
Seperti biasa, Ais tidak diizinkan pulang sendiri menggunakan ojek ataupun taksi. Dia harus menunggu jemputan sang suami, meskipun terkadang dia harus menunggu satu jam lamanya, jika dia pulang lebih awal. Begitu juga dengan sang suami yang akan Ais berjam-jam ketika Ais pulang lama.
Berjalan gontai menyusuri lorong kampus seorang diri, karena sudah hampir tiga hari Jelita tidak masuk dan tidak ada kabar. Bahkan saat dihubungi, nomernya juga tidak aktif. Tentu saja membuat Ais bertanya-tanya.
“Tumben banget Lita enggak ada kabar sampai tiga hari. Kenapa dia, ya? Apakah dia sakit?”
Karena merasa penasaran dengan sahabatnya yang tidak ada kabar, Ais perencanaan untuk Lita untuk memastikan keadaannya. Biar bagaimanapun Lita adalah satu-satunya teman dekat yang dimiliki.
Baru saja keluar dari gerbang kampus, netranya sudah menangkap mobil milik suaminya parkir di dekat halte bis. Dengan cepat Ais pun segera berlari pelan untuk mendekat ke mobil Hanafi.
Hanafi yang memantau Ais dari kaca spion langsung membulatkan mata dengan lebar. Karena merasa Ais dianggap membahayakan diri sendiri dan juga calon buah hatinya, Hanafi segera keluar dan berteriak kepada Ais untuk tidak berlari, sekalipun hanya berlari kecil.
“Ais, berhenti!”
Ais yang mendengar pun tiba-tiba langsung berhenti di tempat. Dia heran saat Hanafi menghentikan langkahnya untuk masuk kedalam mobil.
“Mas Hanaf ... ,” gumam Ais.
Hanafi segera bergegas untuk mendatangi Ais yang berdiri ditempat. Rasanya ingin berteriak dengan sangat becau ketika dia mengabaikan pesan yang pernah dikatakan kepada Ais jika mulai saat itu Ais tidak diizinkan lagi untuk berlari-lari, karena itu bisa membahayakan calo buah hatinya.
“Ais ... kenapa kamu lari? Nanti kalau kesandung dan jatuh gimana? Sekarang ini kamu sedang hamil jadi kamu harus bisa menjaga diri jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” ujar Hanafi penuh kekhawatiran.
Ais hanya bisa menghela napas panjang. Dan segera meminta maaf pada suaminya, jika tidak mau masalah akan semakin panjang dan Ais akan mendengarkan nasehat demi nasehat dari bibir suaminya. Memang diakui setelah mengetahui istrinya hamil, pria itu menjadi lebih produktif.
“Iya, Mas. Maaf Ais lupa. Ua udah ayo pulang? Ais janji enggak akan ulangi lagi.”
__ADS_1
Puas dengan jawaban istrinya, Hanafi pun segera membukakan pintu mobil untuk istrinya. “Pelan-pelan,” ucapnya saat Ais hendak naik.
Ais hanya bisa menggelengkan kepalanya. Entah mengapa suaminya lebih protektif. Mungkinkah masalah akan seperti suaminya saat sang istri sedang hamil atau ini hanya sifat Hanafi yang terlalu mengkhawatirkan dirinya. Namun, sejauh ini Ais merasa bahagia karena dia mendapatkan perhatian lebih dari suaminya, meskipun selalu berlebihan.
“Mas, kita singgah sebentar ke rumah Lita dulu, ya! Dia udah 3 Hari enggak masuk kuliah dan juga enggak bisa dihubungi. Ais hanya ingin memastikan bagaimana keadaan Lita. Mas Hanaf enggak lupa jalannya, kan?”
“Oke, kita singgah ke rumah teman kamu. Tapi kita makan siang dulu, ya! Aku lapar.”
Ais pun mengangguk dengan pelan untuk mengiyakan keinginan suaminya. Kebetulan dia juga lapar, karena setelah sarapan tadi pagi perutnya belum diisi makanan lain.
“Makan bakso ya, Mas!” celetuk Ais.
“Bakso enggak mengembangkan perut. Makan nasi lah!”
Helaan napas panjang pun terdengar begitu berat. Dengan penuh rasa keterpaksaan Hanafi mengalah dan mencari warung bakso yang. Memang setelah hamil istrinya jarang mau makan nasi bahwa mau satu harian perutnya tidak diisi oleh makan pokok orang Indonesia. Namun, jangan ditanya lagi apa saja yang masuk kedalam perut selain nasi.
