Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 40


__ADS_3

Setelah menikah dengan Ais, tak ada satupun anak-anak yang diantarkan ke masjid untuk mengaji lagi, karena orang tua mereka tidak mau anak-anaknya belajar ngaji dengan Hanafi lagi, mengingat kasus yang baru saja menimpanya.


Sedikit kecewa tetapi Hanafi yakin jika kelak para orang tua akan sadar dan mengembalikan lagi kepercayaan untuknya. Untuk saat ini Hanafi memilih untuk mengalah, karena dia tidak mempunyai bukti yang kuat untuk memberontak.


"Bu, Ais ingin berbicara." Ais mendekati ibu mertuanya yang sedang berada di dapur.


"Ya ampun Ais ... sekarang kita sudah menjadi satu keluarga, kamu tidak usah gugup seperti itu," ujar ibu mertuanya.


Sebenarnya Ais merasa ragu untuk berbicara kepada ibu mertuanya, tetapi jika tidak mungkin dibicarakan, hanya akan membuat Ais tidak tenang.


"Bu, bolehkah malam ini Ais menginap di rumah Mas Adam? Karena besok bapak dan ibu akan kembali ke Jogja."


"Kok bilangannya sama ibu, sih? Sama Hanafi dong. Kalau ibu sih fine-fine aja."


"Tadi Ais udah izin juga sama Mas Hanaf, tapi .... " Ais menjeda ucapnya.


"Tapi apa? Enggak dikasih izin? Bener-bener keterlaluan tuh anak! Tunggu biar ibu yang ngomong sama dia!" geram ibu mertuanya.

__ADS_1


"Bukan .... bukan enggak dikasih izin. Ais dikasih izin, tapi kata mas Hanaf harus minta izin dulu sama ibu," jelas Ais dengan gugup.


Kedua alis ibu mertuanya langsung mengerut. "Lho, kok gitu? Apa urusannya sama ibu? Kan dia dia yang suami kamu, bukan ibu!"


Setelah mengungkapkan niatnya pada ibu mertuanya, Ais kembali ke kamar untuk berbicara kembali dengan Hanafi. Sebenarnya Ais juga heran mengapa harus meminta izin terlebih dulu dengan ibu mertuanya, karena yang paling penting itu adalah izin dari suaminya, bukan ibu mertuanya.


"Bagaimana, apakah ibu mengizinkan?" tanya Hanafi saat Ais masuk kedalam kamar.


"Untuk apa ibu tidak menyetujui. Mas Hanaf itu yang aneh. Apa urusannya sama ibu coba? Yang penting itu kan izin dari mas Hanaf. Sekarang pertanyaan mas Hanaf itu ikhlas gak ngasih izinnya?"


"Ya ikhlaslah, masa enggak ikhlas, sih. Tapi ... aku ikut ya."


...***...


Selepas isya, Ais dan Hanafi memutuskan untuk ke rumah Adam. Sementara itu mertua Ais memilih untuk menyusul karena mereka harus belanja untuk buah tangan besannya itu.


Karena jarak rumah Hanafi dan juga Adam tidaklah terlalu jauh, Hanafi memutuskan untuk naik motor. Jangan ditanya lagi bagaimana detak jantungnya yang terus bergerumuh dengan sangat kencang saat berdekatan dengan Ais.

__ADS_1


Namun, tepat diperempat jalan menuju rumah Adam, sebuah mobil menghadang motor Hanafi. Sosok yang tak asing langsung keluar dari mobil dan mendekat kearah Hanafi.


"Mas Azam," gumam Ais.


"Kamu kenal dia?" tanya Hanafi dengan pelan.


"Iya, Mas. Dia ... " Ais menggantung ucapannya.


"Ais, kita perlu berbicara sebentar," ujar Azam langsung pada intinya.


Tubuh Ais seketika membeku, tetapi Ais mencoba untuk tetap tenang dibelakang Hanafi.


"Maaf, Mas. Diantara kita sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Hubungan kita telah berakhir. Mas Azam sudah memiliki Iza, dan aku juga sudah memiliki Mas Hanaf. Jadi aku rasa gak perlu lagi ada yang kita bicarakan. Tolong, jangan ganggu aku lagi, Mas! Aku sudah menikah dengan Mas Hanaf," tegas Ais seraya membuang napas beratnya.


"Tidak bisa! Ais, seharusnya kamu tau alasan mengapa aku menikahi Iza. Semua aku lakukan untuk keluarga kita, Ais. Mama hanya menginginkan anak, bukan berarti dia membencimu. Oke, ku akui aku bodoh tidak membicarakan alasanku sejak awal padamu. Tapi kamu harus tau, Ais aku pernikahanku dengan Ais hanya sebatas kontrak dan cintaku tetap untukmu!"


"Sudahlah Mas Azam, aku sudah lelah mendengar ucapanmu. Jika kamu mencintaiku, kamu akan memperjuangkanku. Tapi lihatlah, kamu tidak memperjuangkanku, Mas!" Mata Ais telah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Mas Hanaf, ayo jalan!" Tangan Ais langsung memeluk pinggang Hanafi dengan erat.


"Baiklah." Hanafi pun melajukan kembali motornya dengan pelan.


__ADS_2