Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 95


__ADS_3

Bian mengetuk pintu rumah kontrakan yang ditempati oleh Iza, tetapi hasilnya nihil. Iza memang tidak ada di rumah itu. Bian menjambak rambutnya kasar karena merasa sangat bersalah kepada wanita itu. Pasti saat ini gurunya itu telah pergi untuk menepati janjinya. Jika sudah seperti ini, Bian tidak tahu akan mencarinya kemana lagi.


“Ya ampun ... Bu Iza pergi kemana, ya?”


Karena tidak menemukan keberadaan Iza, Sabian pun memutuskan untuk tetap mencarinya, sekalipun Sabian tak mengetahui kemana perginya Iza. Sungguh pikiran Sabian tidak bisa tenang sebelum bisa menemukan dimana ibu Iza-nya berada.


Motor yang dikendarai oleh Sabian pun langsung melaju meninggalkan untuk kompleks tempat Iza tinggal. Tak ada tujuan karena Sabian tidak tahu akan mencari Iza kemana. Dan pada akhirnya Sabian pun memutuskan untuk nongkrong sejenak bersama dengan teman-temannya. Mungkin dengan begitu pikiran dan rasa bersalahnya akan hilang.


“Bi ... tumben kamu keluar rumah? Lagi berantam sama ayahmu, ya?” tebak Gala yang sudah berada di tempat tongkrongan mereka.


Sabian menyambar minuman yang berada di tangan Gala. “Sok tahu!”


“Bukan sok tahu, tapi bukan rahasia umum lagi. Tanya aja sama anak-anak yang lain. Kamu tuh enggak akan keluar rumah kalau enggak ada masalah. Iya kan!”


Sabian menghela napas panjangnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Gala jika Sabian tidak akan keluar rumah jika tidak ada masalah yang urgent. Dia lebih memilih menghabiskan waktunya si rumah dengan bermain game di ponselnya.


“Sebenarnya ada apa, sih? Aku perhatikan dari tadi di sekolahan mukamu lecek kayak gitu?” tanya Gala ingin tahu.


Sabian hanya melirik Gala sambil membuang napas beratnya. “Bukan urusanmu!”


“Ya udah ... daripada suntuk, gimana kalau kita ikut balapan anak-anak sebelah. Mungkin dengan cara seperti itu kamu enggak galau lagi!” tawar Gala.


Tanpa pikir panjang, Sabian pun menyetujui tawaran Gala, karena memang sudah lama dia tak pernah ikut balapan lagi.


“Ya udah, ayo!”


***


Sebenarnya tidak ada niatan untuk menghilang. Hanya saja saat ini Iza harus pulang ke rumah orang tuanya karena saat ini ibunya sedang sakit dan masuk rumah sakit. Karena sibuk untuk mengurus ibunya, Iza pun tak sempat untuk memegang ponsel. Sebagai anak tunggal, dia harus bisa mengurus orang tuanya sekaligus menguatkan menguatkan ayahnya.


“Iza, beristirahat! Ayah tahu kamu pasti lelah telah menjaga ibumu satu harian!” kata Ayahnya yang mendekat kearah Iza.

__ADS_1


Iza tersenyum kecil pada pria paruh baya yang berusaha mendekat dengan usahanya sendiri. Ya, dia adalah ayah Iza yang berada diatas kursi roda.


“Ayah ... Iza enggak apa-apa. Iza enggak lelah kok. Ayah kenapa nyusul ke rumah sakit? Terus Ayah ke sini sama siapa?” tanya Iza yang kini menyambut ayahnya dan mencoba untuk menyalami ayah tercinta.


“Ayah minta tolong sama Mbak Diah. Kebetulan dia juga sedang ada urusan di rumah sakit ini. Apakah kamu sudah makan, Nak? Maafkan Ayah yang tidak berguna ini. Seharusnya ayah yang mengurus ibu, bukan kamu.”


“Ayah ... Ayah ngomong apa sih? Ibu adalah ibunya Iza. Bagaimana pun sudah menjadi tugas dan kewajiban Iza untuk merawatnya. Tolong Ayah jangan menyalahkan diri ayah sendiri. Kalian berdua adalah surganya Iza.”


“Kalau begitu biar sekarang gantian Ayah yang menjaga ibu kamu. Kamu istirahat dulu aja. Jangan lupa makan! Ayah enggak mau karena merawat ibu yang sakit, kamu juga ikutan sakit!”


Iza pun mengangguk pelan. Baginya tak ada rasa lelah untuk menjaga dan merawat orang tuanya, karena pengorbanan mereka tidak akan pernah bisa terbalaskan, terlebih ibunya yang pernah bertaruh nyawa demi melahirkan dirinya.


“Ya udah, Iza sholat ashar dulu, ya! Nanti kalau ada apa-apa panggil aja susternya.”


