
Sabian duduk lesu tak berdaya saat dihadapkan dengan ayah dan Bu Iza. Bahkan untuk sekedar menatap saja Bian tidaklah mampu. Kini dia benar-benar pasrah akan konsekuensi yang akan dia terima, karena ini bukan kali pertama Bian berada di kantor polisi. Sampai-sampai petugas polisi sudah hafal dengan wajahnya Bian.
“Jadi bagaimana, Pak?” tanya petugas polisi pada Raka yang hampir tiga puluh menit hanya membisu. Begitu juga dengan Iza yang memilih diam karena saat ditanya pun Sabian enggan untuk menjawabnya.
“Terserah bagaimana kebijakan yang seharusnya. Saya tidak akan menjaminnya lagi. Biarkan dia bertanggung jawab akan perbuatannya. Dia sudah besar!” ucap Raka tanpa ekspresi.
Iza yang mendengar ucapan Raka langsung mendelik dengan lebar. “Pak Raka seriusan ingin membiarkan Bian tinggal disini 4 hari?”
__ADS_1
“Hanya 4 hari saja, belum 4 juga tahun! Biarkan saja dia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Sudahlah, ayo kita pulang!” Raka pun memilih untuk berlalu pergi tanpa mengatakan apapun pada Bian, karena rasa kecewanya.
“Pak Raka tunggu! Pak kasihan Bian! Pak Raka boleh menghukum Bian, tapi tolong jangan tinggalkan Bian disini, Pak! Tempat ini tidak baik untuk Bian!” seru Iza yang berusaha untuk mengejar langkah Raka.
Setelah dua orang berlalu pergi meninggalkannya, Bian langsung membuang napas kasarnya. Belum juga bisa bernapas dengan baik, seorang petugas polisi telah menghampiri untuk membawanya masuk kedalam jeruji besi. Namun, karena penangkapan Bian bukan karena kasus tindak pidana, maka dia dimasukkan terpisah dengan yang lainnya. Semua ini karena ayah Sabian tidak ingin menjaminnya, sehingga membuat Sabian harus menginap di tempat itu selama 4 hari 4 malam.
“Nah .... ini tempatmu untuk sementara waktu sebelum kamu bebas!”
Sabian benar-benar pasrah dengan keputusan ayahnya yang tidak mau menjamin dirinya, sekalipun dia adalah anak kandungnya. Mungkin ini adalah hukuman untuk Sabian yang tidak pernah mendengarkan nasehat ayahnya sehingga pria itu benar-benar marah padanya.
__ADS_1
Di dalam mobil, Raka masih terdiam tanpa kata, tetapi matanya terus menatap pada bangunan berwarna coklat yang ada di depan matanya. Rasanya tidak sanggup untuk meninggalkan Sabian seorang diri di tempat itu, tetapi Raka harus merelakan. Semua itu dilakukan agar Sabian mempunyai efek jera dan kalau tidak akan ikut balapan lagi.
“Jika tidak rela, mending Sabian kita bawa pulang dan kita berikan hukuman di rumah saja. Aku kasihan dan tidak tega kepada Sabian jika dia harus tinggal didalam sana, Pak! Pasti saat ini Sabian sedang membutuhkan kita,” ucap Iza ketika Raka tak kunjung untuk menjalankan mobilnya.
“Aku memang tidak tega saat ingin meninggalkan Sabian sendirian didalam sana. Tapi aku juga harus memberikan efek jera agar Sabian berpikir dua kali lipat sebelum mengambil sebuah keputusan. Semoga saja setelah kejadian ini Sabian tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Sudah cukup selama ini aku mondar-mandir untuk mengkhawatirkannya,” jelas Raka panjang lebar pada Iza.
“Baiklah, terserah bapak aja!”
...####...
__ADS_1