
Dengan berat hati Hanafi harus menolak permintaan Iza, karena saat ini ada hati yang harus dia jaga. Hanafi tidak mau menjadi sebuah kesalahpahaman untuk Ais dan membuat wanita itu kecewa. Terlebih Iza adalah istri dari mantan suaminya. Pasti akan ada rasa trauma jika Ais sampai salah paham.
Karena Hanafi tidak bisa memberikan tumpangan, dia pun memesankan ojek untuk Iza ke sekolah. Mungkin dengan begitu penolakan Hanafi tidak melukai hati Iza.
Lima belas menit kemudian Hanafi pun sampai di sekolah. Dia langsung bergegas menuju ke ke ruangan kepala sekolah karena saat ini Iza ada di sana. Hanafi hanya ingin memastikan jika tidak ada masalah apapun sehingga Iza diterima langsung oleh kepala sekolah.
“Assalamualaikum,” ucap Hanafi telah mengetuk pintu ruangan.
“Waalaikumsalam.”
Pak Burhan sebagai kepala sekolah langsung menyuruh Hanafi untuk duduk di samping Iza, karena Hanafi adalah orang yang merekomendasikan Iza untuk bisa mengajar di sekolahnya. Sebelum Iza bener-bener diterima untuk menjadi salah satu tenaga
pengajar di sekolahnya Pak Burhan hanya ingin memastikan jika Iza bisa bertanggung jawab dengan tugasnya sebagai seorang guru. Karena Pak Burhan tidak mau nama sekolahnya jatuh hanya karena sebuah keteledoran satu orang guru.
“Saya bisa memastikan jika teman saya ini bisa bertanggung jawab dengan amanah yang diberikan oleh pihak sekolah kepadanya. Dan saya bisa menjamin jika teman saya ini bisa mengabdi dengan sepenuh hati untuk sekolah ini, Pak,” jelas Hanafi.
“Baiklah, jika pak Hanafi bisa menjamin teman bapak, saya akan menerimanya untuk bergabung dengan sekolah ini. Akan tetapi jika suatu saat teman pak Hanaf melakukan sebuah kesalahan, Pak Hanaf sudah tahu konsekuensi yang harus Pak Hanaf terima ya. Karena saya tidak mau nama sekolah ini jatuh hanya karena keteladanan satu orang saja.”
“Iya, Pak. Saya mengerti dan saya siap untuk bertanggung jawab atas Ibu Iza.”
Setelah menyelesaikan urusannya dengan kepala sekolah Hanafi langsung mengajak Iza ke ruangan para guru untuk memperkenalkan Iza sebagai tenaga pengajar yang baru. Kedatangan Iza pun disambut baik oleh para guru lainnya.
“Selamat datang dan selamat bergabung sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, Bu Iza. Semoga Ibu Iza tetap semangat untuk menghadapi para anak-anak yang sedikit sulit untuk diatur, tetapi percayalah sebenarnya mereka adalah anak-anak yang baik,” sambut Bu Endang, salah satu guru matematika.
“Terima kasih, Bu. Sebelum memutuskan untuk menjadi tenaga pengajar saya sudah memikirkan semuanya. Jadi insya Allah saya sudah siap menghadapi tantangan yang ada,” jelas Iza.
Setelah melakukan perkenalan satu persatu dengan guru yang ada di ruangan itu, kini dia pun dibawa oleh kepala sekolah untuk melakukan perkenalan kepada semua siswa yang ada. Karena tanpa perkenalan tak akan ada yang bisa mengenal jika Iza adalah guru baru di sekolah itu.
Penyambutan Iza pun diterima baik oleh semua siswa yang ada. Bahkan ada beberapa siswa yang mencoba untuk menggodanya, hingga membuat suasana menjadi pecah dengan tawa. Iza merasa bersyukur, karena masih dipertemukan dengan orang-orang baik yang mau membantu dirinya, termasuk dengan Hanafi.
__ADS_1
Meskipun Iza tahu siapa Hanafi yang sekarang, tetapi pria itu masih mau membantu dirinya.
“Hanaf,” panggil Iza setelah acara perkenalannya dibubarkan.
Hanafi yang merasa namanya dipanggil segera menoleh ke belakang. “Iya, ada apa?”
“Em ... sebelumnya aku sangat berterima kasih dengan bantuan yang telah kamu berikan untukku. Jika kamu tidak membantuku, mungkin aku tidak tahu harus mencari pekerjaan seperti apa di kota ini.”
