
Baru saja turun dari mobil, kedatangan Sabian telah disambut oleh beberapa orang santri, termasuk juga dengan Abah Abdullah yang tak lain adalah ayahnya Zura. Namun, seketika pandangan mata Ban teralihkan pada sosok yang berada disampingnya abah Abdullah. Jelas saja Bian merasa heran dengan sosok ayahnya yang tiba-tiba saja telah berada di tempat itu.
“Ayah ... ” gumamnya dengan pelan. “Ra, kamu tidak sedang menjebakku, kan?”
“Menjebak? Maksud kamu apa, aku tidak tahu, Bi! Tapi ngomong-ngomong kebetulan sekali ya ayah kamu ada disini. Ayo turun!”
Terasa sangat berat ketika hendak turun dari mobil. Namun, Zura terus mendorong tubuh Sabian untuk segera keluar dari mobil. “Bian, cepetan turun!”
Sabian hanya bisa mengumpat kasar do dalam hatinya. Kini dirinya benar-benar sangat terjebak, bahkan lari pun sudah tidak bisa lagi.
“Assalamualaikum.” Zura mengucapkan salam sebelum mengalami Abah dan juga ayahnya Sabian.
“Waalaikumsalam,” jawab semua yang mendengar salam dari Zura.
Dengan terpaksa, Sabian pun mengikuti Zura yang menyalami Abah dan juga ayahnya.
“Lho ... lho ... lho ... ada angin apa ini sehingga membawa calon imam ketempat ini? Apakah sebuah kebetulan atau telah rencana Allah jika hari ini akan kedatangan calon besan dan calon imam,” ujar Abah Abdullah yang terkagum dengan kedatangan Raka dan Bian yang tak berselang lama.
“Mungkin cuma sebuah kebutuhan, Bah. Tadi Zura tidak sengaja menemukan Sabian di pinggir jalan. Bahkan Zura sempat mengira jika Sabian adalah seorang gelandangan,” ucap Zura sambil melirik kearah Sabian. “Om Raka bagaimana kabarnya? Kebetulan sekali ya bisa barengan sama Bian.”
“Alhamdullilah kabar Om baik. Ya mungkin saja ini sudah menjadi rencana Allah. Kamu sendiri bagaimana kabarnya? Lama tidak bertemu?”
__ADS_1
“Alhamdullilah kabar Zura juga baik Om. Em ... Zura tinggal dulu ya, Om. Sabian, aku masuk dulu ya.”
Sial! Kenapa juga harus bertemu dengan ayah disini sih? Dan kenapa juga aku begitu bodoh mengikuti keinginan cewek itu? Sungguh sial! umpat Sabian dalam hati.
Sepeninggal Zura, Abahnya langsung mengajak Raka dan juga Sabian untuk ke rumah utama. Dan ternyata kedatangan anak beserta ayah itu juga disambut oleh Aluna dan Uminya.
Aluna tak sedikitpun berani untuk menatap Sabian, sekalipun kedua orang tuanya sedang membahas masalah perjodohan. Begitu juga Sabian yang sudah merasa sangat gerah dengan arah pembicaraan para orang tua.
“Sebenarnya saya tidak ingin memaksakan mereka untuk menikah lebih awal, karena saya ingin mereka menikmati dulu masa mudanya terlebih dahulu. Terlebih saat ini Sabian masih duduk di bangku SMA dan anaknya juga masih labil. Saya takut dikemudian hari neng Aluna mereka menyesal. Oleh karena itu alangkah lebih baik jika masalah pernikahan keduanya kita pikirkan belakangan. Ya itung-itung agar Sabian lebih matang terlebih dahulu. Bagaimana menurut Pak Abdullah?” saran ayahnya Sabian yang masih memihak pada anaknya, sekalipun saat ini dia sedang merasa kesal.
Abah dan Umi mengangguk dengan pelan. “Jadi berapa waktu yang kita butuhkan? Kalau bisa jangan lebih dua tahun, karena dua tahun lagi Aluna sudah genap tiga puluh tahun.”
Sungguh berat untuk mengiyakan permintaan Abah Abdullah, mengingat saat ini saja umur Sabian baru mau naik ke angka delapan belas tahun dan Raka tidak ingin terburu-buru untuk menikahkan Sabian. Raka ingin Sabian benar-benar matang terlebih dahulu baru menikah. Namun, sayangnya sang ibu telah gegabah untuk mengambil sebuah keputusan, mengingat hubungannya antara ibunya dengan abah Abdullah sangat baik sejak lama. Bahkan, keinginan itu sudah tercetus sejenak Sabian masih kecil.
Tentu saja Sabian tidak setuju dengan keputusan ayahnya langsung memberontak dengan cara memprotes jawaban ayah.
“Ayah! Bian enggak setuju!”
