
Ternyata usaha Ais untuk menghubungi ibu mertuanya tidak membuahkan hasil karena, panggilannya sama sekali tidak diangkat panggil telponnya. Dengan terpaksa, Ais pun naik ke mobil Hanafi dengan jantung yang berdebuk dengan sangat kencang. Ais takut jika suaminya mengetahui lebih awal jika sat ini dia sedang hamil. Jika sampai itu terjadi maka rencana ibu mertuanya akan gagal total. Namun, disaat seperti ini Ais tidak bisa berbuat apa-apa, selain kata pasrah.
“Ais, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?” tanya Hanafi disela-sela menyetirnya.
Ais langsung menoleh kearah Hanafi yang masih fokus dengan setir kemudinya. “Maksud Mas Hanaf, apa?”
“Kamu tidak usah berpura-pura, karena aku tahu jika saat ini kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Ais, tolong jangan warnai rumah tangga kita dengan sebuah kebohongan, sekalipun itu hanya kebohongan kecil. Aku tidak mau karena kebohongan kecil bisa melunturkan kepercayaanku padamu.”
Seketika Ais menelan kasar salivanya. Dadanya kembali bergabung dengan yang sangat kencang, karena dia takut jika kepercayaan yang dimiliki Hanafi benar-benar luntur.
__ADS_1
“Tapi aku tidak menyembunyikan apa-apa, Mas? Memangnya aku menyembunyikan tentang apa?”
“Tentang penyakit kamu, Ais! Sebenarnya kamu sakit apa? Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Iya kan?”
Mas ... sebenarnya ini bukan penyakit yang serius, karena akan hilang saat kehamilanku memasuki trimester kedua. Ini hal yang wajar untuk wanita hamil di trimester pertama. Sebenarnya ini sekali aku mengatakan kepadamu jika saat ini aku sedang hamil ,akan tetapi ibu masih melarangku untuk memberitahumu karena ibu ingin memberikan kejutan untukmu. Tapi aku rasa setelah melakukan pemeriksaan nanti semua akan terungkap. Ibu ... maafkan Ais.
“Ais, kenapa diam? Apakah benar tebakanku jika kamu memang sedang menyembunyikan sebuah penyakit yang serius kepadaku, kan? Agar aku tak mengkhawatirkan keadaanmu. Bukan begitu?” Lagi-lagi Hanafi menekan Ais untuk berkata jujur.
“Lho ... kok jadi bawa Iza, sih? Kan kita lagi bahas masalah penyakit kamu,” balas Hanafi dengan kedua alis yang menaut.
__ADS_1
“Kan Iza mantannya Mas Hanaf,” celetuk Ais dengan sinis.
Hanafi pun langsung terbelalak dengan rasa keterkejutannya. Mengapa Ais bisa tahu jika Iza adalah bagian dari masa lalunya. Apakah ibunya telah bercerita tentang Iza kepada Ais.
Helaan napas berat pun terdengar begitu panjang. “Pasti ibu udah cerita sama kamu tentang Iza. Hubunganku dengan Iza telah usai lama dan sekarang kita sudah punya keluarga masing-masing, jadi biarkanlah masa lalu itu terkubur pada tempatnya, karena sekarang ada masa depan yang harus di perjuangkan.”
“Terus kenapa Mas Hanaf enggak bilang kalau Iza juga ngajar di sekolah tempat Mas Hanaf? Apakah yang merekomendasikan Iza adalah Mas Hanaf? Apakah ini adalah rencana Mas Hanaf agar bisa dekat kembali dengan Iza? Mas Hanaf jahat!” Tiba-tiba saja Ais menangis, membuat Hanafi terheran dengan sikap Ais yang berubah-ubah.
Aku semakin yakin jika Ais memang sedang kerasukan penghuni kampus, karena aku tahu Ais tidak akan bersikap seperti ini. Ais yang aku kenal adalah sosok yang tegas dan mandiri bahkan sama sekali tidak mempunyai sifat cemburu dan kekanak-kanakan seperti ini. Sepertinya aku harus meminta bantuan kyai untuk meruqyah Ais.
__ADS_1
...###...
...( Makasih atas bunga, kopi dan vote yang kalian berikan. Semoga kebaikan kalian Allah yang membalasnya 💜 )...