Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 75


__ADS_3

Ais tidak tahu apa yang terjadi dengan Jelita dan kemana dia pergi, karena saat Ais mengunjungi rumahnya Jelita tidak ada. Menurut informasi dari penjaga rumah, Jelita pergi bersama dengan kakaknya, tetapi tidak tahu pergi kemana.


“Sebenarnya ada apa dengan Jelita, mengapa dia pergi tanpa kabar?”


Tidak ada Jelita rasanya sepi, karena Ais memang tidak mempunyai teman dekat lagi selain Jelita. Sebenarnya Ais tidak pilih-pilih teman, tetapi karena tak ada satupun orang yang mau berteman dengan Jelita, diapun memilih untuk berteman dengannya, meskipun imbasnya dia juga ikut di jauhi oleh teman-temannya lainya.


Berada di kantin seorang diri, Ais pun merasa bosan, namun saat dia ingin meninggalkan tempat duduknya, tiba-tiba dia mengurungkan niatnya karena mendengar pembicaraan orang yang duduk tepat dibelakangnya.


“Jadi bagaimana pendapatmu tentang anak cupu itu?”


“Anak cupu? Maksud kamu Jelita?”


“Jadi siapa lagi anak cupu di kampus ini kamu bukan dia? Mudah-mudahan aja tuh anak menghilang untuk selamanya, biar gak sepet mata ini lihat kacamata tebalnya itu.”


“Kamu kenapa sih kayak benci banget sama dia? Emangnya dia salah apa?”


“Ya, karena dia cupu dan jelek. Pokonya aku enggak suka banget sama dia, apalagi dia dekat sama Bagas. Pokoknya aku enggak suka sama si cupu itu!”


Ais hanya bisa menghela napas panjangnya. Ingin rasanya Ais melabrak dua orang yang sedang membicarakan sahabatnya, tetapi Ais mencoba untuk menahan karena saat ini sedang berada di lingkungan kampus. Ais tidak mau kecerobohan akan membawa masalah besar untuknya nanti.


Lita ... sebenarnya kamu kemana, sih? Apakah kamu sedang ada masalah?


***


Sudah satu Minggu Ais dan Hanafi tidak sempat mengunjungi ibunya, membuat wanita semakin resah dan takut jika menantunya masih mengalami morning sickness. Terlebih kehamilan Ais telah diketahui oleh Hanafi. Sudah bisa dipastikan jika Ais akan mengatakan kejujuran tentang alasan mengapa Ais menyembunyikan kehamilannya.


“Jangan-jangan Hanafi memang sedang marah kepadaku, sehingga tidak datang ke rumah. Pasti dia juga melarang Ais untuk kesini. Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus ke sana untuk memastikannya.”


Untuk memecahkan ketakutan, sore ini dia berencana untuk menjenguknya, tetapi dia harus membawa buah tangan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh wanita hamil muda pada umumnya.


Setelah memberitahu pada Ais, ibu mertuanya langsung meluncur ke supermarket untuk membeli buah segar, karena saat ini yang dibutuhkan oleh Ais adalah buah-buahan segar.


Ais yang sedang ingin tidur, tiba-tiba terbelalak dengan lebar setelah membaca pesan dari ibu mertuanya. Dengan cepat dia memberitahu suaminya jika ibunya akan datang hari ini juga.

__ADS_1


“Mas, ibu mau kesini. Di kulkas ada sayuran apa?”


Ya, setelah Hanafi mengetahui jika istrinya sedang hamil, Ais tak diizinkan lagi untuk menyentuh peralatan dapur, karena Hanafi yang mengambil alih untuk menyiapkan sarapan dan makan malam mereka.


“Kayaknya enggak ada sayuran apa-apa, deh! Kita kan belum belanja. Udahlah gak usah khawatir ibu pasti bawa makanan banyak nanti.”


“Tapi Mas ... ”


“Udah, enggak usah tapi tapian! Kayak enggak tahu gimana sifat ibu aja!”


Ais pun terpaksa menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya. Sebenarnya Ais tahu bagaimana sifat ibu mertuanya, hanya saja dia merasa tidak enak jika kedatangannya tidak dimasukkan apa-apa. Ais tidak mau dianggap sebagai menantu yang tidak baik kepada mertuanya.


Namun, sayangnya ibu mertuanya tidak peduli akan hal itu, karena mau menjadi pendamping anaknya saja dia merasa bahagia, sehingga anaknya tidak menjadi bujang lapuk.


Tak butuh waktu lama suara bel pun berbunyi. Ais bergegas untuk membukakan pintu karena dia yakin yang datang adalah ibu mertuanya.


“Ais, jangan lari-lari!” teriak Hanafi yang melihat Ais berlari untuk membuka pintu.