Mata Raka langsung melotot kearah Sabian yang duduk di sampingnya. “Bian,” lirihnya dengan pelan. “Em ... Pak, maaf, Bian memang seperti ini. Ya itu tadi, anaknya masih labil.”
“Ah, tidak apa-apa. Namanya juga anak muda. Terlebih mereka berdua belum saling mengenal. Wajar saja kalau saat ini Nak Bian belum setuju. Dulu Abah sama Umi juga seperti itu, tapi dulu Umi yang enggak setuju. Tapi seiring berjalannya waktu dan perjuangan Abah untuk tetap mendapatkan hati Umi, akhirnya ada jalan dan lihatlah sekarang.”
“Nah ... kamu dengarkan itu, Bi!” sahut ayahnya. “Oh iya, sebenarnya kedatangan saya ke sini untuk memasukkan Sabian ke pesantren ini lebih awal, bagaimana apakah bisa, Pak?” lanjut ayah Sabian.
__ADS_1
Lagi-lagi Sabian harus terkejut dengan ucapan ayah. Dengan kedua alis yang menaut, Sabian pun langsung menyahut, “Ayah ...! Maksud ayah apa? Bian belum lulus, Yah! Kalau Bian masuk pesantren, gimana dengan sekolah Bian, Yah!”
“Iya, ayah tahu. Jadi maksud ayah itu, kamu tetap masuk sekolah di tempat biasa, tapi pulangnya kesini. Setelah pulang sekolah, kamu baru mengikuti pelajaran yang ada di pesantren ini agar kamu bisa mendalami ilmu agama lebih cepat. Bukankah selanjutnya kamu akan menjadi seorang imam? Jangan sampai kamu tidak bisa menjadi imam untuk pasangan kamu, Bi! Kamu seorang laki-laki calon imam!”
Sabian hanya bisa menghela napas panjangnya. Apakah ini adalah buntut panjang dari masalahnya kemarin, karena Sabian telah ingkar?
“Yah ... tapi Bian belum siap! Bian enggak mau!”
“Cukup, Bian! Ayah sudah tidak ingin menerima alasan apapun dari kamu. Mau enggak mau, kamu harus mau. Kebetulan ayah juga sudah membawakan semua perlengkapanmu. Berhubung kamu tinggal disini, ayah hanya akan memberikan fasilitas yang secukupnya untukmu, jika kamu merasa keberatan, silahkan ajukan banding dengan ayah nanti di rumah!”
Tak ada pilihan lain selain pasrah. Itulah yang harus Sabian terima. Gak ada gunanya dia memprotes, karena tidak akan meruntuhkan keinginan ayahnya. Bahkan Sabian tidak menyangka jika semua perlengkapannya juga sudah dibawa oleh ayahnya. Yang artinya mulai saat ini Sabian akan resmi tinggal di pesantren.
“Pak Abdullah, saya titip Sabian. Jangan ragu untuk menegur ataupun memarahinya jika dia bersalah. Tolongl jangan perlakukan dia yang berlebihan, karena pada dasarnya saat Bian ada di pesantren ini dia adalah murid Pak Abdullah,” ucap Raka sebelum meninggalkan Sabian sebelum pulang.
“Pak Raka tenang saja, kami semua akan mendidik Sabian sesuai dengan tata tertib yang ada di tempat ini. Pak Raka jangan khawatir Sabian pasti bisa beradaptasi dengan baik di tempat ini.”
Sabian merasa sangat tertipu dan terjebak oleh Zura yang mengajaknya pulang dan kini wanita itu sama sekali tidak menunjukkan wajahnya. Mungkinkah Zura semacam Intel yang diutus oleh ayahnya untuk mengirim dia masuk ke kandang singa?
Aku yakin jika semua ini ada campur tangan dari Zura. Dasar wanita tidak bisa dipercaya! Lihat apa yang akan aku lakukan untuk membalas rasa sakit ini!
...###...
Maaf ya pemirsa sekalian jika jari othor khilaf karena ada beberapa yang othor blokir sehingga tidak bisa memberikan komentar lagi di novel ini. Othor bukan tidak menerima segala komentar, tapi othor enggak mau rate novel ini turun lagi karena jari kalian yang ngasih rate bintang 1. kalau enggak suka dengan novel ini, cukup tinggalkan saja daripada kalian merusak novel ini dengan kasih rate bintang 1. Tolong hargai usaha orang lain, jangan sampai rasa tidak suka kalian malah menjatuhkan karya orang lain. Atau jangan-jangan niatnya memang sengaja untuk menjatuhkan karya orang lain? Semoga yang memang merasa seperti itu baca tulisan ini. Apa untungnya kamu menjatuhkan karya orang lain? Apakah kamu sudah merasa paling sempurna? Halo ... aku ini hanya othor remahan, enggak ada novelku yang populer, jadi tidak ada untungnya kamu untuk menjatuhkanku. Ah, sudahlah ... 😤
__ADS_1