
Malam yang semakin larut, tetapi tak membuat seorang Sabian beranjak ke tempat tidur. Pikirannya masih terbayang akan sebuah kesalahan yang telah dia lakukan kepada gurunya tadi pagi. Namun, diluar dugaan, saat gurunya tahu Bian lah yang sengaja menguncinya di kamar mandi, guru itu sama sekali marah dan tidak memberikan hukuman apa-apa. Guru itu hanya meminta Bian berhenti untuk melakukan kerusuhan di lingkungan sekolahan.
“Sial! Bisa-bisanya bayangan bu Iza memenuhi kepalaku? Sejak kapan aku mempunyai rasa peduli? Argh ... semua ini karena ayah! Kenapa juga ayah harus menempatkan mata-mata di sekolahan, sih? Tapi ... kira-kira siapa orangnya, ya?”
Bian masih betah untuk berdiri sambil menatap gelapnya langit dengan bintang yang bertaburan luas.
“Ibu ... apakah ibu bisa melihat Bian dari surga sana? Bian rindu ibu, Bian ingin sekali memeluk ibu, Bian ingin di manja oleh ibu.”
Selama 17 tahun tanpa hadirnya sosok ibu disamping Bian, tentu saja membuat anak itu sangat ingin merasakan bagaimana rasanya disayangi oleh wanita yang bernama ibu. Meksipun selama ini sang nenek telah berusaha untuk mencurahkan kasih sayangnya tetapi tetap tidak bisa mengajukan peran seorang ibu yang sesungguhnya. Saat ini Bian benar-benar sangat merindukan ibunya.
“Ibu jahat! Pergi ke surga terlalu cepat. Bahkan sebelum Bian bisa melihat ibu dan mendapatkan cinta ibu. Bu, tahukah ibu jika selama 17 tahun ini ayah hanya sibuk bekerja dan bekerja, tanpa ingin mengetahui apa yang aku inginkan? Tapi setidaknya aku setidaknya aku harus bersyukur karena ayah tidak menikah lagi.”
Cukup lama Sabian menatap langit yang gelap tanpa kehadiran bulan. Namun, meskipun tanpa bulan, ada bintang yang tetap setia untuk menemani kegelapan malam.
Dilain sisi, Iza juga belum bisa untuk memejamkan mata. Sebenarnya tidak mudah untuk Iza tetap mempertahankan hidupnya yang menyedihkan. Setelah menikah dengan suami orang, kini dia ditinggal begitu saja dengan ikatan yang masih sah sebagai pasangan suami-istri. Status Iza masih tercatat sebagai istri dari Azam yang kini telah pergi begitu saja tanpa berpamitan.
Statusnya masih di gantung, karena Azam belum menceraikan Iza sebagaimana mestinya. Namun, Iza tidak bisa menggugat Azam, karena pernikahan mereka berdua hanya sebatas pernikahan siri, dimana mereka tidak mempunyai akte nikah yang sah secara negera. Sekalipun pernikahan mereka sah secara agama tetapi belum sah secara negera, karena pernikahan mereka belum terdaftar di catatan sipil, sehingga ketika mereka ingin bercerai, mereka tidak bisa menggugat di pengadilan agama.
“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus pulang untuk menemui mama Maya agar bisa membantu menghubungi Mas Azam? Aku tidak sanggup mau jika status pernikahan ini di gantung, aku. Mas Azam harus menalakku, agar aku bisa terbebas dari pernikahan ini.”
Tidak mudah bagi Iza untuk melalui semua cobaan ini seorang diri. Bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang tentunya saja banyak memiliki kelemahan. Entah mimpi apa dia sehingga dengan mudahnya mengiyakan permintaan mama Maya untuk menikah dengan anaknya saat itu.
Namun, terlambat untuk disesali, karena semua telah berakhir. Azam yang masih belum bisa merelakan Ais memilih untuk pergi begitu saja. Entah dosa apa yang telah dia lakukan sehingga Allah memberikan takdir yang menyedihkan seperti ini.