“Baiklah, kita makan bakso.”
***
Kabar tentang Bian mengunci gurunya di dalam kamar mandi kini telah terdengar di telinga ayahnya. Entah siapa yang memberitahu ayahnya. Bahkan Bian juga merasa heran, karena akhir-akhir ini sang ayah sangat peduli dengan masalahnya.
“Duduk!” kata ayahnya dengan ketus.
Sabian yang baru saja masuk ke dalam rumah langsung membulatkan matanya dengan lebar ketika melihat sang ayah telah duduk di sofa ruang tamu. Bian benar-benar sangat terkejut karena tidak biasanya sang ayah telah berada di rumah saat hari masih siang.
__ADS_1
“Ayah. Tumben udah pulang?”
Sang ayah menatap tajam kearah Sabian tangan yang dilipat di depan dadanya. “Duduk kata Ayah!”
Seketika Sabian mencium aroma-aroma yang mematikan. Sudah bisa dipastikan jika ayahnya sedang marah. Tanpa kata, Sabian pun langsung menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di sofa. “Ada masalah apa, Yah? Jangan marah-marah terus! Kena stroke baru tahu rasa!”
“Bian!” sentak ayahnya. “Bisa enggak kamu itu enggak buat masalah? Baru juga kemarin Ayah ngasih tahu kamu, tapi sepertinya tidak kamu pedulikan sama sekali. Sebenarnya kamu masih niat ingin sekolah atau tidak. jika memang kamu sudah merasa bosan katakan saja, biar ayah langsung kirim kamu ke pesantren!” ujar Ayahnya dengan geram.
“Ayah kenapa sih, pulang-pulang langsung marah? Kalau ada masalah pribadi jangan pelampiaskan kepada Bian. Bian enggak tahu apa-apa!”
Rasanya ingin meluapkan seluruh amarahnya pada darah dagingnya yang semakin hari semakin menggeramkan. Andaikan saja dia tak pernah berjanji pada mendiang istrinya, mungkin saja Raka sudah menghajar Sabian sepuasnya. Namun, karena pernah berjanji akan menjaga Sabian dengan penuh cinta dan kasih, Raka tak tidak biasa meluapkan kemarahannya langsung kepada anaknya. Dialah satu-satunya bukti cinta dengan mendiang istrinya, jadi sebisa mungkin Raka akan tetap menahan amarahnya.
“Enggak tahu apa-apa? Kamu pikir ayah buta dan tuli? Asal kamu tahu, ayah sudah menempatkan orang kepercayaan Ayah untuk mengawasimu di sekolahan, jadi apapun yang kamu lakukan di sekolah Ayah tahu semuanya termasuk dengan kamu mengunci guru kamu di tengah kamar mandi. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan, Bian? Kamu masih waras kan, Bian?”
Seketika Sabian langsung terperanjat dengan bola mata yang membulat dengan lebar saat mendengar ucapan ayahnya jika saat ini ada orang kepercayaan yang sedang mengawasinya di sekolah. Itu artinya orang yang mengadu kepada ayahnya bukanlah guru baru itu melainkan orang mata-mata dari ayahnya?
“Apa ayah bilang? Ayah mengirim seseorang untuk mengawasi Bian?” tanya Bian dengan rasa tidak percaya.
“Iya. Kenapa, kamu keberatan? sebenarnya niat Ayah menempatkan orang kepercayaan Ayah itu hanya untuk memastikan pergaulanmu di sekolahan sana. Namun di luar dugaan ternyata Ayah menemukan fakta-fakta yang kamu sembunyikan selama ini. Sejak kapan kamu jadi brandalan sekolahan? Ayah malu, Bian. Malu!”
Sabian akhirnya bungkam. Dia tidak bisa membela diri, karena ayahnya sudah mengetahui apa yang dia lakukan di sekolahan. Namun dalam relung hatinya dia langsung merasa bersalah karena telah mengunci ibu gurunya hanya karena berpikir jika guru baru itulah yang mengadu pada ayahnya. Ternyata ada pihak lain yang sedang mengawasinya.
“Ayah juga mendengar jika selama ini kamu tidak pernah mengerjakan PR ataupun mengikuti pelajaran dengan baik. Oleh sebab itu mulai besok ayah akan memanggil guru les untuk mengajari kamu di rumah. Jika kamu tetap tidak bisa berubah, ayah tidak akan segan-segan untuk langsung mengirimmu ke pesantren!”
...###...
__ADS_1