Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
S—2 : Cinta Untuk Sabian


__ADS_3


Aluna, wanita yang saat ini sudah berusia 28 tahun tidak bisa menolak ataupun memberontak akan keputusan orang tuanya yang menjodohkan dirinya dengan Sabian, seorang anak SMA. Padahal jarak usia mereka terpaut hampir 10 tahun, tetapi tak membuat kedua orang tuanya memikirkan akan hal itu. Mereka sama-sama tidak bisa mengertikan perasaan Aluna yang sesungguhnya.


Selama ini tak pernah terdengar jika Aluna dekat dengan seorang pria manapun, bukan berarti Aluna tidak mempunyai sosok yang dicintainya. Dalam diam Aluna mencoba untuk menutupi perasaannya karena status Abahnya. Dia tidak ingin membuat Abahnya kecewa, karena sang Abah sudah melarang keras pada kedua putrinya untuk tidak berpacaran. Jika memang sudah saling mencintai lebih baik menikah saja dari pada berpacaran tidak jelas. Akan tetapi pria yang dicintai Aluna belum siap, mengingat keluarga Aluna adalah keluarga terpandang, sementara pria itu hanyalah pria biasa.


Tak ada satupun orang yang tahu akan kisah yang disembunyikan Aluna, karena Aluna menyimpannya terlalu dalam.


“Assalamualaikum.” Suara salam mengagetkan Aluna yang sedang melamun di pendopo.


“Waalaikumsalam.” Aluna menjawab sambil membuang napas bertanya.


“Ada apa? Apakah Abah ingin mempercepat pernikahanmu dengan anak itu?” tanya Yusuf, salah seorang ustadz yang mengajar di pesantren itu.


“Tidak, Mas. Meskipun anak itu telah berada di pesantren ini tetapi Abah belum membahas lebih jauh tentang pernikahan Luna dengannya. Mas ... apakah Mas Yusuf tidak ingin memperjuangkan Luna?” Mata Aluna mulai berkaca-kaca. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya pada pria itu.


Pria mana yang tidak ingin memperjuangkan wanita yang sangat dicintainya. Namun, karena perbedaan kasta diantara keduanya, membuat Yusuf takut untuk melangkah dan mengecewakan Abah Abdullah yang selama ini telah dianggapnya sebagai pengganti orang tuanya. Terlebih perjodohan Aluna dan juga Sabian adalah bentuk balas budi pada keluarga Sabian yang telah banyak membantu pesantren untuk tetap berdiri. Bahkan keluarga Sabian adalah donatur tetap untuk pesantren.


“Saya ingin sekali memperjuangkan kamu, akan tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya. Jika saya maju, apakah Abah akan setuju? Sungguh saya tidak ingin membuat Abah kecewa.”

__ADS_1


“Lalu Mas Yusuf akan pasrah ketika nanti Luna dan Bian benar-benar menikah? Berati cinta Mas Yusuf selama ini hanyalah palsu. Mas Yusuf tidak mencintai Luna! Mas Yusuf hanya kasihan kepada Luna, iya kan?”


Terasa berat jika hati telah jatuh cinta pada anak dari seorang yang telah menganggap dirinya adalah keluarga. Bahkan Abah Abdullah telah menganggap Yusuf seperti anak sendiri, saat Yusuf telah kehilangan kedua orang tuanya. Lalu jika Abah sampai mengetahui Yusuf mencintai putrinya apakah Abah tidak akan kecewa padanya yang telah dianggap sebagai anak?


“Ning .... saya mencintai kamu tulus dari hati, bukan semata saya merasa kasian. Tapi sampai saat ini saya tidak berani untuk mengakuinya pada Abah. Saya terlalu pengecut, karena saya bener-bener takut mengecewakan Abah. Saya takut jika Abah akan menganggap saya serahkan. Asal kamu tahu, saya tidak akan ikhlas jika kamu menikah dengan anak itu. Ning ... cerita kita terlalu rumit, karena Abah telah menganggap saya sebagai putranya. Terlebih saya tidaklah sepadan dengan keluarga kamu. Bisa bertahan sampai detik ini saja seharusnya saya sudah bersyukur.”