“Assalamualaikum,” ucap ibu mertuanya sambil tersenyum lebar saat melihat wajah menantunya.


“Waalaikumsalam. Ibu, ayo masuk!”


Ais segera mengambil alih 2 paper bag yang ditempel oleh ibu mertuanya dan langsung menyilahkan sang ibu mertua untuk duduk di sofa. “Ibu mau minum apa? Biar Ais buatkan?” tawar Ais.


“Gak usah repot-repot. Air putih aja udah cukup.”


Setelah Ais berlalu ke dapur, Hanafi langsung menyalaminya dan menanyakan kabarnya. Hanafi memang masih sedikit kesal karena ibunya menyuruh Ais untuk menyembunyikan perihal kehamilannya. Padahal itu adalah kabar yang sangat dia harapkan.


“Kamu masih marah sama Ibu?” tanya ibunya.


“Tidak. Memangnya Ibu salah apa sehingga Hanaf harus marah. Kan surganya Hanaf ada dibawah telapak kaki Ibu,” ucap Hanafi dengan pelan.


“Lalu kenapa kamu enggak telepon ibu ataupun pulang ke rumah? Kamu ini anak ibu, jadi ibu tahu tentang kamu. Kamu itu sedang kesal sama ibu, iya kan?”

__ADS_1


Meskipun Hanafi mencoba untuk mengelak atas tuduhan yang diberikan oleh ibunya, tetapi tidak dengan Ais yang tiba-tiba menyeletuk dari belakang dan membenarkan apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya jika suaminya memang sedang merasa kesal dengannya.


“Iya, Bu. Mas Hanaf emang lagi kesal sama Ibu dan melarang Ais untuk singgah ke rumah Ibu.”


“Benarkah?”


“Iya Bu.”


Kini Hanafi yang bisa menghela napas panjangnya ketika sang istri tak berpihak kepadanya. “Ais .... seharusnya kamu itu berpihak sama suami kamu, bukan malah berpihak sama Ibu!”


“Ais bukan berpihak kepada Ibu, Mas! Tapi Ais berpihak pada kebenaran. Kan emang Mas Hanaf ngelarang Ais untuk ke rumah ibu karena mas Hanaf kesal ibu udah nyuruh Ais untuk menyembunyikan tentang kehamilan Ais,” beber Ais.


“Ya udahlah ... terserah kamu aja, yang penting kamu seneng!” Kini Hanafi memilih pasrah, karena tetap tidak akan memang untuk melawan Ais


***


Disisi lain, Sabian memprotes keras keputusan ayahnya yang menunjuk guru baru itu sebagai guru lesnya. Padahal masih banyak guru lain yang lebih berpengalaman tetapi kenapa harus guru baru itu? Namun, sayangnya keputusan sang ayah telah bulat. Mau tidak mau Sabian harus menerima keputusan ayahnya.


“Ayah ... pokoknya Bian enggak mau les sama Bu Iza! Dia itu guru baru yang belagu dan galak. Ayah mau kalau Bian dimarah-marah terus ayahnya?”


“Bian ... mau tidak mau kamu harus mau! Lagian ayah tidak peduli jika kamu di marah-marah olehnya selagi itu untuk kebaikan kamu. Ayah udah capek ngandelin kamu yang sama sekali nggak bisa berubah. Tapi jika kamu tidak mau ya sudah kamu masuk ke pesantren aja!”


Satu senjata yang sangat ditakuti oleh Sabian yaitu Pesantren. Sabian sangat takut dengan pesantren karena dia pernah dikirim ke tempat itu. Namun, karena Sabian tidak betah dengan semua peraturan yang ada, dia pun memilih kabur.


“Bisa gak sih ayah itu gak ngancam Bian dengan mengirim Bian ke pesantren!”


“Sebenarnya bisa, cuma kamunya aja ya mancing ayah untuk ngancam kamu untuk pergi ke pesantren. Coba kamu itu enggak selalu bikin ulah, ayah enggak akan ancam-mengancam kamu. Pokoknya nanti sore kamu harus les sama ibu Iza. Dia itu guru yang baik dan berhati lembut. Ayah yakin dia bisa merubah kamu menjadi lebih baik. Lihat wajahnya saja udah adem.”


Tak terasa kedua garis bibir ayahnya terangkat tipis. Dan ini adalah kali pertama ayah Sabian mengagumi seorang wanita setelah kepergian istrinya.


Sabian yang melihat senyum di bibir ayahnya langsung bergidik geli sambil menyelutuk, “Jangan bilang ini hanya akal-akalan ayah untuk mendekati Bu Iza kan?”


...###...

__ADS_1


__ADS_2