Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 76


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan, mulai hari ini Iza akan mengajar les kepada Bian. Sebenarnya Iza ingin menolak, tetapi karena ayah Bian yang sangat memohon kepada dirinya, dia pun merasa tidak enak dan menerima dengan berat hati.


Ayah Bian sengaja mengambil jam malam agar bisa memantau Bian. Dia tidak ingin jika anaknya membuat ulah yang membuat gurunya tidak betah dan memilih mundur, karena ulah Bian yang kelewat nakal.


Ting ... Tong


Suara bel berbunyi. Dengan tergopoh seorang pembantu rumah berusaha untuk membuka pintu, karena sudah bisa ditebak jika itu adalah tamu yang memang sedang ditunggu oleh majikannya. Baru saja pintu dibuka, Iza tersenyum tipis pada wanita yang membukakan pintu untuknya.


“Assalamualaikum.” Ucapan salam yang lembut diiringi sebuah senyuman.


“Waalaikumsalam. Pasti Bu Iza, ya?”


Iza mengangguk dengan pelan. “Iya, Buk.”


“Eh, kok Buk, sih? Saya cuma pembantu di rumah ini. Panggil aja Mbak Mar. Oh iya, mari silahkan masuk, Tuan Raka sudah menunggu Bu Iza.”


Iza pun langsung dibawa masuk untuk menemui tuannya terlebih dahulu. Iza merasa sedikit takjub dengan bangunan rumah megah yang kini dipijaknya. Pantas saja Sabian sedikit keras kepala, ternyata dia adalah anak dari golongan berada.


“Bian-nya dimana ya, Mbak? Kok enggak kelihatan?” tanya Iza yang merasa penasaran karena tak menemukan sosok manusia di dalam rumah besar itu.


“Den Bian masih ada di kamarnya. Kalau Tuan Raka dan Nyonya besar ada di ruang tengah, sedang menunggu ibu guru,” ujar Mbak Mar sambil membawa Iza untuk menuju ke ruang tengah.


Sebenarnya Iza merasa gugup karena ini adalah kali pertama dia mengajar les. Bahkan dia belum mempunyai keahlian untuk mengajar, karena ini adalah pengalaman pertamanya bekerja sebagai tenaga pengajar. Namun, karena ilmu yang dimiliki oleh Iza, sedikit demi sedikit dia bisa menguasai perannya sebagai seorang pengajar.


“Tuan, Bu gurunya udah datang,” ujar Mbak Mar lagi setelah mengantarkan Iza ke ruang tengah.


Seketika ayah dan neneknya Sabia langsung oleh untuk melihat sosok guru yang bernama Iza. Sang nenek sudah merasa sangat penasaran dengan guru yang di cium oleh cucunya. Dan saat dilihat, ternyata wanita itu sangat cantik. Pantas saja Bian lebih nurut kepada guru itu ternyata memang sangat bening. Begitulah yang ada dipikiran neneknya Sabian.


“Oh, ternyata ini guru lesnya. Kamu sudah makan? Kalau belum makan dulu. Kamu harus menyiapkan banyak tenaga untuk menghadapi Bian,” ujar neneknya Bian.

__ADS_1


“Alhamdulillah saya sudah makan, Buk. Ngomong-ngomong Bian dimana, ya?” tanya Iza dengan sedikit gugup, karena ini adalah pertemuan pertamanya dengan keluarga Sabian.


“Bian masih di kamar, tunggu aja, sebentar lagi juga turun. Mari duduk sini! Saya adalah neneknya Sabian. Pertama-tama saya ingin meminta maaf atas apa yang telah dilakukan oleh cucu saya kepada ibu Iza dan yang kedua saya mengucapkan banyak terima kasih karena Ibu Iza telah bersedia untuk mengajar les kepada Bian. Monon banyak bersabar ketika menghadapi Bian dengan segala kenakalannya ya, Bu. Bian anaknya susah untuk diatur,” jelas nenek Bian panjang lebar.


Iza tersenyum kecil. Dia tidak menyangka jika kedatangannya akan disambut baik oleh keluarga Sabian. Bahkan sifat yang dimiliki oleh keluarga sekian sangat bertolak belakang dengan sifat yang dimiliki oleh Sabian. Dan tebakan Iza tidaklah salah jika sebenarnya Sabian adalah anak yang baik. Hanya saja dia memang membutuhkan kasih sayang yang sesungguhnya dari keluarganya.


“Sebelumnya saya juga mengucapkan banyak terima kasih karena telah dipercayakan untuk mengajari Bian. Insya Allah saya sudah bersiap untuk menghadapi Bian,” ungkap Iza sambil membuang napas panjannya.


“Syukurlah kalau begitu,” timpal nenek Bian.


Sejak kedatangan Iza, Raka tak bisa berkata-kata karena terpana akan kelembutan dan keikhlasan yang dimiliki oleh wanita itu, terlebih guru itu terlihat keibuan sehingga mampu menggetarkan hati Raka yang telah lama mati. Diam-diam Raka terus memperhatikan Iza yang sedang berbicara dengan ibunya.


