
Sebenarnya siang ini Ais sudah berjanji pada Hanafi ingin mencari perlengkapan untuk rumah barunya, tetapi dia harus menundanya, karena harus mengantarkan mas Adam ke Bandara.
Sebenarnya sangat berat untuk melepaskan sang kakak pindah, tetapi Ais tak punya kuasa untuk mencegahnya.
“Hanaf, aku titip Ais. Tolong jangan sakiti dia. Dia wanita yang baik,” pesan Adam sebelum pergi.
“Kamu tenang saja, aki tidak akan menyakitinya. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri akan menjaga dia sampai akhir hayatku. Asalkan dia ikhlas untuk tetap berada di sampingku, karena aku yakin setiap rumah tangga pasti akan ada asam dan garamnya.”
“Semua itu juga tergantung dengan bagaimana kamu memperlakukannya,” sambung Adam. “Ais, jika kelak Hanafi menyakitimu, segera hubungi aku. Biar aku yang memberi pelajaran padanya.”
Ais tersenyum kecil. “Mas Adam tenang aja, aku akan segera menghubungi Mas Adam.”
“Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi, karena aku tidak akan menyakitimu,” timpal Hanafi.
Sebenarnya Adam tidak meragukan ketulusan Hanafi, karena dia tahu bagaimana seluk beluknya. Bahkan Adam tahu jika selama ini Hanafi tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Mungkin pernikahannya dengan Ais adalah takdir yang telah ditentukan untuknya.
...**...
Setelah mengantarkan Adam, mereka berdua pun singgah kesebuah cafe sebelum mereka memutuskan untuk pulang. Dan ini adalah kali pertama Hanafi duduk di cafe bersama dengan seorang wanita.
“Mas Hanaf gugup?”
Hanafi langsung menoleh pada Ais. Seketika dia menggelengkan kepalanya. “Enggak. Aku enggak gugup,” kilahnya.
“Oh... aku pikir gugup. Soalnya di dalam ruangan ber-acc seperti ini mas Hanaf keringat.”
Hanafi yang menyadari keringat yang mulai membasahi sekitar keningnya langsung mengambil sebuah tisu untuk menyekanya. “Mungkin sisa keringat dari luar tadi.”
“Oh... gitu ya. Terus mas Hanaf mau pesan apa?”
Disela-sela obrolannya, tiba-tiba matanya Ais tak sengaja melihat sosok yang telah duduk di meja tepat. Jelas saja sosok yang tak asing untuknya. 'Mas Azam' batinnya.
Begitu juga dengan Azam yang juga tengah memperhatikan Ais. Bahkan sekalipun dia mengenakan kacamata hitam, tetap saja dia masih bisa melihat dengan jalan sosok yang saat ini sedang dilihat.
“Ais, bagaimana kalau libur semester ini kita pulang ke rumah ibu yang ada di Jogja. Kebetulan anak sekolah juga sedang libur,” ujar Hanafi.
“Boleh tuh, Mas. Aku juga udah kangen sama kampung halaman. Tapi setelah sampai sana, mas Hanaf jangan ngeluh karena susah sinyal. Rumah ibu ada di pelosok,” jelas Ais.
“Enggak masalah. Malah lebih enak kan tinggal di pelosok. Suasana masih asri, enggak kayak di sini yang udah padat dengan polusi. Aku juga dengar katanya kawasan pesisir selatan itu banyak pantai yang masih tersembunyi. Cocok banget tuh kita kunjungi.”
__ADS_1
Sekalipun Ais mendengarkan ucapan Hanafi, tetapi matanya tertuju pada sosok yang berada di meja depannya. Ais sendiri tidak tahu apakah ini hanyalah sebuah kebetulan atau Azam memang sengaja mengikuti dirinya.
“Ais, kamu liatin apa, sih?” tanya Hanafi yang merasa jika Ais tengah memperhatikan seseorang yang ada di meja depannya.
“Ah, enggak apa-apa kok, Mas. Oh iya, kayaknya kita masih sempat untuk membeli perlengkapan untuk rumah baru kita deh! Mending kita langsung belanja aja, gimana?” tawar Ais.
“Tapi ini udah sore, Ais. Kamu juga belum beristirahat sejenak pulang dari kuliah tadi. Next time aja kita belinya.”
Azam yang sengaja mengikuti Ais sejak pulang dari kampus hanya bisa menahan rasa sesak di dalam dadanya. Disaat detik-detik kepergiannya, dia ingin melihat wajah Ais meskipun dengan cara bersembunyi. Mungkin dengan cara seperti itu dia bisa pergi dengan perasaan yang sedikit lega.
Semua sudah terlambat, percuma saja untuk disesali karena tak akan mengembalikan kondisi rumah tangganya dengan Ais kembali ke sediakala. Semua hanya tinggal cerita yang akan menjadi sebuah kenangan dalam hidupnya.
