar untuk menunggu Sabian yang belum sampai, karena Sabian memilih untuk menggunakan motor kesayangannya.


“Wah ... putri pak Haji cantik-cantik semua ya. Tapi ngomong-ngomong Aluna yang mana ya?” tanya neneknya Sabian yang terkagum akan dua gadis cantik di depannya.


Dengan senyum kecil salah seorang putri Pak Abdullah mengangguk pelan. “Saya Luna, Nek.”


“Kalau saya Zura, Nek,” timpal adik Aluna.


Dua-duanya sangat cantik, tetapi hanya satu yang akan dijodohkan untuk Bian. Dalam diam, nenek Bian merasa bimbang untuk memilih antara Aluna atau Zura.


“Masya Allah, kalian cantik semua.”


Tak lama Sabian telah sampai di tempat yang pertemuan. Karena matanya bisa menangkap keberadaan sang ayah dan neneknya, dia pun segera menuju ke tempat mereka yang telah menunggunya.


“Maaf, Bian telat,” ujar Bian yang langsung mengambil tempat duduknya.


“Kok malah langsung duduk? Salim dulu sama pak haji!” titah neneknya. Dengan patuh, Sabian menyalami pak Abdullah bersama dengan istri. Namun, saat ingin bersalaman dengan kedua putrinya, mereka berdua menolak untuk berjabat tangan dengan Bian.


“Belagu banget, sih!” gerutu Sabian dengan pelan .


“Bian, apakah kamu masih ingin dengan pak haji Abdullah ini? Dulu semasa kecil pak haji Abdullah ini adalah guru ngajimu. Dan mereka berdua adalah putrinya Aluna dan juga Zulfa. Nah, jadi ... Nenek dan pak haji udah sepakat untuk menjodohkan kamu sama Aluna,” jelas neneknya langsung pada intinya.


Seketika bola mata Sabian langsung membulat dengan lebar karena terkejut dengan ucapan Neneknya. “Apa? Bian mau di jodohkan? Ya ampun Nek ... ini udah jaman modern! Udah enggak jaman lagi acara perjodohan. Enggak Bian enggak mau!” protes Sabian.


Nenek Bian sangat terkejut dengan pengakuan Bian. Namun, dengan cepat dia berusaha untuk tetap mencairkan suasana.


“Pak haji, maafkan Bian ya. Dia mungkin hanya sedang terkejut saja. Tolong tidak usah diambil hati. Bian pasti setuju, kok,” ucap neneknya.


“Nek!” Bian memprotes sang nenek, tetapi malah langsung dipelototi oleh neneknya.

__ADS_1


Enggak benar ini! Masa iya aku dijodohkan sama anaknya pak haji. Nenek sama ayah bener-bener keterlaluan.


...####...


__ADS_2