Ayah Iza hanya bisa mengangguk. Sebagai seorang ayah tentu saja dia akan selalu menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa diandalkan. Yang ada hanya membuat beban karena dia yang tidak bisa apa-apa.


Setelah keluar dari ruang rawat ibunya, Iza segera menghela napas panjangnya. Sebenarnya tubuhnya terasa lelah, akan tetapi


Baru saja dibuka, bola mata Iza langsung terbelalak dengan lebar. Dilihatnya sudah banyak notifikasi yang mengambang di layar ponselnya.


“Astaghfirullahaladzim! Mengapa aku sampai lupa tidak memberitahu mereka, ya.”


Satu bersatu Iza membuka notifikasi yang telah masuk ke ponselnya. Dari mulai kepala sekolah, beberapa rekan guru yang menanyakan keadaannya, termasuk juga Hanafi. Ada juga pesan dan panggilan dari Raka. Namun, yang membuat Iza tidak habis pikir adalah pesan dan panggilan dari Sabian yang melewati hampir 100 panggilan tak terjawab dan hampir 50an pesan.


Iza benar-benar lupa jika hari ini adalah hari pertama masuk sekolah lagi setelah dua Minggu libur. Karena tidak ingin membuat semua orang mengkhawatirkan dirinya, Iza pun langsung menghubungi satu persatu pesan yang telah masuk ke ponselnya. Termasuk juga membalas pesan dari Sabian. Namun, ternyata saat di balas pesannya hanya centang satu. Itu artinya ponsel Sabian sedang tidak aktif.


“Duh ... kok malah jadi ngerasa enggak enak sama Bian ya. Dia pikir aku pergi karena kesepakatan hari itu. Padahal sebelumnya Bian sudah memutuskan untuk membatalkan perjanjian itu. Duh ... kenapa juga gak dari tadi aku ngecek hape ini, sih? Kira-kira sekarang Bian lagi apa, ya? Jangan bilang dia lagi nyari aku!”


Entah mengapa dari sekian pesan yang masuk ke dalam ponselnya Iza hanya merasa bersalah pada Sabian. Padahal pesan dari Raka, ayah Sabian pun juga ada. Mungkin karena kata-kata yang Bian kirimkan terlalu menyentuh hatinya.


***

__ADS_1


Di tempat lain Sabian sudah memainkan gas motornya dengan kencang, karena beberapa detik lagi start akan di mulai. Setelah sekian lama tidak mengikuti acara balapan liar, kini Bian akhirnya Bian ikut lagi. Berharap saja kali ini tidak akan tertangkap Satpol-PP.


“Siaaaaap .... 3 ... 2 ... saa ... tu!” Sebuah bendera kecil pun diterbangkan sebagai pertanda jika balapan dimulai.


Teriakan serta sorak-sorak dari penonton terdengar begitu meriah. Namun, meskipun Sabian jarang mengikuti balapan, tetapi suara pendukungnya terdengar sangat banyak. Tak akan ada satu orangpun yang tidak mengenalnya, karena sebelumnya Sabian pernah aktif mengikuti setiap ada balapan liar. Namun, beberapa bulan terakhir ini mendadak Sabian menjadi anak rumahan yang jarang sekali ikut nongkrong bersama dengan teman-temannya.


Untuk sejenak Sabian melupakan rasa bersalahnya. Dia benar-benar menikmati balapan yang sudah lama mengikutinya. Menang atau kalah, Bian tidak peduli yang penting dia bisa menghibur diri.


Di saat yang bersamaan, ayah Bian hampir melemparkan ponselnya karena sudah berpuluh kali dia menghubungi Sabian tetapi tak satupun panggilannya diangkat. Padahal sebelum Sabian pergi sang ayah sudah berpesan agar jangan lama-lama, karena malam ini akan ada acara makan malam dengan keluarga haji Abdullah.


“Gimana, Ka?” tanya ibunya.


“Enggak juga diangkat, Bu.” Raka menghela napas panjangnya.


“Kemana tuh anak ya?” sambung neneknya. “Apakah kamu sudah mencoba untuk menghubungi teman-temannya?”


“Udah, Bu. Tapi sama aja, enggak ada jawaban.”


“Apa mungkin Sabian ikut balapan lagi, Ka?” tebak neneknya.


“Enggak mungkinlah, Bu! Ibu kan tahu sendiri kalau Bian udah lama enggak main balapan lagi,” timpal Raka.


“Terus gimana dong, Ka? Mana tinggal satu jam lagi acaranya. Jangan sampai pertemuan pertama ini membuat kecewa di hatinya Pak Abdullah. Bisa-bisa dia tidak mempercayai kita dan membatalkan perjodohan Bian sama anaknya.”


“Ibu tenang aja perjodohan itu tidak akan akan batal. Raka akan cari Bian sekarang juga.”


...###...


...Pelan-pelan ... jodoh Bian lagi otw hihihi...


__ADS_1


Sabian


__ADS_2