Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
S—2 : Cinta Untuk Sabian


__ADS_3


Sesampainya di rumah Raka langsung memprotes tentang perjodohan Sabian dengan Aluna pada sang ibu. Jelas saja Raka sangat tidak setuju jika jodoh untuk anaknya dianggap terlalu tua, mengingat saat ini usia Sabian masih menginjak dianggap 18 tahun.


“Bu, pokoknya Raka enggak setuju kalau Sabian berjodoh dengan Aluna!” tegas Raka pada ibunya.


Ibunya pun hanya bisa menghela napas panjangnya. Dia sendiri juga tidak tahu jika usia Aluna jauh diatas Sabian. Terlebih wajah Aluna sama sekali tidak menunjukkan jika saat ini telah berusia 28 tahun.


“Ibu juga enggak terima, Ka! Ibu enggak tahu jika ternyata usia Aluna tidak menginjak 28 tahun. Ibu pikir masih sekitar 25an.”


“Terus gimana dong, Bu! Enggak mungkin kan kalau perjodohan ini dibatalkan? Mau diletakkan dimana wajah Raka pada keluarga pak Abdullah, sedangkan kita masih membutuhkan bantuannya.”


Ibu Raka langsung menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dengan kepala yang berdenyut, karena ternyata dia salah sasaran. Seharusnya yang diminta untuk dijodohkan dengan Sabian itu adalah adiknya Aluna, bukan Aluna.


“Ibu enggak tahu, Ka! Ibu pikir usia Aluna itu masih sekitar 25 tahunan. Semua ini salah ibu yang tidak mencaritahu lebih dalam terlebih dahulu. Ka, bisa enggak ya kalau jodoh untuk Bian diganti sama adiknya Aluna saja? Ya, meskipun usianya juga tetap berada diatas Sabian, tapi setidaknya tidak terlalu jauh. Kira-kira Pak Abdullah mau enggak ya?”


“Gak tahu! Raka capek, mau istirahat dulu!” Raka pun memilih untuk meninggalkan ibunya begitu saja.


Disisi lain Zura memutuskan untuk membicarakan masalah perjodohan sang kakak lebih awal, karena satu Minggu kedepan dia akan kembali ke asrama untuk kuliah lagi.

__ADS_1


“Abah,” panggil Zura yang masih melihat Abahnya duduk sambil menonton telivisi.


“Zura?” Abah langsung mendongak. “Ada apa?”


Zura langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa samping Abah dengan bibir menyunging lebar. Melihat sikap putrinya sang Umi sudah bisa menebak jika saat ini ada sesuatu yang sedang diinginkannya.


“Udah, langsung ngomong aja, Ra! Ini udah malam. Bukankah besok kamu juga harus bersiap untuk pergi ke kampus lagi. Jangan tidur malam-malam, enggak baik untuk kesehatanmu!” ujar Uminya yang sudah bisa menebak niat Zura.


Zura tertawa kecil sambil merangkul lengan Abahnya dengan manja. Sebagai anak bungsu dan anak yang paling bisa diandalkan, tentu saja Zura sangat disayangi oleh Abahnya.


“Ada apa? Apakah tentang uang bulanan? Kamu pulang saja, Abah akan mengirim besok pagi!”.


“Itu poin kedua Bah, karena ada poin pertama yang sangat penting. Tapi Abah janji dulu kalau Abah enggak boleh marah. Oke?” rayu Zura dengan manja.


“Tergantung sih tentang masalah apa itu. Jika masih bisa ditoleransi, Abah tidak akan marah. namun begitu juga sebaliknya. Berhubung ini sudah malam jadi langsung saja pada intinya. Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, mengapa ada mencium aroma yang tidak sedap.”


Zura pun tertawa kecil. Karena tidak ingin memperpanjang waktunya lagi dia pun langsung pada intinya untuk membahas masalah perjodohan kakaknya dengan Sabian.


“Abah ... apakah Abah yakin ingin tetap melanjutkan perjodohan Kak Luna dengan Sabian? Bah ... perbedaan usia mereka itu terlalu jauh, lho! Dan terlebih Kak Luna sendiri telah memiliki calon imam yang benar-benar bisa bisa menuntun ke surga. Apakah Abah tidak kasihan pada Kak Luna?”

__ADS_1


Seketika bola mata Abah dan Umi langsung terbelalak dengan pengakuan Zura yang mengejutkan karena selama ini mereka berdua sama sekali tidak pernah mencium aroma jika putri sulungnya menjalin kasih dengan seorang pria. Bahkan sehari-harinya saja dihabiskan untuk mengajar di pesantren, lalu mana mungkin bisa berhubungan dengan seorang pria.


“Ra, kamu ngomong apa? Mana mungkin kakak kamu mempunyai calon imam, sementara hari-harinya saja dihabiskan untuk mengajar di pesantren. Keluar dari rumah aja enggak pernah,” bantah Uminya.


“Tapi Zura tidak berbohong, Umi! Kak Luna memang benar-benar telah memiliki calon imam sendiri. Bahkan calon imannya jauh lebih baik daripada Sabian. Abah ... tolong jangan paksa kak Luna untuk menerima perjodohan ini, terlihat calon imam Kak Luna adalah Sabian yang tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan kak Luna.”


Abah masih terdiam tanpa kata, karena ini adalah keinginan yang sangat berat. Perjodohan yang telah lama di bahas, tetapi baru disepakati dalam waktu dekat ini sebenarnya juga menggangu pikiran Abahnya, mengingat usia putrinya sulungnya telah sangat matang untuk berumah tangga.


“Tidak bisa, Ra! Perjodohan ini akan tetap berjalan, karena Abah tidak ingin mengecewakan keluarga besarnya Sabian yang telah banyak membantu dalam menghidupkan pesantren ini. Jika kakakmu memang memiliki calon imam, siapa dia dan tinggal dimana? Sudah sejauh mana hubungan mereka berdua. Apakah kakakmu tidak pernah mendengarkan kata-kata Abah yang melarangnya untuk berpacaran?”


“Abah ... apakah Abah akan marah jika Zura mengatakan dengan siapa kak Luna berpacaran? Lagain pacaran itu hal yang wajar kan untuk anak muda? Memangnya dulu Abah sama Umi enggak pacaran? Toh Kak Luna pacaran juga masih bisa menjaga diri. Buktinya sampai saat ini mereka berdua enggak pernah berpegang tangan.”


“Lalu apakah dengan tidak bersentuhan tidak menimbulkan dosa? Tetap dosa, Ra! Hanya saling menatap saja mereka berdua telah berdosa, karena tidak bisa menjaga pandangan sebelum halal,” timpal Uminya.


Zura langsung mengerucutkan bibirnya. Meskipun terlahir sebagai anak yang mempunyai latar belakang agama cukup bagus, tetap saja Zura sama seperti wanita di luar sana yang bebas saling berpandangan dan berinteraksi dengan lawan jenisnya. Bahkan Zura pernah kabur dari rumah hanya karena tidak diizinkan untuk berteman dengan lawan jenisnya.


“Tuh kan semua jadi dosa! Terus gimana dong biar enggak jadi dosa?” gerutu Zura.


“Ya satu-satunya jalan menikah. Dengan cara seperti itu mengurangi dosa mereka,” timpal Abahnya.

__ADS_1


“Ya udah, nikahkan aja Kak Luna sama pilihannya sendiri biar enggak numpuk dosanya!” celetuk Zura dengan asal.


...###...


__ADS_2