Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 92


__ADS_3

...Tetaplah bertahan sekalipun terasa pahit, karena Allah akan senantiasa bersamamu. Mungkin saat ini Allah sedang mengujimu dengan kepahitan, tetapi percayalah jika esok hari Allah akan memberikan kebahagiaan yang tak terduga. Tetap berserah diri dan percaya akan takdir yang telah Allah tentukan....


Satu Minggu telah berlalu ...


Sebenarnya terasa berat untuk pergi, tetapi Iza harus menepati janjinya pada Sabian. Untuk saat ini mungkin Iza akan mundur dari pekerjaannya sebagai tenaga pengajar. Namun, Iza belum menemukan tempat tinggal lain, mengingat dia tak memiliki siapa-siapa untuk dimintai pertolongan. Tidak mungkin Iza meminta bantuan lagi pada Hanafi, karena Iza berusaha untuk menjaga agar tidak terjadi sebuah kesalahpahaman.


Iza pun sudah mengirimkan sebuah bukti kepada Sabian jika dirinya memang sudah mengundurkan diri dari tenaga pengajar di sekolahnya dan berjanji tidak akan datang kembali di kehidupannya maupun ayahnya.


Di dalam sebuah kamar, Sabian menimang-nimang ponselnya. Entah mengapa setelah menerima pesan dari gurunya itu hatinya sesak. Tiba-tiba terbersit rasa iba dan rasa bersalah karena telah egois.


“Apakah aku terlalu berlebihan? Tidak seharusnya aku mengusir bu Iza! Dia adalah guru yang berbakat.” Sabian benar-benar dengan dengan kata hatinya. Seharusnya dia merasa senang karena telah berhasil mengusir guru itu. Namun, ternyata Bian salah! Bian malah merasa bersalah dengan keputusannya yang telah menyuruh Iza pergi menjauh.


“Tidak! Aku tidak boleh egois seperti ini! Bagaimanapun Bu Iza adalah guru yang berbakat dia harus tetap mengajar di sekolahan. Aku harus meminta maaf kepadanya!” Sabian pun langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menyambar jaket yang menggantung di balik pintu. Langkahnya terdengar nyaring saat menuruni anak tangga sehingga membuat tangannya yang sedang menonton TV langsung mengalihkan pandangan kearah Bian.


“Bian ... kamu mau kemana?” tanya neneknya.


“Mau keluar, Nek! Bosen di kamar!” sahut Sabian.


“Tumben? Biasanya juga betah angrem di dalam kamar?”


“Emangnya Bian ayam, pakai acara angrem segala? Udah ah, Bian pergi dulu, Nek! Daaa ... Nenekku sayang ... ”


Bagi Sabian motor besar adalah kendaraan paling nyaman, sehingga kemanapun dia pergi dia akan menggunakan motornya kesayangan, meskipun di rumah ada beberapa mobil sport miliknya yang hanya menjadi penghuni garasi, karena Sabian tidak tertarik untuk memakainya. Mobil-mobil itu adalah hadiah ulang tahun dari ayahnya dari tahun ke tahun. Namun, hingga saat ini mobil itu tak pernah sedikitpun disentuh oleh Sabian. Anak itu lebih memilih menguasai jalanan menggunakan motor besarnya.


Siang ini Sabian sengaja mengajak Iza untuk pertama di sebuah cafe. Rencana dia ingin membatalkan sebuah kesepakatan yang pernah mereka buat. Sabian merasa tidak tega, terlebih saat mendengar cerita ayahnya jika gurunya itu baru saja meminta talak kepada suaminya karena sang suami tidak mencintainya.


“Assalamualaikum.” Ucapan salam Bian ucapkan saat melihat gurunya sudah menunggu dirinya.


“Waalaikumsalam. Bian, ada apa ya? Kenapa tiba-tiba kamu minta bertemu? Apakah Ibu melakukan sebuah kesalahan lagi? Bukankah Ibu sudah menepati janji Ibu untuk mundur dan pergi?”

__ADS_1


Baru saja tiba, Sabian sudah ditodong dengan beberapa pertanyaan dalam satu tarikan napas, membuat Sabian hanya bisa menelan kasar salivanya. Apakah terlalu kejam dirinya?


“Bu, aku belum duduk tetapi sudah Ibu berondong dengan beberapa pertanyaan. Setidaknya izinkan aku untuk duduk terlebih dahulu, napa!” proses Sabian yang seakan memang wajah kesalnya.


“Oh iya! Maaf Ibu lupa. Ya udah, silahkan duduk Sabian!”


Bian pun langsung menarik sebuah kursi yang ada di depannya. Helaan napas pun terdengar begitu berat saat melihat wajah lesu dari gurunya itu. Mungkinkah kesepakatan itu membuatnya bersedih?


“Aku ingin membatalkan kesepakatan kita!” ucap Bian langsung pada intinya, membuat Iza langsung terbelalak dengan lebar.


