Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 67


__ADS_3

Setelah mendapat kabar bahwa istrinya pingsan di kampus, Hanafi langsung meminta izin kepada kepala sekolah untuk menjemput istrinya. Karena dalam keadaan urgent, hanafi pun diberi izin untuk menjemput istrinya.


Iza yang melihat dari kejauhan saat Hanafi mempercepat langkah kakinya berusaha untuk mengejar. Namun, sayangnya langkah seribu yang diambil oleh Hanafi tak mampu dikejar oleh Iza.


“Ada apa ya? Kok Hanafi buru-buru gitu? Terlebih ini kan belum waktunya pulang?” gumam Iza dengan mata yang masih menatap mobil Hanafi meninggalkan halaman sekolah.


Dari arah belakang, tanpa disadari ada sosok yang memang juga sedang mengikuti Iza. Dia merasa penasaran karena gurunya itu seperti hendak menghentikan langkah seseorang tetapi enggan untuk berteriak.


“Hemm ... hemm!” Suara deheman membuat Iza tersentak dengan keterkejutan. Dengan cepat dia pun langsung menoleh ke belakang.


“Sabian!” gumamnya, saat melihat jika suara deheman itu milik Bian, satu-satunya murid yang hampir membuat gila semua guru, karena tingkat kenakalan yang luar bisa. Bahkan bisa hampir sebelas dua belas seperti anak TK yang sulit untuk diatur.


“Ibu ingin tahu kenapa pak Hanaf pergi buru-buru seperti itu?” yang Bian dengan santai.


“Kamu ngapain disini? Jangan bilang kamu sengaja ngintilin ibu kan?”


“Ngintilin Ibu? Hueekk! Kayak enggak ada kerjaan aja. Lagian ini kan lorong umum sekolah, jadi siapa aja berhak lewat. Hayo ngaku Ibu lagi ngintilin pak Hanaf kan?” goda Bian sambil cengengesan.


Pipi Iza langsung terasa panas. Meskipun tebakan Bian tidak sepenuhnya salah, tetap saja Iza merasa malu, karena telah tertangkap oleh muridnya sendiri ketika dia sedang ingin mengejar Hanafi.


“Bu ... jangan bilang Ibu suka sama pak Hanaf, ya? Eh, Bu asal Ibu tahu pak Hanaf itu udah punya istri. Jangan sampai Ibu guru jadi pelakor dalam hubungan pak Hanaf. Naudzubillahimindzalik, Bu!”


“Astaghfirullahaladzim Sabian! Kamu jangan asal nuduh ya! Nanti kalau ada yang dengar bisa jadi fitnah!”


“Eh, siapa yang nuduh ...? Aku kan cuma nebak aja, tapi syukur-syukur tebakanku itu benar. Udahlah Bu, jangan jadi pelakor! Dosanya besar. Mana ditanggung sendiri pula di akhirat!”


Rasanya ingin sekali Iza menjitak kepala Bian. Namun, dengan cepat Iza beristighfar dan mengelus dadanya untuk tetap bersabar ketika menghadapi murid seperti Sabian.


“Sabian ... terima kasih ya atas nasehatnya. Ibu tahu kok pelakor itu dosa dan Ibu sama sekali tidak akan pernah menjadi seorang pelakor karena. Terima kasih telah mengkhawatirkan Ibu.” Iza pun memilih untuk meninggalkan Bian, karena jika terlalu lama meladeni Bian hanya akan membuatnya semakin gila.


“Eh ... Ibu! Kok malah pergi, sih?” teriak Bian saat ditinggalkan Iza begitu saja. Namun, detik kemudian dia tertawa karena merasa puas telah mengerjai guru baru itu.


***

__ADS_1


Di dalam perjalanannya pikiran Hanafi sama sekali tidak tenang. Dia bener-bener sangat mengkhawatirkan keadaan sang istri yang saat ini sedang pingsan di kampusnya. Entah penyakit apa yang sedang diderita oleh istrinya sehingga akhir-akhir ini sang istri terlihat sering kelelahan.


“Ais, sebenarnya kamu sakit apa, sih? Jangan sampai kamu menyembunyikan sebuah penyakit dariku, karena jika itu sampai terjadi Adam benar-benar akan mencincangku. Aku akan dianggap tidak bisa menjagamu dengan baik.”


Hanya butuh waktu lima menit dari sekolahan menuju ke kampus Ais. Setelah sampai Hanafi pun menghubungi Jelita untuk menanyakan di mana Ais berada saat ini. Dengan cepat Jelita menyuruh Hanafi untuk menuju ke gedung kesehatan yang ada di lantai satu.


Karena Hanafi tidak tahu di mana tepatnya letak ruang kesehatan, dia pun meminta bantuan kepada security untuk mengantarkan ke ruang kesehatan. Hanya dengan cara seperti itu dia bisa segera sampai ke ruang kesehatan untuk melihat bagaimana keadaan Ais saat ini.


Semua mata terpana dengan langkah Hanafi, karena sebelumnya mereka tak pernah melihat pria setampan Hanafi berada di kampus mereka. Mungkinkah dia adalah mahasiswa baru? Begitulah orang menerka-nerka Hanafi.


“Pak Hanafi!” teriak Jelita sambil melambaikan tangannya agar Hanafi tahu dimana keberadaan Ais saat ini.


Mata Hanafi yang telah melihat Jelita melambaikan tangannya langsung berlari kecil agar segera sampai.


