
Ais yang dianggap kurang kerjaan pun akhirnya dibawa pulang oleh ibunya Hanafi dan diajak masak bersama. Hobi dua orang yang sama membuat keduanya semakin dekat dan akrab. Bahkan Ais sudah tak canggung lagi saat berhadapan dengan ibunya Hanafi.
"Ternyata selain cantik kamu juga pandai masak ya, Ais," puji ibunya Hanafi.
Ais tersipu malu. "Enggak terlalu pandai, hanya saja saya suka masak, Bu."
"Ya sama aja. Intinya kamu pandai masak. Pasti calon suami kamu nanti bakalan betah makan di rumah."
Seketika wajah Ais menegang, karena tanpa sengaja ibunya Hanafi mengingatkannya pada Azam, yang dulu selalu menikmati masakannya.
Sebisa mungkin Ais mencoba untuk tetap tersenyum. Dia tidak ingin membuat ibunya Hanafi merasa bersalah atas ucapan.
"Ah, ibu bisa aja."
"Beneran lho, Ais. Apalagi masakanmu juga enak. Kalau sedang libur kuliah, main kesini ya! Kita masak bareng. Ajari ibu masakan khas kota kamu."
"Insyaallah, Bu."
Siapa pun yang sudah mengenal Ais, pasti akan langsung jatuh cintanya. Bukan karena wajahnya yang cantik, tetapi hatinya yang lembut.
__ADS_1
Ibu Hanafi yang sudah jatuh hati pada Ais, sebisa mungkin berusaha untuk mendapatkan hatinya. Mungkin dengan cara seperti itu Ais bisa membuka pintu hatinya untuk Hanafi.
"Ais, sekarang kamu udah semester berapa?" tanya ibu Hanafi secara tiba-tiba.
"Ais baru mau masuk semester keempat, Bu. Ada apa, ya?"
"Oh, enggak apa-apa kok. Ibu cuma tanya aja."
Baru mau masuk semester keempat, berarti harus nunggu dua tahun lagi. Semoga saja selama dua tahun kedepan Hanafi belum menemukan jodoh. Ya Allah, jodohkanlah Hanafi dengan Ais. Ais adalah wanita yang baik, tak seharusnya mendapatkan perlakuan yang tidak adil seperti ini.
Selama berada di rumah Hanafi, bukan hanya memasak saja yang Ais lakukan, terapi dia juga ikut ibunya Hanafi menata kebun kecil yang ada didepan rumah.
Awalnya Ais hanya sekedar melihat-lihat tanaman milik ibunya Hanafi, tetapi saat melihat ibunya Hanafi sedang memindahkan tanaman yang sudah mati, akhirnya Ais pun turut membantu hingga keduanya memutuskan untuk menata lagi kebun kecil yang sudah lama tak dirawat.
"Iya, Bu. Di rumah ibu halaman rumah hampir penuh dengan semua bunga."
"Wah ... kita sama, Ais. Ibu juga sangat suka dengan tanaman, tapi karena ibu jarang di rumah jadi ya kayak gini ... gak terawat lagi."
Baru saja Ais mengangkat sebuah pot, tiba-tiba sebuah motor masuk ke halaman rumah dan berhenti tepat di depan teras. Karena Ais tidak tertarik untuk mengetahui siapa yang datang, dia memilih fokus memindahkan pot yang telah tak dipakai lagi.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Suara yang begitu familiar yang seketika menggetarkan dada Ais. Dan saat dilihat, ternyata itu adalah Hanafi.
"Walaikumsalam."
Hanafi langsung mendatangi ibunya untuk menyalami wanita yang telah melahirkannya.
"Lho, Ais kok ada disini?" Hanafi terheran ketika melihat Ais sedang bersama dengan ibunya.
"Ah, iya. Ibu gak sengaja nemuin Ais di pasar. Karena Ais lagi libur kuliah, ya ibu bawa pulang aja. Tadi ibu ajak Ais untuk masak bareng. Ternyata Ais dan ibu mempunyai banyak kesamaan lho, Han." cerita ibunya Hanafi.
"Nemu? Memangnya Ais kucing?"
"Huss .... ngomong apa? Masa Ais disamain sama kucing!" Ibu Hanafi langsung menapak lengan anaknya. "Ais, jangan diambil hati ya ucapan Hanaf. Dia orangnya emang kayak gitu. Kelihatannya aja dingin, datar, kaku. Tapi aslinya dia normal kok. Suka bercanda."
Ais tersenyum kecil. "Iya, Bu. Enggak apa-apa. Ais enggak tersungging kok."
"Ya udah, mumpung Hanafi udah pulang, gimana kalau kita makan bareng aja!" cetus ibu Hanafi.
"Ah, enggak usah Bu. Ais pulang aja," tolak Ais.
__ADS_1
"Gak boleh gitu. Kan kamu udah capek-capek masak. Udah ayo masuk sana! Cuci yang bersih tangannya!"
......***......