“Bian ... kamu ngomong apa? Kamu tidak sedang ngelindur, kan? Atau Ibu yang salah dengar?” tanya Iza, yang ingin memastikan jika pendengarannya tidak salah.


“Apakah masih kurang jelas apa yang aku katakan tadi? Apakah aku harus meminjam toa di masjid agar Ibu bisa mendengarkan dengan jelas? Dan yang terakhir apakah aku terlihat seperti orang yang sedang tidur?”


Iza hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan karena tak satupun ucapan Sabian yang benar.


“Tidak! Tidak ada satupun pertanyaanmu yang benar. Tapi apa alasanmu mengapa tiba-tiba kamu ingin membatalkan kesepakatan kita? Apakah ayahmu yang menyuruh kamu Untuk membatalkan kesepakatan kita ini?” tanya Iza ingin tahu.


Iza menghela napas beratnya. Memang untuk menghadapi Sabian butuh double kesabaran dan juga tidak mudah terpancing emosi. Banyak-banyak ngelus dada serta mengucap istighfar agar tetap waras.


“Bukan begitu Sabian .... ! Ibu hanya terkejut saja dengan keputusanmu yang tiba-tiba ingin membatalkan kesepakatan kita, karena sebelumnya kamu sendiri yang ngotot agar Ibu segera mundur dan menjauh dari keluargamu. Ada apa ini?”


“Kalau Aku menginginkan kesepakatan ini batal, itu artinya batal! Ibu tak perlu keluar dari sekolahan. Untuk masalah surat pengunduran diri Ibu yang sudah terlanjur Ibu minta, biar aku yang akan menanganinya.”


Iza benar-benar tidak tahu jin apa yang sedang merasuki Sabian sehingga dia sampai tersedia untuk menangani surat pengunduran diri yang sudah ditandatangani oleh kepala sekolah.


Tak ingin memprotes, Iza hanya bisa mengangguk dengan pelan. Dalam hati Iza mengucapkan kata syukur karena dia masih diberikan kesempatan untuk mengajar di sekolah itu.


“Bian, terima kasih!” ucap Iza sambil tersenyum.

__ADS_1


Kepala Bian pun mengangguk dengan pelan. “Oke! Tapi enggak usah senyum-senyum seperti itu karena senyuman Ibu itu jelek!”


Hampir 1 jam Sabian menghabiskan waktunya untuk duduk bersama dengan Iza. Namun, sekalipun duduk dalam waktu lama tak ada banyak kata yang keluar dari bibir Sabian. Jika ditanya oleh Iza dia akan menjawabnya, tetapi jika tidak ditanya dia akan tetap diam. Hingga akhirnya sebuah panggilan telepon membuat Iza harus meninggalkan Sabian untuk sebentar.


“Sabian, tunggu sebentar ya, Ibu akan mengangkat panggilan telepon ini,” ujar Iza.


“Oke, silahkan!”


Sebenarnya Sabian merasa sangat keberatan saat gurunya mengangkat teleponnya sambil menjauh. Bukankah tetap duduk saja masih bisa menjawab panggilan telepon? Lalu untuk apa pergi menjauh?


“Ngapain sih Bu Iza ngangkat teleponnya harus menjauh? Duduk disini aja kan bisa!” gerutu Bian dengan kesal.


Iza terpaksa mengangkat panggilan telepon menjauh dari Sabian karena itu adalah panggilan dari ayahnya Sabian. Iza sendiri tidak tahu mengapa ayahnya Sabian sering kali menghubungi dirinya. Iza tidak ingin kehadiran dirinya malah akan merusakkan hubungan ayah dan anak, karena sebuah kesalahpahaman. Terlihat Sabian yang tidak menyukai jika dirinya terlalu dekat dengan ayahnya.


“Siapa, Bu?” tanya Sabian saat Iza telah kembali ke tempat duduknya.


“Ah ini ... ini telepon dari ayah dan ibu,” kilah Iza, berharap Sabian tidak bertanya-tanya lagi.


“Oh ... aku pikir dari pacarnya Bu Iza! Eh ... ” Seketika Sabian menutup mulutnya. “Maaf, aku tidak bermaksud .... ” Sabian menggantung ucapannya.


“Enggak apa-apa. Kamu pasti sudah mengetahui dari ayah kamu kan?“


Sabian terdiam. Entah mengapa hatinya ikut sakit saat melihat wajah gurunya yang memasang wajah lesunya lagi.


“Ya udah, pergi yuk, Bu!” ajak Sabian yang seketika menghabiskan jus alpukatnya.


“Kemana?” tanya Iza dengan heran.


Tak ada jawaban dari Bian, tetapi tangan Bian langsung menyambar lengan Iza untuk diajak pergi meninggalkan mejanya.

__ADS_1


“Sabian ... tunggu! Kita mau kemana?”


...###...


__ADS_2