***
Pagi ini Iza datang lebih awal dari biasanya, karena dia harus mengkoreksi kertas latihan muridnya yang belum sempat dia koreksi kemarin, karena masih sangat shock dengan apa yang menimpanya.
“Selamat pagi, Bu Iza. Tumben datang lebih awal?” tanya Pak satpam yang telah stand by di depan gerbang.
“Selamat pagi juga, Pak. Ada tugas yang harus saya selesaikan jadi saya berangkat lebih awal. Saya duluan ya, Pak.”
Pak satpam tersenyum tipis sambil mengangguk dengan pelan. “Iya, Buk. Silahkan.”
__ADS_1
Suasana sekolah masih terlihat sangat sepi karena baru beberapa murid yang datang. Iza pun langsung menuju ke ruang kantor untuk segera menyelesaikan tugasnya yang sempat tertunda sebelum jam masuk dimulai.
“Pagi Bu Iza, tumben sudah datang?” sambut Bu Indah, yang ternyata juga sudah berada di ruang guru.
Bibir Iza tersenyum tipis sambil mengangguk dengan pelan. “Iya, Buk. kebetulan ada sesuatu yang harus saya selesaikan pagi ini juga. Bu Indah sendiri pagi-pagi seperti ini kok udah datang?”
“Ah, saya udah biasa datang lebih awal, karena sekalian berangkat bareng suami yang jarak tempatnya bekerja agak jauh.”
Setelah melakukan basa-basi, Iza langsung menuju ke mejanya. Namun, baru saja hendak menarik kursinya untuk diduduki tiba-tiba ponselnya berbunyi dan mengambang nama pak Burhan, kepala sekolah. Dalam hati bertanya-tanya ada masalah apa sehingga kepala sekolah itu menelponnya.
“Halo, Assalamualaikum Pak. Ada apa?” tanya Iza langsung pada intinya, karena dia benar-benar takut jika akan terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
Namun, setelah mendengar kata-kata dari seberang telepon membuat Iza diam tanpa seribu bahasa. Bahkan saat penggalian telepon berputus pun Iza tidak sadar.
“Bu Iza, ada apa? Apakah ibuk baik-baik aja?” tanya bu Indah yang melihat rekan kerjanya masih mematung di tempat. “Bu Iza!” ulangnya lagi.
Iza langsung tersentak dengan rasa keterkejutan. Dia pun segera membuang napas beratnya. “Saya tidak apa-apa, Bu.”
Sejenak Iza menyingkirkan apa yang baru saja disampaikan oleh kepala sekolah, karena pagi ini dia harus menyelesaikan tugasnya sebagai bel berbunyi.
“Iza, Kamu dipanggil oleh pak kepala sekolah untuk datang ke ruangannya.”
Mendengar ada yang berbicara kepadanya, Iza langsung mendongak. Dia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Siapa lagi jika bukan suara Hanafi, karena di lingkungan sekolahan hampir semua rekan guru memanggil dengan sebutan ibu.
“Sekarang? Apakah Pak Burhan sudah datang?”
“Sudah.”
Iza hanya mengangguk dengan pelan. “Baiklah, aku akan segera ke sana.”
Hanafi menatap punggung Iza dengan helan napas panjang. Sekalipun Iza bukanlah jodohnya, tetapi tidak ada salahnya jika dia membantu agar wanita itu bisa bangkit dari keterpurukannya dan bisa melanjutkan hidupnya tanpa bayang-bayang masa lalu.
“Iza, semoga ini bukanlah keputusan yang salah, karena hanya kamu satu-satunya guru yang bisa menangani kenakalan Sabian,” ucap Hanafi dengan pelan.
__ADS_1
Ya, Hanafi sengaja merekomendasikan Iza saat kepala sekolahnya meminta pendapatnya tentang siapa guru yang bisa menghadapi kenakalan Sabian. Meskipun Iza baru mengajar dalam hitungan hari tetapi dia sudah bisa menjinakkan Sabian. Anak itu akan lebih patuh dengan apa yang dikatakan oleh Iza. Bahkan dia juga tidak melawan sama sekali. Mungkin itu adalah kelebihan yang dimiliki oleh Iza, sehingga saat ditanya siapa yang bisa menjinakkan Sabian, tanpa banyak pikir Hanafi langsung menunjuk Iza.
