
Hampir setiap pagi, Ais terus saja mengalami morning skicnees, membuat Hanafi semakin semakin mengkhawatirkan keadaan Ais. Namun, Ais terus meyakinkan jika dia baik-baik saja. Rasanya ingin segera memberitahu kepada Hanafi jika saat ini dirinya sedang hamil, tetapi dia mengingat pesan Ibu mertuanya untuk tidak mengatakan terlebih dahulu kepada Hanafi sebelum waktunya.
“Ais, kayaknya kamu harus berobat lagi deh! Aku enggak yakin jika kamu baik-baik aja. Buktinya ini sudah satu minggu setelah kamu berobat tetapi sama sekali tidak membawa perubahan apa-apa. Setiap pagi kamu masih saja muntah-muntah. Jangan- jangan dokter yang memeriksamu itu adalah dokter kandungan," ujar Hanafi saat sambil memijat tengkuk Ais.
“Ais beneran nggak apa-apa kok, Mas. Kan cuma pagi aja muntahnya. Mungkin karena asam lambung aja yang naik. Ais juga udah minum vitaminnya kok. Buktinya kalau siang Ais seger bugar. Ini udah biasa ko, Mas. Mas Hanaf enggak usah khawatir. Ais enggak apa-apa.”
Meskipun Hanafi mengangguk dengan pelan, tetapi dia tetap tidak percaya dengan penjelasan yang diberikan oleh istrinya. Diam-diam dia perencanaan untuk membawa ke dokter untuk memastikan sebenarnya penyakit apa yang sedang diderita oleh istrinya.
Hanafi tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada. bisa saja saat ini Ais sedang menyembunyikan sebuah penyakit kepada dirinya, agar dirinya tidak terus-menerus mengkhawatirkan kesehatan Ais.
“Ya udah kalau kamu enggak apa-apa. Nanti pulang kuliah kamu tunggu aku! Aku akan jemput kamu!”
“Lho, kenapa Mas? Kan Ais pulangnya sama Jelita. Ais pulang kuliah juga nggak ngelamar kemana-mana kok.”
“Iya, tahu. Tapi untuk hari ini biar aku yang jemput. Udah lama kan kita enggak pulang bareng. Kamu enggak mau lagi aku jemput?” tanya Hanafi sambil menautkan kedua alisnya.
Ais pun langsung menggelengkan kepalanya. “Enggak, Mas. Bukan gitu! Ais cuma enggak mau gara-gara jemput Ais, pekerjaan Mas Hanafa jadi terganggu. Akhir-akhir ini Ais jadwalnya longgar jadi pulangnya cepat,” jelas Ais, berharap Hanafi berubah pikiran, karena sebentar Ais sudah mempunyai janji dengan ibu mertuanya untuk cek up lagi ke rumah sakit.
“Sama dong, kebetulan juga akhir-akhir ini di sekolah pelajaran enggak padat karena anak-anak cuma latihan untuk persiapan ujian nanti. udah nggak usah banyak alasan pokoknya nanti siang aku jemput!”
Ais membuang napas panjangnya. dia tidak bisa terus memberontak karena takutnya Hanafi akan mencurigai dirinya, karena terus mencari alasan penolakan.
“Ya udah. Nanti aku pulang sama Mas Hanaf. Puas!”
Hanafi tertawa kecil saat melihat wajah kesal Ais. Entah apa yang sedang disembunyikan darinya sehingga dia selalu menolak saat hendak di jemput. Mungkin Ais sudah merasa bosan?
Namun, dengan cepat menepis prasangka buruknya, karena dia sangat mempercayai Ais. Tidak mungkin Ais merasa bosan kepada dirinya. Jikapun iya, tidak mungkin setiap malam Ais akan nemplok seperti cicak di dinding.
***
__ADS_1
Pagi ini Iza mengalami keterlambatan untuk sampai ke sekolahan, karena terjebak macet yang cukup parah. Bahkan driver ojeknya sama sekali tidak bisa bergerak akibat kemacetan yang hampir melumpuhkan semua pengguna jalan, karena sebuah kecelakaan beruntun didepan sana.
“Pak saya turun aja di sini aja ya.”
“Tapi Mbak, ini masih jauh lho.”
“Enggak apa-apa, Pak. Palingan juga satu kiloan lagi. Kayaknya bakalan lama macetnya, Saya harus segara ngajar, Pak.”
Apa boleh buat, karena driver pun tidak bisa bergerak. Bahkan depan belakang terus-terusan membunyikan klakson hingga membuat telinga hampir pekak
“Ya udah, hati-hati, Mbak.”
