Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 45


__ADS_3

“Iza,” gumamnya dengan pelan.


Iza yang sedang berjalan bersama dengan Azam langsung menoleh ke samping saat semar-sabar mendengar namanya disebut oleh seseorang.


“Hanaf.”


Ais langsung menautkan kedua alisnya karena terheran dengan dua insan yang terlihat seperti sedang terkejut. Terlebih disamping Iza ada Azam yang juga menatapnya dengan lekat.


“Mas Hanaf kenal sama Iza?” tanya Ais yang melihat Hanafi menatap Iza tanpa berkedip.


Mendengar pertanyaan Ais, Hanafi langsung membuang pandangan dan segera melanjutkan langkahnya. Tak lupa dia juga menggenggam tangan Ais untuk melewati Iza dan juga Azam yang masih terdiam ditempatnya.


“Mas Hanaf kenal sama Iza?” Ais mengulangi pertanyaannya lagi.


“Iya. Iza teman semasa kuliah.”


“Oh .... ” Ais menganguk dengan pelan. Namun, ada rasa nyeri di dalam dadanya. Mungkinkah Iza adalah bagian dari masa lalu Hanafi?


“Kamu tidak usah berpikir macam-macam. Antara aku dengan Iza tidak ada hubungan apa-apa. Kamu adalah istriku, tempatmu tetap di hatiku. Ya, meskipun pernikahan ini terjadi karena sebuah kesalahan, tetapi aku akan berusaha untuk menjadi suami yang terbaik untuk kamu. Bisakah kamu juga berjanji kepadaku untuk menjadi istri yang baik dan melupakan luka di masa lalu?”


Mata Ais langsung berkaca-kaca karena terharu dengan ucapan Hanafi. Dia tidak menyangka jika Hanafi memegang teguh pernikahannya, meskipun terjadi karena sebuah kesalahan pahaman saja. Bahkan pria itu dengan lapang menerima Ais, meskipun belum ada cinta diantara keduanya.


“Mas Hanaf, terima kasih,” ucapnya dengan pelan.


...***...


Azam yang merasa kesal saat melihat sang mantan bersama dengan suami barunya memilih untuk pulang, padahal mereka belum sempat masuk untuk ke supermarket. Iza sudah bisa menebak mengapa Azam memilih pulang. Tentu saja karena Ais.


Iza tahu jika cinta yang dimiliki Azam untuk Ais belum pudar. Bahkan sampai detik ini dia belum bisa menggantikan sosok Ais di hati Azam.

__ADS_1


Dadanya terasa sesak. Rasanya ingin menyerah dari sandiwara yang sedang dia perankan. Namun, lagi-lagi dia harus memikirkan nasib orang tuanya.


Menikah dengan orang yang belum lepas dari masa lalu itu sangatlah menyakitkan. Yang disesalkan oleh Iza, mengapa Azam mau menikahinya jika masih mencintai Ais.


“Mas Azam, apakah kamu masih mencintai Ais?” tanya Iza dengan keberaniannya. Jujur Iza merasa shock saat dia tahu bahwa Ais menikah dengan orang dari masa lalunya.


Entah sudah berpisah berapa lama dan ketika dipertemukan kembali ternyata pria itu telah beristri. Dan yang membuat Iza tak habis pikir, istri dari orang dari masa lalunya adalah mantan istri dari suaminya. Iza merasa dunia terasa sempit saat dia harus dihadapkan dengan kenyataan yang ada.


Aku menikahi pria yang dicintai oleh Ais dan Ais menikahi pria yang aku cintai. Apakah dunia ini terlalu sempit? Ataukah ini adalah sebuah karma karena aku telah mengambil apa yang bukan milikku? Tetapi aku tidak mengambilnya. Mama Maya yang menyuruhku untuk menikah dengan putranya, tanpa memberi tahu jika ternyata sang putra telah beristri.


Azam yang fokus pada stiker kemudinya langsung menoleh kepada Iza yang mengajukan pertanyaan padanya. “Seharusnya tanpa kamu bertanya kamu sudah tahu jawabannya.”


Iza menghela napas panjang. Kini hatinya semakin terasa sesak. Entah sampai kapan dia bertahan dalam pernikahan yang menyakitkan itu.


