
Sesampainya di rumah sang kakak, ternyata orang tua Hanafi telah sampai lebih awal. Keduanya merasa heran mengapa Ais dan juga Hanafi datang terlambat padahal saat meninggalkan rumah mereka berdua lebih awal.
“Kalian dari mana mengapa baru sampai? bukankah kalian sudah meninggalkan rumah sejak tadi?” tanya Ibu Hanafi.
Ais dan juga Hanafi hanya bisa saling berpandangan. Keterlambatan mereka berdua karena harus menghadapi Azam yang tiba-tiba menghadangnya di jalan.
“Tadi kami singgah di toko sebentar, Bu,” jawab Hanafi berkilah.
“Ke toko? Beli apa? Terus mana yang dibeli?” cecar Ibunya.
Seketika Hanafi menelan kasar salivanya karena tidak bisa memberikan sebuah alasan yang tepat. Tangan Ais pun mendadak terasa dingin dan rasanya terlalu gugup untuk menjawab pertanyaan Ibu mertuanya. Tidak mungkin Ais mengatakan jika dia baru saja dihadang oleh mantan suaminya.
“Oh itu ... ternyata barang yang dicari sama Mas Hanaf nggak ada di toko Bu,” timpal Ais.
“Memangnya kamu mau beli apa sih, Han? Kan bisa tadi telepon Ibu. Atau ini hanya akal-akalan kamu saja agar bisa lebih lama naik motornya. Iya, kan?” tuduh ibunya.
“Aduh ibu, sudahlah! Maklumi aja mereka ini kan pengantin baru. Jadi wajar dong kalau mereka mau muter-muter dulu. Kayak ibu nggak pernah muda aja!” Bapak Hanafi menimpali.
Kedua orang tua Ais hanya bisa tersenyum saat melihat putrinya tersenyum kembali, terlebih saat melihat perlakuan hangat dari mertuanya yang sebelumnya mengatakan jika mereka tidak memburu Ais untuk memiliki momongan karena saat ini Ais masih berstatus sebagai seorang mahasiswi.
Cukup lama orang tua Hanafi berbincang-bincang dengan orang tua Ais. Meskipun keduanya baru bertemu dan baru saling mengenal tetapi keduanya sama-sama satu frekuensi dan saling menyambung dalam bercerita.
Ais dan Hanafi hanya menjadi pendengar dari keempat orang tuanya tanpa ingin ikut menyela. Sesekali mata Hanafi melirik ke arah Ais yang berlimpah cantik. Seketika bayangannya mengingat pada sosok yang sempat menghadangnya di jalan tadi.
__ADS_1
Hanafi tidak menyangka jika mantan suami Ais juga tinggal disini. Bahkan yang membuat Hanafi tidak habis pikir mengapa bisa pria itu tidak memiliki urat malu, padahal dia yang telah melepaskan berlian secantik Ais. Dan lihatlah saat Ais telah berada di tangan orang lain dia baru menyadari kesalahannya lalu merasa menyesal. Lelaki macam apa itu?
Lama-lama Hanafi merasa ada yang kurang ketika tidak melihat sosok Adam yang ikut duduk. Karena merasa penasaran Hanafi pun bertanya kepada Ibu mertuanya.
“Oh iya, Bu. Mas Adam dimana ya? Kok enggak kelihatan?”
Ibu Ais yang ditanya segera menoleh ke arah Hanafi. “Oh Adam. Dia sedang ada pelatihan di luar kota untuk beberapa hari ke depan. Apakah tadi Adam tidak memberitahumu?”
Hanafi menggeleng dengan pelan. "Enggak, Bu.”
“Yo wes ndak papa. Tadi Adam berpesan sama ibu selama Adam di luar kota, lebih baik kalian menginap untuk menunggu si Jalu,” ujar ibunya Ais.
“Si Jalu?” cicit Ais dengan mengernyit.
Selama beberapa bulan tinggal bersama dengan kakaknya, Ais sama sekali tak pernah tahu jika di rumah itu ada si Jalu. “Siapa dia?” lanjutnya lagi.
"Astaghfirullahaladzim ... ternyata Jalu si Beo. Si Jalu kok dibawa kesini?”
“Mas mu yang nyuruh. Katanya biar temennya.”
Cukup lama perbincangan dua keluarga yang baru saling mengenal. Tak ada rasa canggung untuk saling bercerita dengan para orang tua. Yang ada hanyalah rasa canggung diantara Ais dan juga Hanafi.
Karena waktu sudah hampir larut, orang tua Hanafi memutuskan untuk pulang. Mereka berdua tidak keberatan jika untuk beberapa hari ke depan Ais dan Hanafi tinggal di rumah Adam. Mereka berdua juga ingin memberikan ruang untuk pasangan pengantin baru untuk bereksperimen dengan cara mereka.
__ADS_1
...***...
Hampir satu jam, mata Ais tak kunjung terpejam. Lagi-lagi karena dia harus tidur dalam keadaan terang benderang. Dan saat melihat ke samping di lehernya Hanafi telah terlelap.
Karena Ais tak bisa tidur, akhirnya dia mencoba untuk mematikan lampu kamar. Namun, sebelum mematikan lampu kamar Ais menyalakan sebuah lampu kecil yang tidak terlalu terang agar suasana tidak terlalu gelap. Mungkin mulai saat ini dia harus melatih Hanafi untuk bisa tidur dengan cahaya yang tidak terlalu terang.
Baru saja Ais mematikan lampu, Hanafi langsung terbangun. “Ais, apa yang kamu lakukan?” tanyanya dengan cepat.
“Mas Hanaf.” Ais sedikit terkejut. “Maaf aku matikan lampunya karena aku tidak bisa tidur, Mas. Tapi tenang, ini enggak gelap banget kok, karena ada cahaya lampu kecil itu.” Ais menginjak sebuah lampu yang berada di nakas sebelah Hanafi.
“Mas Hanaf gak usah takut, karena ada Ais disamping Mas Hanaf. Percayalah, tidak akan ada apa-apa. Ayo tidur lagi!” Ais mencoba untuk menenangkan Hanafi yang tiba-tiba merasa panik. Dengan patuh Hanafi mengikuti pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Ais. Dadanya pun bergerumuh ketika Ais memeluk tubuhnya dengan erat. Helaan napas berat terdengar begitu panjang. Untuk kali pertama setelah sekian tahun Hanafi harus tidur dalam keadaan gelap.
Berbagai macam bayangan muncul di kepalanya tetapi karena pelukan hangat dari Ais salah rasa takut itu entah pergi ke mana karena saat ini yang dirasakan oleh Hanafi hanyalah sebuah kehangatan.
“Mas Hanaf, Ais minta maaf jika harus memaksakan keinginan Ais untuk tidur dalam keadaan temeram seperti ini. Jujur, Ais tidak bisa tidur dalam keadaan terang benderang,” ucap Ais dengan pelan.
“Iya, gak apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf dengan kekurangan yang aku miliki. Tapi aku demi kamu aku akan mencoba untuk melawan rasa takutku. Aku tidak apa-apa Ais. Tidurlah!”
“Mas ... ” panggil Ais dengan pelan.
“Ya Ais, ada apa?”
“Bisakah aku meminta sesuatu kepada Mas Hanaf?” tanya Ais dengan sebuah keberanian yang tinggi.
__ADS_1
“Apa itu?”
...#BERSAMBUNG#...