
Abah dan Umi merasa sangat shock ketika putri bungsunya mengatakan jika pria yang diam-diam telah menjalin hubungan dengan Aluna ada Yusuf, orang kepercayaan keluarganya.
“Zura ... apakah kamu bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah kamu bicarakan? Jika itu tidak benar, jatuhnya fitnah lho! Yusuf itu telah dianggap abah sebagai kakak kalian. Tidak mungkin dia mempunyai dia akan mengecewakan Abah dengan cara mencintai kakakmu,” ucap Umi yang masih tidak percaya dengan penjelasan Zura tentang pria yang telah menjalin hubungan dengan Aluna.
“Umi ... untuk apa Zura berbohong dan memfitnah kak Yusuf? Zura bisa mempertanggung jawabkan atas apa yang Zura katakan. Lagain wajar aja sih kalau kak Yusuf dan Kak Luna saling menyimpan perasaan, karena mereka udah lama bersama. Abah ... tolong jangan egois! Kak Luna itu hanya seorang anak yang ingin berbakti kepada orang tua, tetapi tidak dengan cara seperti ini, Bah! Kak Luna berhak bahagia dengan pilihannya sendiri. Begitu juga dengan kak Yusuf. Jangan hanya karena dia sudah dianggap sebagai anak Abah, lalu dia tidak diizinkan untuk mencintai kak Luna.”
Abah hanya bisa menghela napas kasarnya. Bagaimana bisa Yusuf yang telah dia anggap seperti anaknya sendiri ternyata mempunyai perasaan lain kepada salah satu putrinya. Dan itu telah berjalan selama hampir tujuh tahun.
“Abah ... apakah Abah kecewa dengan kak Yusuf?” tanya Zura saat melihat Abahnya diam tanpa kata.
__ADS_1
“Zura, pergilah tidur! Ini sudah malam, besok pagi kamu harus bersiap untuk kembali ke asrama.” ujar Abahnya yang masih berat untuk menjawab akan pertanyaan Zura.
“Tapi Abah belum menjawab pertanyaan Zura!”
Lagi-lagi Abahnya hanya bisa menghela napas panjangnya. “Abah tidak tahu apakah apa harus kecewa pada Yusuf atau tidak, karena untuk saat ini Abah masih merasa sangat shock. jadi Abah belum bisa memberikan jawabannya. Tapi sebelumnya Abah berterima kasih kepadamu karena kamu telah memberitahu Abah tentang kebenaran ini. Abah tidak ingin menjadi seorang yang paling egois karena telah memaksakan keinginan Abah tanpa mengetahui bagaimana tentang perasaan putri Abah.”
Sepeninggal Zura, Abah dan Umi masih sama-sama termenung di tempat duduknya. Keduanya bener-bener tidak menyangka jika ternyata selama ini Aluna menyembunyikan kebenarannya dengan sangat lama.
“Umi, jadi bagaimana pendapat Umi tentang semua ini! Ternyata putri kita telah mempunyai calon imam. Sementara Abah telah menyetujui tentang masalah perjodohan ini pada keluarga Sabian tidak mungkin Abah membatalkan begitu saja.”
__ADS_1
“Jika Abah bertanya tentang pendapat Umi, jelas saja Umi merasa sangat kecewa dengan mereka berdua yang secara diam-diam telah menyembunyikan perasaan mereka. Mengapa tidak jujur saja meskipun akan terasa pahit. Jika sudah seperti ini harus bagaimana? Tidak mungkin kita akan membatalkan tentang perjodohan Aluna dengan Sabian kan?”
Abah menganggukkan kepalanya dengan pelan seolah mengiyakan apa yang telah dibicarakan oleh istrinya. Seharusnya Aluna dengan Yusuf berterus terang sekalipun rasanya sangat pahit. Jika sudah seperti ini Abah tidak bisa berbuat apa-apa.”
Terasa berat untuk menerima kenyataan, akan tetapi Abah Abdullah tetap berusaha tenang. “Sudahlah Umi .. kita bahas besok lagi, karena Abah sudah mengantuk.” Abah pun langsung meninggalkan istrinya yang manis menunggu penjelasan dari suami.
“Abah, tunggu!” teriak Umi saat Abah berlalu tanpa kata.
...###...
__ADS_1