Tokk ... tokk ... tokk
Iza mengetuk pintu ruang kepala sekolah sebelum masuk kedalam. Ternyata kedatangannya memang telah ditunggu oleh Pak Burhan dan juga seorang pria yang tengah menatap dirinya. Dengan pelan dia menghampiri meja Pak Burhan.
“Selamat pagi Pak kepala sekolah ... Selamat pagi juga pak —” Iza menggantung ucapannya karena dia tidak tahu siapa yang ada di depannya.
“Oh, saya Raka. Ayahnya Sabian.”
Iza mengangguk dengan pelan. Sebelumnya Iza sudah diberi tahu oleh pak Burhan jika pagi ini akan adanya salah satu orang tua murid yang akan datang untuk menemuinya, tetapi Pak Burhan tidak mengatakan jika yang akan menemuinya itu adalah Ayah dari Sabaian.
Tiba-tiba saja tubuh memegang, karena dia sangat takut jika ini adalah akhir dari pekerjaan. Iza menduga-duga jika kedatangan ayah Sabian ada hubungannya dengan kejadian kemarin. Mungkin Sabian mengatakan sesuatu pada ayahnya, sehingga pagi ini ayahnya mau menemuinya?
“Bu Iza, silakan duduk. Saya tadi lupa untuk mengatakan jika yang akan menemui ibuk adalah Pak Raka, ayah dari Sabian sekaligus salah satu donatur tetap di sekolah ini. Dan Pak Raka, ini adalah Bu Iza, guru yang saya ceritakan.”
Iz ada hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi kepada dirinya. Bahkan dia siap jika harus meninggalkan sekolah, karena sudah pasti Pak Burhan tidak akan berpihak kepada dirinya jika ayah dari Sabian menunggu dirinya.
Raka, yang tak lain adalah Ayah dari Sabian masih terus menatap Iza dengan lekat. Sebelumnya dia sudah mendengar tentang Iza, salah satu guru yang menjadi korban atas kenakalan anaknya.
“Bu Iza, saya selaku orang tua dari Sabian ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang telah dilakukan oleh anak saya kepada ibu Iza. Ini semua salah saya yang tidak bisa mendidik anak saya dengan benar. Sekali lagi saya minta maaf,” ujar Raka.
Iza merasa sangat terkejut dengan sebuah permintamaafan dari ayahnya Sabian, karena Iza berpikir jika kedatangan ayah Sabian pagi ini akan menendangnya dari sekolahan ini. Namun, ternyata dugaannya terpatahkan oleh sebuah kata permintanmaaf.
“Saya selalu guru yang mengajar Bian sudah memaafkan anak itu setelah kejadian dan saya juga sempat menasehatinya. Saya tau Bian itu sebenarnya bukan anak nakal, dia hanya sedang mencari perhatian dari orang-orang disekitarnya. Namun, karena tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, maka dia melakukan dengan keinginan sendiri. Dan itu wajar dialami oleh anak-anak yang memang kekurangan kasih sayang dari keluarga,” jelas Iza panjang lebar.
“Iya, saya mengakui jika Sabian memang kekurangan kasih sayang dan perhatian keluarga, terutama dari sosok ibu. Dan saya mendengar jika anda bisa menjinakkan kenakalannya, maka tujuan saya datang ke sini untuk meminta bantuan ibu agar mau membimbing dan menjinakkan Sabian.”
“Maksud Pak Raka?” Iza menautkan kedua alisnya karena tidak paham dengan ucapannya.
“Maksud saya, saya ingin meminta bantuan ibu untuk mengajar les pada Sabian. Baik itu masalah pelajaran ataupun masalah tentang kasih sayang. Karena saya yakin, Sabian akan nurut jika ibu yang mengajarinya.”
...###...
__ADS_1
...( Pertemuan Ayah Bian sama Iza 🤭 )...