“Raka, panggil dulu Bian!” titah ibunya.


Raka yang masih larut dalam lamunannya langsung tersentak oleh panggilan ibunya. “Oh iya, Buk. Raka panggili Bian dulu.”


Sambil menunggu Sabian, dua wanita berbincang-bincang kecil untuk mencairkan suasana agar tidak tegang. Bahkan di kesempatan itu neneknya sabia sempat bertanya tentang status Iza, masih sendiri atau sudah berkeluarga. Namun, belum sempat Iza menjawab suara kaki Sabian menuruni anak tangga terdengar begitu nyaring hingga membuat dua orang yang duduk di sofa segera mengalihkan pandangan mereka.


Iza hanya mengangguk dengan pelan. Meskipun rasanya sulit, tetapi dia yakin jika Allah akan selalu menyertai langkahnya dan akan membantu semua kesulitannya.


“Ibu tenang saja insya Allah saya akan mendidik Bian agar menjadi anak yang lebih baik lagi. Tapi semua butuh proses dan waktu. Saya juga butuh kerjasamanya agar Bian tidak di manja berlebihan lagi, karena itulah salah satu faktor Bian menjadi anak yang sudah untuk diatur,” jelas Iza.


“Iya, mulai ke depannya kami tidak akan lagi untuk memanjakan Bian berlebihan, tapi tolong bantu cucu saya agar menjadi anak yang normal,” pinta nenek Sabian.


“Jadi maksudnya ini Bian ini gila? Nenek bener-bener ya!” sahut Sabian yang mendengar ucapan neneknya. Tentu saja Sabian merasa tidak terima saat sang nenek meminta kepada gurunya untuk membuat dia menjadi normal. Itu sama saja sang nenek telah menganggap jika Bian tidak normal.


“Bukan begitu, Bian! Maksudnya nenek, nenek ingin melihat kamu menjadi calon pewaris yang bisa diandalkan. Kalau kamu terus-terus kayak gini, bagaimana kamu akan dewasa dan mengurus perusahaan dengan baik?”


Ya, sebagai pewaris tunggal tentu saja Sabian dituntut untuk melanjutkan perusahaan yang saat ini sedang dipegang oleh ayahnya.

__ADS_1


“Terserah nenek sajalah!” ketus Bian dengan kesal. “Bu, kalau bisa segera mulai saja lesnya agar cepat selesai. Takutnya nanti aku keburu ngantuk!” imbuhnya lagi.


“Sabian! Sopan dikit sama ibu guru!” tegur ayahnya dengan cepat.


Hari pertama mengajar les, Iza tak dibuat naik tensi karena Sabian memilih banyak diam dan patuh kepada gurunya. Meskipun dalam hati rasanya ingin memberontak, tetap saja Bian harus menjaga nama baiknya di depan keluarganya terutama di depan sama ayah yang selalu mengeluarkan ancaman terdahsyatnya.


“Bu Iza,” panggil Bian dengan pelan.


“Ya Bian, ada apa?”


Setelah memastikan jika kanan kiri tidak ada yang sedang mengawasi, Bian pun segera mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.


“Meskipun Bu Iza diterima baik oleh keluargaku, jangan sekalipun berpikir untuk masuk kedalam keluargaku. Jika masih ngeyel, aku akan mencari cara untuk menyingkirkan Bu Iza, ngerti?” bisik Sabian dengan pelan.


Iza langsung menautkan alisnya serta menahan tawanya. Sebuah pemikiran yang sama sekali tidak ada di dalam pikiran Iza, namun, bagaimana bisa Bian berpikir sampai situ?


“Pikiran kamu terlalu jauh, Bian! Sekalipun ada yang memaksa Ibu untuk masuk kedalam keluargamu, ibu tetap tidak mau. Kamu enggak usah khawatir akan hal itu, karena Ibu tahu batasnya. Jadi sekarang kamu fokus aja sama sekolah kamu. Ibu punya satu challenge untukmu, jika kelak kamu lulus dengan nilai unggul, Ibu akan memberikan apa yang kamu inginkan, bagaimana?”


Mata Bian menatap tajam pada guru yang sedang berbicara dengannya. Entah mengapa seperti ada magnet yang menarik dirinya untuk tidak melawan. Bahkan apa yang dia katakan rasanya bisa sampai ke hati dan terasa hangat. Mungkinkah ini hanya perasaannya saja, karena selama ini tak ada satupun orang yang bisa mendekati dirinya?


“Semua yang aku inginkan?” Bian memastikan.


Kepala Bian mengangguk dengan pelan. “Iya, apapun keinginan kamu.”


“Berarti jika aku menginginkan ibu pergi dari menjauh dari keluarga ini, ini bersedia?”


Lagi-lagi Iza mengangguk dengan pelan. “Tentu saja. Kenapa tidak?”


...###...

__ADS_1


( Maaf untuk beberapa part ini fokus sama Bian dan juga Iza, tapi next kedepannya setelah ujian akan segera kembali pada Ais dan juga Hanafi 😊 )


__ADS_2