“Iya. Maaf, Mas.”


Ais, mengapa tiba-tiba aku malah menjadi iri denganmu? Aku yakin Hanaf akan mencurahkan kasih dan sayangnya untukmu, karena dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Kamu benar-benar wanita yang sangat bersyukur, Ais.


“Belum tau, Mas. Tapi Mama Maya sempat mengatakan akan pulang dalam minggu-minggu ini, karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan,” jelas Iza.


Mobil yang dikemudikan oleh Azam pun melaju dengan kencang untuk membelah jalanan yang tidak terlalu padat. Rasanya ingin tenggelam ketika menyesali apa yang telah terjadi. Namun, sayang nasi telah menjadi bubur. Azam tak bisa mengembalikan apa yang pernah menjadi miliknya.


Tak berapa lama, mobil pun telah mendarat disebuah rumah sederhana. Rumah yang dia sewa untuk sementara waktu. Dengan langkah cepat, Azam langsung masuk kedalam rumah untuk menemui mamanya yang masih tinggal di rumah.


“Ma ... Mama!” panggil Azam dengan nada tinggi.


Iza yang masih berada di mobil merasa terheran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Azam. Tak seperti biasanya pria itu memanggil namanya dengan keras. Karena merasa penasaran, Iza langsung menyusul Azam untuk masuk kedalam rumah.


“Mama!” Azam masih memanggil mama Maya yang belum menyahut.

__ADS_1


“Mas, Azam. Apa apa? Kenapa Mas Azam manggil mama dengan suara keras?” tanya Iza yang merasa sedikit ketakutan.


“Kamu diam aja! Enggak usah ikut campur, karena ini adalah urusanku dengan mama!” sentak Azam.


Iza langsung terdiam. Jika Azam sudah marah, pria itu terlihat menakutkan.


Wanita yang sejak tadi dipanggil oleh anaknya, kini keluar dari dalam kamar sambil mengucek matanya. “Azam, ada apa sih?”


Mata Azam langsung menatap lekat pada wanita yang dipanggil mama. Wanita yang telah melahirkan dirinya, wanita yang selalu dihormati dan wanita yang mempunyai surga. Namun, untuk kali ini Azam benar-benar tidak bisa menahan amarahnya.


“Ma, Mama harus bertanggung jawab dengan pernikahan Azam dan Ais yang telah hancur. Semua itu karena mama! Mama yang tidak bisa bersabar untuk sebentar saja. Mama yang egois karena hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa mau memikirkan orang lain. Sekarang Mama puaskan melihat Azam hancur?” teriak Azam di depan mamanya.


Mama Maya merasa sangat terkejut dengan Azam yang telah berani berteriak di depannya. Padahal selama ini Azam adalah anak yang penurut. Namun, entah apa yang terjadi mengapa tiba-tiba Mama Maya merasa jika itu Azam.


“Azam, kamu kenapa?” tanyanya dengan heran. “Iza, ada apa dengan Azam?”


Iza yang berada di belakang Azam hanya bisa menggeleng dengan pelan karena dia juga tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Azam, mengapa tiba-tiba dia marah pada mamanya.


“Iza enggak tahu, Ma.”


“Mama ingin cucu kan? Oke, Azam akan kabulkan. Tapi dengan satu syarat, mama harus melimpahkan semua harta yang memiliki untuk Azam, tanpa terkecuali. Tapi setelah Mama mendapatkan apa yang Mama inginkan, maaf, Azam harus segera menceraikan Iza!”


Iza yang berada di belakang Azam langsung terbelalak dengan lebar ketika mendengar kata cerai. Meskipun dia memang menginginkan perpisahan, tetapi rasanya terlalu sakit saat dia mendengar langsung dari bibir Azam.


Plaaak!


Satu tamparan mendarat di pipi Azam. “Keterlaluan kamu Azam!” bentak mamanya.


Azam meringis pelan saat merasakan sedikit rasa memar di pipinya. Rasanya tidak sebanding terasa sakit di hati saat melihat Ais telah menjadi milik orang lain.

__ADS_1


...###...


__ADS_2