“Iya, sama-sama. Anggap saja ini adalah sebuah keberuntungan untukmu, karena jika tidak ada guru yang keluar mungkin kamu tidak bisa masuk ke sekolah ini.”
Iza pun mengangguk dengan bahan untuk membenarkan ucapanpun mengangguk dengan bahan untuk membenarkan ucapan Hanafi.
“Em ... Hanaf sebelumnya aku mau minta maaf, karena telah datang di kehidupanmu lagi. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk merusak kebahagiaanmu. Jika bukan karena Mas Azam yang pergi, mungkin aku tidak akan pernah meminta bantuanmu. Tolong sampaikan permintaan maafku pada Ais. Semoga dia tidak salah paham dengan bantuanmu ini,” ucap Iza yang merasa bersalah karena telah mendatangi hidup Hanaf dan juga Ais.
“Kamu tenang aja, Ais tidak akan marah dengan bantuan yang aku berikan padamu, karena saat ini hanya Ais yang ada di hati ini. Untuk kedepannya tolong jaga jarak agar tak menimbulkan sebuah kesalahpahaman. Oh, iya, aku duluan ya. Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa mencari Bu Rika, dia adalah guru pembimbing di sini.” Hanafi pun langsung meninggalkan Iza.
Hanaf, maaf jika aku datang di waktu yang tidak tepat. Tolong jangan berpikir yang macam-macam, karena aku tidak akan merusak rumah tanggamu dengan Ais
Baru saja Iza berbalik badan untuk menuju ke ruang guru, tiba-tiba saja tubuhnya ditabrak oleh seorang siswa yang sedang berlari.
Iza yang tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya langsung oleh, tetapi lengannya langsung ditarik oleh siswa yang menabraknya.
Brukk ...
Keduanya langsung terjatuh ke lantai secara bersamaan. Iza hanya bisa memejamkan mata karena dia sudah pasrah jika tubuhnya akan tergeletak di lantai. Namun, hingga beberapa detik, Iza tak merasakan kerasnya lantai hingga akhirnya dia memutuskan untuk membuka matanya.
Betapa terkejutnya setelah mata Iza terbuka. pantas saja dia tidak merasakan kerasnya lantai karena ada tubuh yang menjadi alasnya.
“Astaghfirullahaladzim,” pekik Iza yang kemudian menarik tubuhnya untuk segera bangkit dari tubuh yang sempat ditimpainya.
__ADS_1
“Aduhh ... sakit Bu,” rengek siswa yang masih tergeletak di lantai.
“Kamu enggak apa-apa? Apanya yang sakit? Maaf karena telah ... ” Iza tak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba dadanya berdebar dengan sangat kencang saat matanya bertemu dengan mata siswa yang masih tergeletak di lantai.
Cukup lama, hingga beberapa orang pun saling berdatangan untuk melihat Bian tergeletak di lantai.
Ya, dia adalah Sabian yang sering di panggil Bian. Salah seorang siswa yang mempunyai tingkat kenakalan luar biasa. Tak ada satu orang guru yang mampu untuk menasehati Bian, karena apapun yang yang didengar dari telinga kanan akan langsung keluar dari telinga kirinya.
“Nah itu dia ...!” teriak seseorang yang membuyarkan pandangan Bian pada guru barunya.
“Bu, tolong bantuin aku berdiri, jika tidak akan akan habis sama mereka,” ucap Bianyang sudah memerlukan tangannya untuk meminta bantuan pada Iza.
Mata Iza pun langsung menoleh pada beberapa siswi yang datang mendekat ke arahnya. Dengan cepat Iza langsung menarik tangan Bian agar bisa bangkit. Senyum di bibir Bian pun mengambang luas.
“Terima kasih, Bu.”
“Bian! Kembalikan apa ya kamu curi dari tasku!”
Bian langsung bersembunyi di belakang tubuh Iza, berharap guru baru itu mau membantu dirinya. “Ibu sudah aku selamatkan, jadi sekarang giliran ibu yang menyelamatkanku,” bisik Bian dengan pelan.
Iza hanya bisa menelan kasar salivanya, karena dia tidak tahu harus memihak pada siapa, karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Ada apa ini?” tanya Iza pada ketiga perempuan yang telah berada di hadapannya.
“Bu ... si Bian sudah mencuri pemba*lut kami!”
Bola mata Iza pun langsung terbelalak dengan lebar saat mendengar aduan dari ketiga muridnya. Mendadak tubuhnya terasa lemas. Padahal dulu dia pernah bersekolah, tetapi dia tidak menemukan teman prianya mencuri pemba*lut.
...###...
__ADS_1