Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 24


__ADS_3

Iza mencoba untuk tetap tenang saat mama Maya telah membawanya ke sebuah rumah sakit besar untuk melakukan pemeriksaan. Padahal jantungnya sudah berdegup tidak karuan. Keringat dingin terus bercucuran. Pikiran hanya terfokus pada satu tempat yaitu tentang orang tuanya. Dimana kedua orang tua Iza mempunyai banyak hutang pada mama Maya dan belum bisa melunasinya hingga saat ini.


Satu-satunya cara agar hutang piutang lunas adalah dengan cara Iza melahirkan anak Azam. Bahkan mama Maya juga sudah melakukan tes kesuburan pada Iza. Terbukti Iza tidak mempunyai masalah apapun sehingga dia bisa langsung memberikan cucu untuknya. Namun, ternyata Iza harus tertampar dengan jika Azam sama sekali tidak mau menyentuhnya. Padahal saat baru menikah, Azam sempat mengatakan jika pernikahan keduanya hanya sebatas untuk memiliki keturunan. Tetapi dengan berjalannya waktu, Azam berubah pikiran. Pria itu tidak mau memiliki anak dari Iza, karena masih mencintai Ais.


Sungguh kenyataan yang sangat memukul Iza. Entah alasan apa yang akan dia berikan pada mama mertuanya saat mengetahui jika dirinya belum hamil. Apakah nasibnya akan sama seperti Ais yang langsung akan diberikan dua pilihan terberat. Tapi apapun yang akan terjadi, Iza sudah siap untuk menerima, asalkan mama mertuanya tidak akan menyangkut pautkan masalah ini pada orang tuanya.


Kini mobil yang ditumpangi oleh Mama Maya dan juga Iza telah sampai di sebuah rumah sakit. Tak dipungkiri lagi Iza merasa sangat gugup saat mama Maya mengajaknya untuk keluar dari mobil.


Dengan peluh yang sudah membasahi keningnya, Iza pun memberanikan diri untuk mengikuti langkah Mama mertuanya.


Tiba-tiba saja perutnya merasa mual serta tubuhnya terasa lemas.


"Ma, tunggu!" Iza panggil mama mertuanya yang sudah berjalan lebih awal.


Mendengar suara Iza yang memanggil, mama Maya langsung menoleh kebelakang.


"Iza, kamu kenapa?" Mama Maya memilih menghampiri Iza yang merasa tak sanggup untuk berjalan lagi.

__ADS_1


"Ma, Iza gak kuat."


Mama Maya dengan sigap langsung menangkap tubuh Iza yang hampir luruh ke lantai. Tentu saja Mama Maya merasa sangat panik.


"Ya ampun Iza. Kamu kenapa? Jangan buat mama takut!"


"Suster!" Kini mama Maya langsung melanggar seorang suster untuk meminta pertolongannya.


"Sus, tolong menantu aku!" titahnya pada seorang suster yang telah menghampiri Mama Maya.


.


.


"Kalau jalan hati-hati!" ujar Adam, yang tak lain adalah salah satu dosen pengajarnya.


"Pak Adam," gumam Jelita yang masih terkesima dengan dosen yang selama ini menjadi dikaguminya. Dan kali ini dia bisa bertatap muka langsung dengannya lebih dekat daripada jarak di dalam kelas.

__ADS_1


"Terima kasih," lanjutnya saat menerima kacamata dari tangan Adam.


"Lain kali hati-hati jangan lari-lari, takutnya kacamata kamu jatuh dan pecah. Kan kamu juga akan rugi!"


"I—iya, Pak. Saya akan hati-hati lagi kedepannya. Maaf saya tidak sengaja menabrak Bapak karena saya sedang terburu-buru untuk mengejar teman saya," ujar Jelita.


Adam hanya mengangguk pelan dan kemudian memilih untuk mengajukan langkahnya kembali, tanpa ingin tahu tentang mahasiswinya lebih lanjut, karena Adam tidak tertarik dengan penampilan Jelita yang terlihat cupu.


Namun, berbeda dengan Jelita yang langsung memeluk kacamata yang sempat dipegang Adam tadi.


"Sepertinya aku harus segera mengganti kacamataku dan museumkan kacamata ini, karena kacamata ini ada jejak tangan Pak Adam," gumam Jelita dengan bibir yang masih mengembang luas.


Cukup lama Jelita masih terpesona dengan dosen yang baru saja ditabraknya sehingga dia melupakan tentang Ais yang entah telah pergi kemana.


"Astaga ... Ais!" Jelita pun langsung melanjutkan lagi untuk mencari Ais tanpa kacamatanya lagi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2