“Dimana Ais? Bagaimana keadaannya? Dia udah sadar atau belum?” tanya Hanafi dengan panik.


Jelita menelan kasar salivanya. Betapa tampan dan seksi makhluk ciptaan Allah yang saat ini sedang berada tetap di depan matanya. Namun, sayangnya dia telah sold out.


“Ais ada di dalam, Pak. Dia baru aja sadar, tapi ... ” Jelita menggantung ucapannya.


“Tapi setelah bangun Ais malah meminta sate usus. Saya sendiri bingung karena disini jarang sekali yang jual sate usus. Coba deh Bapak lihat dulu keadaan Ais, siapa tahu dia kesurupan penunggu kampus ini. Kalau iya, segera di ruqyah, Pak.”


Setelah mendengar penjelasan dari Jelita, Hanafi pun langsung masuk kedalam ruangan yang tidak ada siapa-siapa selain Ais.


“Ais ... kamu gak papa?”


Ais yang tengah berbaring langsung terbelalak lebar saat melihat kedatangan suaminya. “Lho, Mas Hanaf ngapain kesini?”


Disaat yang bersamaan Jelita pun muncul dari belakang Hanafi. “Ais ... maaf aku lah yang menghubungi Pak Hanafi dan mengatakan jika kamu sedang pingsan. Tadi tuh aku panik banget. Aku takut kamu kenapa-kenapa jadi aku kasih tahu Pak Hanafi,” ucap Jelita dengan melemah.


“Tapi aku enggak apa-apa, Lita.”


“Enggak apa-apa gimana? Sudahlah, ayo kita langsung ke rumah sakit! Aku hanya ingin tahu sebenarnya kamu ini sedang sakit apa. Tidak mungkin asam lambung membuatmu merasa kelelahan setiap hari. Lita, tolong sampaikan kepada dosennya jika Ais pulang lebih awal untuk berobat, ya!” pinta Hanafi pada Jelita.

__ADS_1


“Siap, Pak. Bapak bawa aja Ais ke rumah sakit. Untuk urusan disini biar aku yang atasi.”


“Tapi Mas ... Ais enggak apa-apa. Ais enggak mau ke rumah sakit!” tolak Ais.


“Aku enggak mau mendengar penolakan apapun dari kamu lagi. Pokoknya mau nggak mau aku akan membawamu ke rumah sakit! Kalau kamu masih ingin menolak aku akan menggendongmu secara paksa untuk keluar dari gedung ini. Bagaimana?”


Ais hanya bisa mengerucutkan bibirnya karena dia benar-benar tidak bisa menolak keinginan suaminya. “Mas .... ” rengek Ais.


Mata Hanafi hanya menatap Ais dengan tajamnya. Seketika nyali Ais untuk memberontak pupus sudah. Ternyata suaminya bisa terlihat lebih menakutkan jika sedang serius. “Iya ... iya. Ais jalan,” ujar Ais yang kemudian bangkit dari pembaringannya.


Langkah Ais yang berjalan dengan Hanafi tentu saja menjadi pusat perhatian dari beberapa orang yang melihatnya. Bahkan Ais melihat ada yang sedang berbisik sambil melirik ke arahnya. Sudah bisa dipastikan jika orang itu sedang membahas dirinya.


“Kamu ngapain bisik-bisik? Lagi ngomongin aku ya! Kalau berani ngomong di depanku, jangan dibelakangku! Dasar munafik!” Tiba-tiba saja Ais memaki dua orang wanita yang duduk di sebuah bangku panjang.


Melihat Ais yang tak seperti biasanya, Hanafi hanya bisa membulatkan matanya dengan lebar. Bahkan selama mengenal Ais, inilah kali pertama dia melihat Ais marah pada seseorang hanya karena masalah sepele.


“Astaghfirullahaladzim, Ais! Kamu gak boleh berprasangka buruk kepada orang lain! belum tentu mereka membicarakan kamu. Udahlah, ayo!” Hanafi pun langsung menggandeng tangan Ais untuk meninggalkan gedung yang ada di kampusnya.


“Mas .... mereka itu sekali-kali harus dikasih pelajaran, biar enggak ngomong orang dibelakang!” Ais masih merasa geram dengan dua orang yang saling berbisik. Padahal belum tentu juga apa yang dibisikkan itu benar-benar membicarakan Ais atau bukan.


“Ais sebenarnya kamu? Apakah memang benar apa yang dikatakan oleh Jelita jika kamu sedang kerasukan penunggu kampus ini? Astagfirullahaladzim Ais, jika benar kamu harus segera di ruqyah. Ayo!”


Asi hanya bisa mendelik dengan lebar ketika suaminya mengatakan dia sedang kerasukan penunggu kampus. Entah bagaimana bisa suaminya berpikir seperti itu.


“Jadi Mas Hanaf mengira jika aku sedang kerasukan jin penunggu kampus ini? Astaghfirullahaladzim nyebut Mas, nyebut! Tega banget sih Mas Hanaf mengatakan jika aku kerasukan jin kampus. Tunggu, aku akan mengadu sama ibu!” Ais pun segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Ibu mertuanya.


Entah mengapa hari ini Ais tidak bisa mengendalikan emosinya dan mudah sekali untuk tersinggung.


...###...


Boleh dong sekali-kali tabur Bunga mawar atau Votenya 🤭 Biar jari othor lebih semangat untuk menari lagi hihihi. Kalau enggak punya bunga mawar, tonton aja iklannya sampai abis hihihi,


__ADS_1


__ADS_2