
Pagi ini setelah menyiapkan sarapan, Ais segera bergegas untuk berangkat ke kampus. Begitu juga dengan Hanafi akan akan kembali mengajar. Rasanya Ais sudah tidak sabar untuk mencecar Adam yang telah memberikan pakaian jaring-jaring untuknya.
“Mas Hanaf mending kita sarapan duluan aja. Kayaknya Mas Adam belum bangun. Mungkin dia mas Adam kelelahan,” ujar Ais yang hampir lima belas menit menunggu kedatangan kakaknya, tetapi tak kunjung keluar dari kamarnya.
“Coba kamu panggil dulu. Masa iya kita sarapan duluan.”
“Ya udah, aku panggil dulu.” Ais pun segera bangkit dari tempat duduknya untuk memanggil Adam yang masih berada didalam kamar.
Tokk ... tokk ... tookk ...
“Mas Adam ... udah bangun belum? Kalau udah, ayo sarapan! Udah ditungguin sama mas Hanaf!” seru Ais sambil mengetuk
Ais mencoba mengetuk pintu kamar Adam, tetapi tak ada tanda-tanda Adam untuk menjawabnya dan pintu pun masih terkunci. Itu artinya Adam belum bangun.
“Mas Adam .... bangun! Udah siang!” teriak Ais sambil menggedor pintu. Namun, tetap saja tak membuat Adam terbangun. “Sudahlah, biarkan aja.”
Karena tak ada jawaban, Ais memilih berlalu karena dia juga harus bersiap untuk berangkat kuliah.
“Mas Adam mana?” tanya Hanafi saat Ais menarik kursinya lagi.
“Mas Adam kayaknya belum bangun. Udahlah Mas, biarkan aja. Kamu enggak usah khawatir, nanti kalau udah capek tidur juga bangun sendiri. Toh selama ini dia baik-baik aja,” ucap Ais yang tak ingin ambil pusing dengan sang kakak yang belum bangun.
“Ya sudahlah. Ayo makan dan setelah itu kita berangkat!”
__ADS_1
...***...
Disisi lain, disebuah meja makan hanya sebuah keheningan yang tercipta, meskipun ada tiga orang yang duduk di maja makan. Tak ada sepatah kata yang terucap diantara ketiganya. Hanya suara sendok dan piring yang beradu untuk memecahkan keheningan diantara mereka.
Mama Maya memilih diam seribu bahasa tanpa ingin mengucapkan sepatah kata saat menatap anak dan menantunya. Mama Maya masih merasa kesal dengan keinginan Iza yang menginginkan berpisah dari Azam. Bahkan dia sama sekali tidak takut dengan ancaman yang selama ini menjadi senjata untuk mengikatnya.
Begitu juga dengan Azam yang merasa masih kesal dengan mamanya. Meskipun dia adalah wanita yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya, tetapi tak seharusnya dia ikut campur dalam rumah tangganya. Azam berhak bahagia atas hidupnya. Tak seharusnya sang mama menyuruhnya untuk menikah demi mendapatkan seorang cucu. Andaikan sang mama bersabar untuk sebentar saja, mungkin masalah ini tidak akan separah ini.
Ditengah keheningan, tiba-tiba suara ponsel mama Maya berdering. Saat dilihat nama yang mengambang di ponselnya, mama Maya segera mengangkat panggilan tersebut.
“Halo ... ”
Mama Maya diam untuk sejenak. Bola matanya memutar untuk melihat Azam dan Iza secara bergantian.
“Iya, aku tahu. Aku akan segera pulang.”
Setelah selesai berbicara dengan seseorang dari seberang telepon, mama Maya hanya bisa menghela napas panjangnya sambil meletakkan ponsel diatas maja. Bola matanya kembali menatap Azam dengan lekat. Dengan berat hati, Mama Maya pun akhirnya memecahkan keheningan dengan suaranya.
“Azam, ada yang ingin Mama katakan padamu. Semua terserah padamu dan keputusan ada di tanganmu. Mama sudah mencoba untuk membantumu, tapi nyatanya mama tidak bisa. Papa Dayu baru saja menelpon Mama untuk membahas tentang masalah warisannya. Kamu sudah tahu kan jika kamu tidak memberikan keturunan dalam tahun ini semua harta yang Mama dan Papa miliki akan dilimpahkan kesebuah yayasan?”
Azam menghela napas beratnya. Ya, dia masih mengingat dengan jelas tentang sebuah warisan yang sudah pernah dibahas sebelumnya. Jika dalam satu tahun ini Azam tidak bisa membiarkan keturunan, itu artinya Azam tidak akan mendapatkan apa-apa dari harta yang dimiliki orang tuanya.
