Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 80


__ADS_3

Bertepatan dengan hari Minggu, Hanafi mengajak Ais untuk pulang ke ibunya, karena sang ibu terus saja meneror dirinya untuk memintanya pulang, sekalipun Hanafi telah memiliki rumah sendiri. Sebenarnya Hanafi merasa malas, karena ingin menikmati waktu liburannya hanya berdua dengan Ais. Namun, berbeda dengan Ais yang langsung semangat manakala ibu mertuanya mengatakan ingin membuatkan rujak bebek ( enggak tahu, cari google )


“Mas, ayo cepat! Kita masih mau ke pasar buah juga!” rengek Ais yang sudah tidak sabar untuk segera berangkat ke rumah ibunya.


“Sabar sedikit, Ais. Ini lagi ngunci pintu.”


Bagaimana Ais bisa bersabar ketika isi kepalanya sudah dipenuhi dengan buah-buahan segar yang di tumbuk. Bahkan saat masih dibayangkan saja air liurnya sudah keluar semua.


Dalam kehamilan pertama, kadang Ais merasa heran dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba merasa tidak suka pada Hanafi, bahkan untuk melihatnya saja rasanya sangat malas. Namun, terkadang Ais merasa rindu yang sangat menggebu. Jangankan hanya berpisah untuk mengajar, hanya di tinggal ke kamar mandi saja rasanya sangat berat. Di kehamilannya ini Ais benar-benar seperti mempunyai kepribadian ganda, yang tiba-tiba benci dan tiba-tiba bucin. Beruntung saja Hanafi menyikapinya dengan dewasa, sehingga keduanya jauh dari kata bertengkar.


Sesuai dengan keinginan Ais, mereka berdua singgah terlebih dahulu pasar buah, karena Ais ingin membeli buah yang dia inginkan. Sebenarnya Hanafi menyarankan untuk beli di supermarket yang sudah terjamin dan tidak perlu panas-panasan hanya untuk memilih buah, tetapi Ais menolak, karena di supermarket buah tidak lengkap.


“Ais, sebenarnya kamu sedang mencari buah apa, sih? Mangga udah, jambu udah, kedondong udah, terus apalagi?” keluh Hanafi saat Ais masih menyusuri satu persatu tempat penjualan buah.


“Gak ada sih, Mas! Cuma mau lihat-lihat aja Kali aja ada yang beda!”


Hanafi membuang napas panjangnya. Padahal hampir semua pedagang menjual buah yang sama, tetapi Ais masih ngotot ingin menyusuri samping ujung.


“Mas, aku pengen makan durian,” rengek Ais saat melihat satu tempat khusus yang menjajakan buah durian. Dari kejauhan saja aroma sudah sangat menggoda. Bahkan Ais sampai menelan ludahnya, hanya karena terlalu menikmati aroma buah durian.


“Tapi kamu lagi hamil, Ais! Wanita hamil enggak boleh makan durian!”


“Kata siapa, Mas? Dulu tetangga samping rumahku pas dia hamil sering makan durian tapi alhamdulillah dia kandungannya baik-baik. Beli ya, Mas. Satu kali ini aja.” Ais merengek dengan bibir manyun layaknya anak kecil yang sedang tidak dibelikan permen.


Sungguh berat rasanya untuk mengiyakan, tetapi Hanafi juga tidak ingin membuat Ais kecewa, terlebih saat sedang hamil. Konon katanya jika permintaan seseorang yang sedang hamil tidak langsung dituruti kalau anaknya akan ileran suka ngences. Baru saja memanjangkan Hanafi sudah bergidik geli. Dia tidak mau itu terjadi kepada anaknya kelak.


“Iya, iya. Tapi beli satu aja, ya!”


Seketika mata Ais langsung berbinar ketika keinginannya langsung dituruti oleh suaminya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada segera memilih durian yang dianggapnya paling besar.


“Pak, ada yang lebih besar dari ini?” tanya Ais sambil menunjuk durian yang dianggapnya paling besar.

__ADS_1


“Ada, tapi masih di mobil.”


“Benarkah? Kalau begitu saya mau satu, Pak. Karena suami saya cuma mengizinkan saya untuk beli satu saja,” kata Ais.


“Baiklah! Tunggu sebentar akan diambilkan dulu.”


Sadar dengan tatapan suaminya, Ais langsung menyinggungkan senyum yang lebar serta merapatkan tubuhnya sambil mengedipkan kedua matanya. “Kan cuma satu, Mas. Ais janji cuma mau makan dikit aja.”


“Dikit tapi bertahap sampai habis sama aja bohong, Ais.”


“Ais janji ini adalah yang pertama dan yang terakhir Ais beli. Kan demi anak kita, Mas.”


“Iya, iya!”


***


Kini mobil yang dikendarai oleh Hanafi telah masuk ke halaman rumah. Terlihat ada beberapa orang yang duduk di teras bersama dengan ibunya. Namun, pandangan Ais tertuju pada satu orang yang tak asing untuk dikenali. Bahkan sosok itu terlihat akrab dengan ibu mertuanya. Tubuh Ais pun membeku untuk beberapa saat hingga akhirnya Hanafi mengajaknya untuk keluar dari mobil.


