Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
S—2 : Cinta Untuk Sabian


__ADS_3


Raka yang mendapatkan kabar jika Sabian kabir segera mengakhiri meetingnya. Tak peduli jika itu adalah meeting paling penting, karena dalam hidup yang paling terpenting adalah anaknya. Meskipun Raka tidak bisa menunjukkan dengan jelas tentang cintanya untuk Sabian.


“Ya Allah ... sampai kapan anak itu akab berhenti mengulah? Sudah dibela-belain untuk membatalkan perjodohan, tetapi malah enggak bisa berubah. Kalau enggak bisa berubah juga, aku ridho jika Sabian langsung dinikahkan langsung dengan Aluna dan tinggal bersama mertuanya. Mungkin dengan cara seperti itu dia bisa berubah,” gumam Raka dalam perjalanan untuk mencari Sabian.


Disisi lain, Sabian yang tidak memiliki arah dan tujuan akhirnya menghentikan langkahnya. Mencium aroma masakan yang tercium di hidungnya membuat cacing di dalam perut mulai mendemo, kerena Sabian memang belum mengisi perutnya sejak keluar dari tempat tahanan.


Tak ada sepeserpun uang yang ada di kantong celananya. Bahkan ponsel pun juga tak ada, lalu bagaimana dia bisa berkomunikasi dengan Gala untuk meminta bantuan. Untuk saat ini Sabian hanya pasrah duduk di bangku panjang pinggiran jalan. Namun, siapa yang menyangka, baru saja Sabian duduk tiba-tiba seseorang yang lewat langsung memberikan uang ke pangkuan Sabian. Dengan alis yang menaut, Sabian langsung ngambil uang itu dan memanggil orang yang telah memberinya uang.


“Hei ... Mbak! Ini uangnya! Aku bukan pengemis!” teriak Sabian dengan keras. Namun, sayang orang yang telah memberikan uang kepada Sabian sama sekali tidak mendengar.


“Sialan! Dia pikir aku pengemis!” rutuk Sabian kesal. Namun karena Sabian merasa penasaran tangannya pun langsung merentangkan uang yang sempat digulung. “Lima ribu?” Sabian mengernyitkan dahinya.


“Dapat apa coba uang segini? Seumur-umur baru kali ini deh pegang uang lima ribu!” Sabian membolak-balikkan uang lima ribu dari seorang yang tak dikenalnya.


Baru saja ingin menyimpan uangnya, tiba-tiba lewat lagi dua orang dan berhenti tepat di hadapannya. “Mas, kamu itu masih muda dan kelihatan sehat. Seharusnya kamu cari pekerjaan, jangan ngemis kayak gini! Malu sama yang tua tapi masih bisa cari pekerjaan lain selain mengemis.”


Bian yang merasa sedang tidak menjadi seorang pengemis langsung membuatkan kedua alisnya. “Eh ... punya mulut dijaga ya! Siapa juga yang jadi pengemis?! Aku bukan pengemis!” sentak Sabian dengan rasa tidak terimanya.

__ADS_1


“Jadi kalau enggak ngemis, ngapain duduk di sini? Ini tempat khusus untuk para pengemis jalanan? Kenapa malu ya? Ini, aku kasih 100 ribu, tapi abis ini cari pekerjaan lain. Malu dong mas, masa ganteng-ganteng jadi pengemis!”


Setelah melemparkan uang 100 ribu, kedua orang itu langsung berlalu meninggalkan Sabian yang masih membeku tanpa kata. Bahkan sekalipun Sabian memang sedang membutuhkan uang, tetapi dia tidak tertarik untuk menyentuh uang yang baru saja dilemparkan kearahnya. Sebuah penghinaan besar untuk Sabian manakala dia dianggap sebagai seorang pengemis jalanan.


“Sial! Untung aja dia perempuan! Kalau laki-laki udah aki kasih pelajaran tuh orang!” gerutunya.


Namun, baru saja Sabian hendak berdiri dari bangku, tiba-tiba seseorang memanggilnya dengan rambut.


“Sabian,” ucapnya.


Sabian langsung mendongak. Sosok wanita berjilbab hitam dengan bola mata yang terlihat bersinar tiba-tiba menggetarkan detak jantungnya. Rasanya seperti pernah melihat wanita itu akan tetapi Sabian tidak bisa mengingat dimana mereka bertemu. Bahkan rasanya sangat tidak asing.


Lagi-lagi Sabian hanya bisa mengernyit saat dia dikatakan sebagai pengemis. Dan ini adalah orang ketiga yang menganggap dirinya pengemis. Karena Sabian merasa penasaran mengapa dirinya dianggap pengemis dia pun langsung memperhatikan penampilannya. Tidak ada yang salah, karena pakaian masih terlihat rapi dan tidak menunjukkan penampilan seorang pengemis.


Kaos oblong warna putih serta celana jeans warna hitam. Itulah pakaian yang digunakan oleh Sabian saat ini. Mungkinkah hanya menggunakan sandal swallow sehingga dia dianggap mirip seperti seorang pengemis? Tidak mungkin?


“Kamu siapa? Apakah kamu mengenaliku? Kamu jangan sembarang ngatain aku pengemis! Aku bukan pengemis! Tidak ada untungnya juga aku menjadi seorang pengemis karena uang bapakku banyak dan tidak akan habis tujuh turunan!” ujar Sabian dengan menahan rasa kesalnya.


Wanita itu tersenyum tipis. Ya, sebenarnya dia juga tidak yakin jika Sabiam menjadi seorang pengemis karena dia tahu siapa itu Sabian.

__ADS_1


“Lalu mengapa kamu duduk di tempat ini? Apakah kamu tahu jika tempat duduk ini adalah tempat duduk khusus untuk orang jalanan sekaligus para pengemis. Jadi wajar saja jika aku mengira kamu adalah pengemis. Tapi ... melihatmu menggunakan pakaian seadanya seperti ini memang sekilas terlihat seperti seorang pengemis.”


“Terserah aku mau duduk dimana!” ketus Sabian. Namun, detik kemudian Sabian memperhatikan penampilan wanita yang ada di depannya saat ini. Sejenak Sabian terdiam. Dan tiba-tiba Sabian.oun bertanya, “Ngomong-ngomong kamu siapa kok tahu namaku? Tapi aku enggak pernah ingat kalau kita pernah bertemu sebelumnya! Kamu kenal denganku?”


“Astaghfirullahaladzim ... Sabian! Kamu sama sekali ini ingat sama aku? Aku Zura, adiknya Aluna. Masa enggak ingat, sih? Kan kita pernah makan satu meja. Apakah kamu sama sekali tidak mengingatnya?”


Sabian yang baru saja menyadari jika wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah Zura, adik dari wanita yang sedang dijodohkan dengannya.


“Oh ... ! Tapi kenapa aku tidak mengingatmu, ya!”


“Ya, mungkin karena kamu sama sekali tidak peduli dengan pertemuan malam itu. Eh, ngomong-ngomong kamu ngapain pagi-pagi udah sampai disini? Kamu enggak lagi kabur dari rumah kan?” tebak Zura yang merasa sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Sabian tanpa harus ke rumahnya terlebih dahulu.


“Sok tahu!” cibir Sabian.


“Bukan sok tahu, Bian! Tapi melihat penampilanmu yang apa adanya seperti ini hampir saja membuatku berpikir jika kamu benar-benar adalah seorang pengemis,” ujar Zura apa adanya.


“Terserah kamu aja. Puas!” sentak Sabian.


...###...

__ADS_1


__ADS_2