Ais ... kenapa dada ini terasa sangat sakit saat melihat tawamu bersama dengan pria lain. Ais ... aku menyesal tidak bisa mencegah kepergianmu. Aku menyesal telah mengikuti semua keinginan mama yang pada akhirnya hanya membuatku hancur. Tapi sudahlah, Ais. Aku sudah berdamai dengan rasa sakit ini dan aku memilih pergi agar bisa melupakan rasa sakitku. Ya, aku memang pecundang Ais. Kamu tak pantas untuk bersamaku. Ku harap kamu bisa meraih kebahagiaan bersama dengan pria penggantiku.
Meskipun Hanafi diam, tetapi bukan berarti dia tidak mengetahui jika pria yang duduk di depan mejanya adalah Azam, mantan suami Ais. Dia hanya tidak ingin merusak suasana hati Ais jika membahas tentang sang mantan. Hanafi sendiri telah yakin jika Ais sudah tidak peduli dengan mantan.
“Mas ... kita langsung pulang aja ya,” ucap Ais setelah menghabiskan pesannya.
“Sekarang?”
“Iya. Kan makanan sama minumannya udah abis. Emangnya mas Hanaf mau bantuin embak-embak cuci piring?” tanya Ais dengan alis yang menaut.
Namun, sebelum beranjak dari tempat duduk, tiba-tiba seorang pelayan datang untuk memberikan sebuah surat kepada Ais.
“Dari siapa, Mbak?” tanya Ais dengan heran.
“Saya tidak tahu. Orang itu hanya mengatakan untuk menyerahkan surat ini untuk Anda.”
Karena merasa penasaran dengan isi surat, berencana untuk membuka suratnya detik itu juga, tetapi langsung di larang oleh embak-embaknya.
“Mbak, alangkah baik jika suratnya dibuka di rumah aja!”
“Kenapa?” Ais semakin heran.
“Udahlah Ais, buka di rumah aja nanti. Ayo kita pulang.”
Ais pun mengangguk dengan pelan dan mengikuti langkah Hanafi untuk meninggalkan cafe. Namun, saat netranya menatap meja di depannya sudah tak ada lagi sosok Azam disana. Mungkinkah itu adalah surat dari Azam?
...***...
__ADS_1
Kini meskipun sudah menempati rumah baru tetapi Ais belum bisa masak sendiri karena belum mempunyai perlengkapan yang bisa digunakan untuk memasak, akhirnya mereka memutuskan untuk delivery makan online.
“Ais ...!” teriak Hanafi dari dalam kamar mandi.
Ais yang sedang merapikan tempat tidur langsung berlari ke langsung berlari ke depan kamar mandi. “Iya, Mas Ada apa?”
“Tolong ambilkan handuk.”
“Handuk?”
Ais pun segera berlari kecil untuk mengambil handuk milik Hanafi yang masih berada di balkon.
“Mas, ini handuknya,” ucap Ais yang kini sudah berada didepan pintu kamar mandi.
Hanafi pun langsung membuka pintu kamar mandi untuk mengambil handuk yang telah berada di tangan Ais. “Makasih.”
Sebenarnya malam ini Ais dan Hanafi ingin mau istirahatkan tubuhnya yang telah lelah. Namun, tiba-tiba Hanafi mendapatkan telepon dari bapaknya yang memberitahu jika ibunya mendadak sakit. Tanpa banyak bertanya lagi Hanafi langsung mengajak Ais untuk pulang ke rumah ibunya.
“Mas, ibu sakit apa?”
“Enggak tahu. Bapak cuma bilang ibu sakit gitu aja. Aku juga lupa untuk bertanya ibu sakit apa,” ujar Hanafi yang fokus pada setir kemudinya.
Hampir lima belas menit, kini mobil Hanafi telah masuk ke pekarangan rumah ibunya. Dengan cepat Hanafi langsung turun dari mobilnya.
“Assalamualaikum.” Hanafi menggedor pintu.
“Walaikusalam.” Suara dari dalam menyahuti salam Hanafi.
Saat pintu dibuka, terlihat sosok ibunya membuka pintu, membuat Hanafi menautkan kedua alisnya. “Ibu ... katanya ibu sakit. Ibu sakit apa? Kenapa enggak beristirahat?”
“Hanaf ... kamu kenapa sih? Siapa juga yang sakit? Ibu cuma sakit pinggang, karena lagi datang bulan. Lagian kamu siapa yang bilang kalau ibu sakit.”
Hanafi dan Ais malah saling berpandangan. Hanafi merasa telah dipermainkan oleh bapaknya. Namun, sebelum Hanafi memprotes, sang bapak langsung muncul dari belakang istrinya.
“Tadi bapak belum selesai, tapi kamu sudah keburu mematikan teleponnya. Tadi bapak cuma mau bilang kalau ibu sakit pinggang dan mau minta tolong Ais untuk membelikan peredarannya, tetapi kamu udah keburu matiin telepon. Kan salah kamu sendiri.”
“Jadi bapak menelepon Hanaf hanya untuk memberitahu kalau ibu sakit pinggang karena dapat bulan. Astaghfirullahaladzim, bapak!”
“Makanya jangan dimatikan dulu kalau orang belum selesai ngomong, biar tau apa maksudnya,” timpal bapaknya.
__ADS_1