Sudah tujuh tahun keduanya saling jatuh cinta dan menyembunyikan perasaan mereka sedalam mungkin agar tak ada satupun yang menciumnya. Namun, pada akhirnya mereka harus mengangkat ke permukaan karena Aluna yang hendak di jodohkan dengan pria lain.


Aluna pun sama, tidak bisa memberontak pada Abahnya, namun dia juga tidak rela jika harus menikah dengan Sabian, sementara hatinya telah dia simpan untuk Yusuf.


Aluna mencoba untuk tidak menitipkan air matanya. Sebisa mungkin dia harus tetap kuat karena dia tahu seharusnya tidak ada perasaan apapun antara dia dan Yusuf. Namun, ketika dua hati telah merasakan sebuah kenyamanan yang setiap hari terpupuk, maka tidaklah salah jika cinta itu akan datang dengan sendirinya.


“Assalamualaikum. Ini pada ngapain ya? Pantas aja Umi nyuruh Zura untuk nyari kak Luna, oh ... ternyata lagi mojok sama pak Ustad, ya?” goda Zura yang memecahkan suasana hening.


“Waalaikumsalam.” Yusuf menjawab salam Zura. “Oh iya ... Ning .... Zura, saya duluan ya. Assalamualaikum!” Yusuf pun memilih untuk meninggalkan Aluna dan juga Zura yang baru saja tiba.


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. buru-buru amat, padahal Zura baru aja datang. Apakah kedatangan Zura mengganggu?” Zura langsung menautkan kedua alisnya terlebih saat melihat bola mata kakaknya terus mengarah pada langkah Yusuf yang meninggalkan mereka.


“Kak Lun ... apakah kakak baik-baik saja?” tanya Zura yang melihat ada jejak air mata di pipi Aluna.

__ADS_1


“Mamangnya aku kenapa?”


Zura langsung menunjuk ke pipi Aluna. “Tuh abis nangis! Apakah kaka Luna dan Kak Yusuf bertengkar? Masalah apa?” Zura bener-bener sangat penasaran dengan air mata kakaknya. Padahal selama ini, Zura tidak pernah melihat sang kakak sedikitpun menangis.


“Kamu ini masih kecil, enggak usah penasaran dengan masalah orang lain. Mending kamu kuliah yang bener biar cepat lulus dan mengejar cita-cita kamu, kalau bisa jangan seperti kakak. Udah ah, Kakak duluan ya! Ngomong-ngomong Umi ada dimana?”


“Umi ada di dapur, Kak. Mungkin Umi minta bantuan Kak Luna untuk bantuin masak, soalnya nanti malam keluarga besar Sabian akan datang,” ujar Zura.


Aluna pun mengangguk pelan dan langsung meninggalkan Zura begitu saja.


Zura yang ditinggal pergi pun hanya bisa menghela napas panjangnya. Sungguh dia tidak terima saat dikatakan masih masih kecil, sementara usianya saja sudah menginjak di angka 23 tahun dan sebentar lagi dia akan lulus dari kampusnya. Masih saja disebut anak kecil?


“Kak Luna apa-apaan sih? Masa iya ngatain aku anak kecil? Padahal calonnya aja lebih kecil dariku.“ Zura tertawa puas ketika mengingat Sabian, jodoh yang telah ditentukan untuk kakaknya yang usianya saja masih berada di bawahnya.


Namun, detik kemudian Zura menghentikan tawanya karena mengingat dua insan yang sebelumnya saling membisu, akan tetapi pipi kakaknya basah dengan air mata.


“Tunggu ... kayaknya ini adalah pertama kalinya aku melihat Kak Luna menangis. Apakah antara Kak Luna dan Kak Yusuf sedang tidak baik-baik saja? Jika iya, apa masalahnya? Perasaan selama ini mereka baik-baik saja. Enggak mungkin kan kalau kak Yusuf menyakiti Kak Luna? Argh ... sudahlah, gak penting juga aku ngurusin pertengkaran mereka. Mending aku nungguin Bian aja, kayaknya bentar lagi dia pulang deh.”


...###...

__ADS_1


Gimana, udah ada gambaran belum jodoh Bian yang sesungguhnya ☺️ Nah ... berhubung hari Senin telah datang boleh dong bagi-bagi Vote ataupun bunga mawar untuk novel ini hihihi 😄


__ADS_2