Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 66


__ADS_3

Seperti biasa sesampainya di kampus Ais langsung disambut oleh Jelita, satu-satunya sahabat yang dimilikinya. Meskipun seringkali Jelita merasa minder karena tak secantik Ais, tetapi Ais terus menyakinkan Jelita jika semua perempuan itu pada dasarnya cantik semua. Tidak ada yang jelek di mata Allah, karena semuanya sama. Hanya saja yang membedakan adalah hatinya. Untuk apa jika wajah cantik, tetapi hatinya buruk?


“Lita, bisakah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Ais saat menaiki anak tangga bersama dengan Jelita.


“Memangnya kamu mau tanya apa?”


Ais baru mengingat jika beberapa waktu yang lalu Jelita pernah mengatakan jika dia mempunyai perasaan kepada salah seorang dosen yang tak lain adalah kakak kandungnya. Dan untuk memastikan apakah rasa yang dimiliki oleh Jelita itu adalah rasa cinta atau hanya kekagumannya sesaat.


“Em ... waktu itu kamu pernah mengatakan jika kamu menyukai dosen Adam kan? Terus sekarang gimana? Dosen Adam udah enggak ngajar lagi disini. Apakah kamu masih suka sama dia? Gimana kalau ternyata dosen Adam sudah memiliki wanita lain. Apa yang akan kamu lakukan? Ingin tetap memilikinya atau memilih untuk mundur?”


Jelita langsung terbelalak dengan lebar. Tidak menyangka Ais masih mengingat ucapan yang pernah keluar begitu saja dari mulut Jelita. Bahkan Jelita saja sudah hampir tidak mengingat jika dia pernah mengungkapkan isi hatinya di depan Ais.


“Ais ... ada apa? Tumben kamu tanya seperti itu?”


“Enggak ada apa-apa, Lit. Aku cuma pengen tanya aja kita kan sekarang udah jadi sahabat, jadi aku juga harus tahu tentang kisah asmara sahabatku.”


Jelita pun mendadak terdiam, karena rasanya tidak mungkin rasa cinta yang dimilikinya akan tercapai, karena saat ini orang yang dicintainya sudah pergi menjauh. Mustahil mereka berdua bisa bertemu kembali. Jikapun suatu saat mereka bertemu tentu saja dosen itu pasti sudah menggandeng wanita lain.


“Lita, kalau kamu enggak mau jawab juga enggak apa-apa, kok. Maaf jika pertanyaanku menyinggung perasaanmu,” sesal Ais, saat melihat Jelita yang tiba-tiba terdiam.


“Ais, kamu enggak salah jadi kamu enggak usah minta maaf. Lagian ini hanya perasaan sepihak aja, kok. Pak Adam tak akan pernah membalas perasaan ini karena aku yakin di sampingnya sudah ada bidadari yang menemaninya. Sudahlah Ais, enggak usah bahas lagi. Ini semua salahku, mengapa harus mempunyai perasaan kepada pak Adam.”


“Jadi intinya kamu ingin menyerah sebelum berjuang? Sama aja dong kalau rasa cinta itu tidak sungguh. Saran aku, jika kamu telah mencintai seseorang maka pertahankanlah dia sebelum dia dipertahankan oleh orang lain, karena suatu saat hanya sebuah penyesalan yang akan kamu rasakan. Kalau kamu mau berjuang aku bisa membantumu. Bagaimana?” tawar Ais.


Jelita menarik tipis kedua garis bibirnya. Dengan cara apa Ais ingin membantunya, jika saat ini saja mereka berdua tidak mengetahui dimana alamat dosen Adam. Surabaya bukan kota yang kecil, lalu apakah Ais bisa menemukan satu orang yang bernama Adam di kota itu?

__ADS_1


“Ais, terima kasih. Kamu adalah satu-satunya orang yang mendukung keputusanku, tapi tidak segampang itu untuk menemukan pak Adam di kota Surabaya, Ais. Terlebih aku juga tidak siap untuk merasakan sakit akibat penolakan. Sudahlah lupakan saja tentang perasaanku, karena itu hanya percuma.”