Dengan terpaksa Iza pun berjalan di trotoar karena tempat hanya tempat itulah yang bisa dilewati. Bagi Iza jalan kaki bukan sesuatu yang berat, karena saat dia kuliah jalan kaki adalah transportasi utamanya. Hampir semua orang hanya berjalan kaki untuk menuju ke tempat tujuan.
Jangankan hanya satu kilo, dua kilo pun sanggup untuk Iza lewati. Dan pada saat itu melewati titik kecelakaan, dia tidak sanggup untuk melihatnya. Melihat darah saja tubuh Iza sudah bergemetar, apalagi melihat para korbannya.
“Astaghfirullahaladzim, Ya Allah jangan dari marabahaya. Lindungi juga kedua orang tua hamba yang jauh di sana. Semoga mereka selalu dalam lindungan-Mu. Amin.” gumam Iza dengan pelan.
Baru saja dirinya ingin menyeberang tiba-tiba sebuah klakson berbunyi dengan sangat nyaring.
Tiiinn ... tiinnn ....
Iza menahan nafas ketika melihat sebuah motor yang berjalan cepat ke arahnya. beruntungnya depan cepat pengguna motor bisa menghentikan laju motornya tepat di depan Iza. Hanya berjarak satu jengkal. Andaikan saja sang pengendara motor tidak bisa mengerem dengan tepat bisa jadi hal yang tidak diinginkan pun menimpa kepada Iza.
Masih dengan mata yang terpejam. Iza benar-benar pasrah ketika motor itu menabrak dirinya. Namun, cukup lama Iza tak merasakan sakit di tubuhnya. Itu artinya dia tidak apa-apa.
Ya Allah, apakah Enggak telah mengambil nyawaku? Mengapa aku tak merasakan apa-apa. batin Iza.
Tiinn .... Tinnn ...
__ADS_1
Tiba-tiba suara klakson kembali terdengar di telinganya. Perlahan Iza pun membuka matanya dengan pelan. Dilihatnya sebuah motor berhenti tepat di depannya dan saat melihat siapa yang sedang berada di atas motor Iza langsung menautkan kedua alisnya..
“Astaghfirullahaladzim ... Sabian!” Dada Iza berdegup dengan kencang saat menyadari jika dirinya tidak tersentuh oleh motor Bian.
“Bu, ibu kalau mau mati jangan bisa di jalan menuju ke sekolah. Di jalan raya yang ramai sana! Gimana tadi kalau motorku sampai menabrak Ibu? Ini motor baru satu bulan di beli. Emangnya ibu mampu untuk menggantinya kalau sampai ada yang lecet?”
Iza membuang napas kasarnya. Baru kali ini dia menemukan orang yang lebih mementingkan kendaraannya daripada keselamatan orang lain.
“Malah bengong disitu! Awas Bu!”
Iza hanya bisa mengelus dadanya. Dia pun segera minggir dengan langkah kaki yang masih bergemetar agar Bian segera lewat. Dan benar saja setelah helm kembali terpasang di kepala Bian, dia langsung menanjak gasnya untuk meninggalkan Iza yang masih berusaha untuk menetralkan detak jantungnya.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi kepada anak itu, sehingga sifatnya sangat arogant dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar? Mungkinkah dia anak tunggal yang selalu di manjakan oleh orang tuanya?” gumam Iza.
Tak berselang lama, Iza mengernyitkan dahinya saat motor yang baru saja meninggalkan dirinya kembali kearahnya. Tepat di samping Iza, Bian langsung berkata, “ Naik!”
Iza masih membeku di tempat, membuat Bian membunyikan klaksonnya lagi dan membuat gurunya terkejut.
“Astagfirullahadzim, Bian!”
“Siapa suruh ibu bengong disitu! Ayo naik!”
“Naik kesitu?” Iza menunjuk jok belakang motor Bian yang terlalu tinggi dan miring.
“Enggak, Buk! Naik ke puncak gunung sana! Ya jelas naik sinilah! Kenapa? Enggak mau? Kalau enggak mau ya udah. Ngapain juga tadi aku mikirin ibu,” gerutu Bian yang hendak menancapkan gas motornya lagi.
“Eh ... tunggu! Siapa juga yang bilang enggak mau!”
...###...
__ADS_1
( Cerita ini aku selingin Bian sama Iza ya, biar suasana enggak mati, karena disini enggak ada pelakornya 😂 )