Ais masih bungkam dengan tatapan yang masih fokus pada satu obyek. Hanafi yang menyadari apa yang sedang dilihat oleh istrinya langsung menggenggam erat tangan Ais.


“Kamu enggak usah berpikir yang macam-macam, karena saat ini kamulah masa depanku. Mereka berdua sudah saling mengenal saat kami duduk di bangku SMA, tapi setelah Iza memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri, mereka berdua sudah tidak bertemu lagi. Ais, kamu percaya kan sama aku?”


Ais mengangguk dengan pelan. Semua orang memang mempunyai masa lalu termasuk juga dirinya. Mungkin inilah yang juga dirasakan oleh Hanafi ketika dia bertemu dengan Azam, seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa lalu.


Ada rasa khawatir yang mendalam. Takut jika sewaktu-waktu rasa yang pernah hilang akan tumbuh kembali.


“Kamu tidak usah takut ibu tidak akan pernah menyakiti kamu, karena ibu sudah sangat menyayangi kamu,” lanjut Hanafi untuk meyakinkan Ais.


Ais menghela napas panjangnya untuk membuang semua kecemasan yang ada di dalam pikirannya. Dia berharap jika ibu mertuanya tidaklah sama seperti mama Maya, yang tiba-tiba datang membawa seseorang untuk dinikahkan dengan anaknya. Padahal saat itu sang anak sudah memiliki seorang istri. Rasa trauma itu masih ada, meskipun Ais yakin jika Hanafi dan ibunya tidak akan melakukan hal seperti itu padanya.


“Assalamualaikum,” sapa Ais dan juga Hanafi secara bersamaan.

__ADS_1


“Waalaikumsalam.” Beberapa orang termasuk juga dengan Iza pun menjawab salam dari mereka berdua.


“Nah ini dia orangnya udah datang. Ais sini!” Ibu mertuanya melambaikan tangan sebagai isyarat agar Ais mendekat. Namun, sebelum berjalan ke arah Ibu mertuanya terlebih dahulu Ais menyalami beberapa orang yang sedang duduk, termasuk juga dengan Iza.


“Apakah kamu sudah membeli buah yang Ibu katakan tadi?” tanya ibu mertuanya saat Ais baru saja menyalaminya.


“Iya udah, Bu. Itu buahnya ada di dalam mobil.”


Ibu mertuanya pun langsung memperkenalkan Ais kepada rekannya. Dia juga memperkenalkan Ais kepada Iza, wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalu anaknya.


Sebenarnya ibu Hanafi tidak sengaja bertemu dengan Iza pada saat dia sedang ke pasar tadi. Karena lama tidak pernah bertemu akhirnya Iza diajak pulang ke rumah.


“Ya udah Bu Maryam, kami pulang dulu. Jangan lupa Minggu depan arisannya di rumah ibu Yuli,” ucap salah satu rekan ibunya Hanafi.


“Iya, iya. Kalau lupa tolong diingatkan. Maklum udah tua. Sebentar lagi punya cucu.”


Setelah beberapa orang meninggalkan halaman rumah kini giliran Iza yang juga ikut pamit pulang karena merasa tidak enak jika dia berada di tempat itu, terlebih Iza masih merasa sangat bersalah karena telah membuat rumah tangga Ais dan juga Azam hancur.


“Tan, Iza juga pamit pulang ya. Sebentar lagi Iza juga akan berangkat untuk mengajar les,” pamit Iza.


“Oh, iya, gak papa. Lain kali kalau kamu senggang kamu bisa main kesini. Anggap aja kita ini adalah keluarga.”


Setelah Iza berlalu, Ibu Hanafi langsung menjelaskan mengapa Iza bisa berada di rumah. Tidak ada niatan untuk membuka album lama antara Hanafi dan juga Iza. Ibu Hanafi hanya merasa iba dengan apa yang terjadi kepada Iza.


“Ais, kamu tidak marah kan jika ibu membawa Iza pulang ke rumah? Ibu hanya merasa kasian dengan nasibnya yang ditelantarkan begitu saja oleh suaminya. Bisa-bisanya ada lelaki baji*ng4n seperti itu!”


Ais tersenyum tipis. Sebenarnya dia juga merasa iba dengan apa yang sedang dialami oleh Iza. Nasibnya lebih miris darinya, karena tidak ada satu tempat untuk tempatnya bersandar.


“Iya, enggak apa-apa, Bu. Semua orang mempunyai masa lalu. Semua itu tergantung pada kita apakah masih mengharapkan masa lalu itu atau ingin menguburnya dan menata masa depan dengan orang baru. Ais juga mempunyai masa lalu, Bu. Tapi masa lalu itu sudah Ais kubur,” jelas Ais.


“Alhamdulillah kalau kamu berpikir seperti itu, Ais. Ibu hanya takut jika kamu salah paham dengan kejadian ini.”

__ADS_1


...###...


__ADS_2