Ais memilih diam. Rasanya ingin sekali dia mengungkapkan jika dia adalah adik dari dosen yang sedang mereka bicarakan. Namun, Ais merasa jika waktunya belum tepat. Dia harus bisa menjelaskan dengan perlahan agar Jelita tidak merasa kecewa karena Ais menyembunyikan sebuah kebenaran.


Ais, orang yang kamu sukai itu kakakku. Jika kamu memang benar-benar tulus menyukainya, aku kan berusaha untuk membantumu. Mas Adam pernah terluka dalam percintaan,sl sehingga dia memilih untuk menutup pintu hatinya. Sebenarnya aku juga ingin mencari seseorang yang bisa menyembuhkan luka hatinya, tapi selema ini aku belum menemukan wanita yang tepat untuknya. Tapi aku merasa kamu bisa menyembuhkan luka itu. Lita, jika kamu benar-benar tulus mencintai mas Adam, aku bersedia untuk membantumu.


Selama materi berjalan Ais tidak bisa fokus untuk menyimak, karena perutnya kembali bergejolak. Rasa mual dan pusing tiba-tiba menyerang dirinya lagi.


“Ais, kamu kenapa?” tanya Lita, saat melihat wajah Ais tiba-tiba pucat.


Kepala Ais menggeleeng dengan pelan dengan kepala yang terasa berat. “Aku enggak apa-apa, Lit.”


“Bohong! Wajah kamu terlihat pucat. Mending kita ke ruang kesehatan!”


“Lit, aku beneran nggak apa-apa. Kamu enggak usah khawatir!”


“Pak!” panggil Jelita sambil angkat tangan. “Izin sebentar, teman saya sakit.”


Dosen yang sedang memberikan materi pun tak keberatan dengan izin yang diminta oleh Lita.


“Oke, silahkan!”


Baru saja Lita ingin membantu Ais untuk berdiri, tiba-tiba saja tubuh Ais langsung terhuyung dan ambruk kearahnya. Dengan sigap Lita menahan tubuh Ais agar tidak terjatuh.


“Pak ... Ais, Pak!” teriak Lita dengan panik.

__ADS_1


Seketika sang dosen pun langsung berlari menuju kearah Lita. Begitu juga dengan teman satu ruangan yang mulia mengerumuni Ais.


“Dia kenapa?” tanya dosennya.


“Enggak tahu, Pak. Tiba-tiba aja dia ambruk ke tubuh saya. Kayaknya pingsan, deh!”


“Ya sudah, tolong yang lain bantu Ais untuk ke ruang kesehatan. Tapi yang cewek aja ya! Ingat yang laki-laki bukan muhrimnya!”


***


Hanafi yang sedang mengajar tiba-tiba merasa cemas dan kepikiran dengan Ais yang hingga saat ini belum juga sembuh, meskipun sudah berobat dan meminum vitamin yang diberikan oleh pihak dokter. Rasanya ada yang janggal, karena sudah hampir satu Minggu tak ada perubahan apa-apa.


Matanya sejak tadi terus melirik ke arloji yang melingkar di tangannya. Entah mengapa waktu terasa lambat saat sedang di buru. Rasanya ingin segera kabur dari kelas hanya untuk menjemput Ais. Namun, itu bukanlah ide yang bagus, karena dianggap sebagai guru yang tidak bisa bertanggung jawab pada tugasnya.


“Pak Hanaf, ponsel Bapak bunyi!” seru salah seorang murid yang duduk tepat di depan meja Hanafi.


Hanafi langsung tersentak dari lamunannya. “Iya ada apa?”


“Hape bapak bunyi!” seru beberapa murid dari dengan serempak.


Dengan cepat Hanafi pun langsung melihat pada layar ponselnya. Namun, karena panggilan telah berakhir, Hanafi langsung menghubungi kembali nomer yang baru saja menelponnya.


“Halo Assalamualaikum ini siapa ya?” tanya Hanafi saat panggilan mulai tersambung.


Dari balik telepon, Lita yang menerima panggilan Hanafi langsung memberitahu jika saat ini Ais pingsan di kampus dan saat ini dia sedang di mendapatkan perawatan dari pihak kampus.

__ADS_1


“Pingsan?” cicit Hanafi rasa terkejut. “Baiklah, saya akan segera ke sana!”


...###...


__ADS_2