“Ma, seharusnya Mama bisa lebih tegas sama Om Dayu, karena didalam harta warisan itu ada harta Mama. Mama berhak untuk menolaknya! Ma, ingat! Azam ini anak kandung Mama!” Azam melekatkan kasar sendok makannya diatas piring dengan keras, membuat Iza terkejut dengan suaranya.
__ADS_1
“Mama tahu itu, tapi kamu jangan lupa, Zam, jika tidak ada papa Dayu, mama tidak akan mempunyai apa-apa. Mama sudah mencoba membantu kamu agar bisa segera melahirkan anak, tetapi kamu malah menyia-nyiakan kesempatan yang mama berikan. Dan sekarang lihatlah ... Papa Dayu anak memutuskan tentang warisannya. Mama harus bagaimana, Zam!” Mama Maya hanya bisa membuang napas kasarnya, saat Azam sama sekali tak menyentuh wanita yang telah dia siapkan.
“Apakah Mama sama sekali tidak bisa memberikan sedikit pembelaan dan memperjuangkan Azam. Ma ... Azam anak kandung Mama!” Azam mulai geram karena sang mama yang dianggap tidak bisa memperjuangkan hak-nya sebagai seorang anak kandung dan lebih memilih pasrah pada suaminya. Padahal didalam harta warisan itu juga ada harta mamanya. Namun, pada kenyataannya sang mama tidak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya.
“Mama sudah berusaha untuk memperjuangkan hak-mu, tapi kamu sendiri yang tidak mau berjuang untuk memenuhi syarat yang telah diberikan oleh papa Dayu. Azam, jika kamu masih menginginkan warisan itu tolong berikan kami cucu. Mama akan meyakinkan Papa Dayu untuk tetap memberikan warisan itu kepada kamu tetapi dengan satu syarat Bagaimana?” tawar Mama Maya.
“Apa itu syaratnya?” tanya Azam dengan ketus.
“Kamu harus membuat Iza hamil dalam waktu dua bulan ini. Jika kamu bisa, Mama akan mencoba meyakinkan papa Dayu. Bagaimana?”
Azam kembali menghela napas panjangnya. Bagaimana dia bisa menghamili Iza, jika dia saja sama sekali tidak mencintainya. Azam hanya ingin mempunyai anak dari rahim Ais seorang.
“Bagaimana? Apakah kamu bisa menghamili Iza? Mama sudah memeriksakan Iza dan dia sangat subur. Jadi tidak ada masalah lagi. Tapi jika kamu tidak mau, mama tidak bisa membantumu lagi. Sekarang terserah padamu, Zam.”
Bola mata Azam menatap lekat pada wanita yang berada di depannya saat ini. Sama sakali tidak menarik. Bahkan menurutnya Iza tak sebanding dengan Ais. Namun, demi apa dia inginkan, Azam berusaha untuk mengiyakan tawaran mamanya.
Sepertinya tidak masalah jika Iza yang akan menjadi ibu dari anakku. Setelah Iza melahirkan anak, aku bisa menceraikannya. Daripada sama sekali aku tidak mendapatkan apa-apa. Iza, maaf aku harus mengorbankan dirimu. Jika kamu ingin mengalahkan, salahkan saja mama, karena dia yang tidak bisa tegas dengan suaminya. Dia lebih mencintai suaminya daripada anaknya sendiri.
“Baiklah. Azam akan mencoba untuk memberikan cucu untuk kalian. Tapi setelah aku bisa memberikan seorang cucu, jangan sedikitpun kalian melimpahkan harta kalian yayasan. Apakah mama bisa menjaminnya?”
“Tentu saja mama bisa menjamin. Terlebih jika anak kamu laki-laki. Mama yakin semua warisan akan jatuh ke tangan anak kamu. Jadi jika kamu menginginkan warisan yang sepenuhnya, maka lahirkanlah bayi laki-laki!”
Iza yang mendengar perbincangan anak dan ibu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bukan dia tidak ikhlas untuk melahirkan seorang anak, tetapi dia tidak sanggup untuk menahan rasa sakit yang akan dia rasakan nanti, karena Azam yang tidak mencintainya.
__ADS_1
“Mama ... Mas Azam ... maaf Iza tidak bisa untuk membantu kalian. Iza tidak bisa melahirkan anak untuk mas Azam, karena Iza menginginkan berpisah dari mas Azam.”
...####...