
Baru saja masuk kedalam kelas, semua mata tertuju pada Sabian. Bahkan Gala yang melihatnya ikut terkejut pada Sabian yang tiba-tiba muncul begitu saja. Dengan cepat Gala langsung menghampiri Sabian yang sedang berjalan menuju ke tempat duduknya.
“Bian ... kamu darimana aja? Apakah kamu ditahan sama pak polisi?”
Sabian hanya menghela napas panjangnya. Kejadian empat hari yang lalu masih terekam jelas dalam ingatannya, dimana saat dia mengikuti balapan liar tiba-tiba polisi datang dan menangkapnya. Sabian yang tidak tahu dan tidak mempunyai persiapan harus pasrah ketika polisi menangkapnya. Bahkan semua teman-temannya membubarkan diri mereka sendiri tanpa memikirkan dirinya yang telah tertangkap.
“Enggak usah pura-pura bodoh! Minggir!” Sabian menepis tangan Gala yang hendak merangkulnya.
“Bi ... jangan gitu dong! Saat itu aku benar-benar enggak tahu jika ada polisi yang sedang beroperasi di tempat itu. Maafkan aku jika aku meninggalkanmu, Bi! Aku bener-bener sangat panik, jadi enggak ingat kamu. Bi ... maafin aku ya. Janji deh, enggak akan aku ulangi lagi!” rengek Gala yang mencoba untuk meluluhkan hati Sabian.
“Aku nggak butuh kata maaf darimu, Gal! Dasar teman laktat! Bisa-bisanya kamu enggak ingat sama aku dan sama sekali enggak menjengukku di kantor polisi?”
Bola mata Gala langsung menaut. Dia yang sama sekali tidak tahu jika Sabian sampai di tahan di kantor polisi sungguh sangat terkejut. “Apa? Jadi kamu di tahan di kantor polisi?”
Ucapan Gala yang nyaring membuat teman satu kelas langsung memperhatikan Gala dan Sabian yang kini sedang berjalan untuk menuju ke tempat duduk Sabian.
Sadar akan ucapnya Gala langsung menutup rapat mulut yang rak kendali. “Ups ... maaf.”
“Makan maaf itu!” Sabian terlihat sewot.
Selama pelajaran berlangsung, Sabian lebih banyak diam. Padahal biasa jika tak ada guru di dalam kelas, dialah pembuat onar. Namun tidak untuk hari ini.
Gala yang terus memperhatikan Sabian merasa ada yang aneh karena Sabian tak seperti biasanya. Begitu juga dengan teman satu kelas yang tak kalah heran ketika Sabian mendadak diam tanpa ingin membuat masalah.
“Bi, kamu baik-baik aja kan? Enggak sedang kesambet jin kantor polisi kan?” tanya Gala ingin tahu.
Bukannya menjawab, Sabian malah membuang muka sambil menghela napas panjang. Hatinya benar-benar sedang tidak baik.
__ADS_1
“Bi ... ayolah, jangan seperti ini. Aku minta maaf, Bi. Sungguh tak ada niatan untuk meninggalkanmu saat itu. Andaikan aku tahu jika kamu di tahan di kantor polisi, aku pasti akan menjengukmu, Bi. Aku sungguh benar-benar enggak tahu, Bi!” Gala masih berusaha untuk membujuk Sabian, berharap hatinya meluluh. Akan tetapi Sabian masih bersikukuh untuk tak menanggapi Gala hingga bel istirahat berbunyi.
“Bi, ke kantin yuk! Aku traktir!” ajak Gala dengan penuh harap.
“Gak butuh!” Sabian pun memilih berlalu meninggalkan Gala begitu saja.
“Sabian, tunggu!” teriak Gala yang tidak terima saat ditinggal oleh Sabian.
Langkah Sabian gontai saat mengusir koridor sekolahan. Tak ada arah dan tujuan, tetapi kaki terus melangkah. Hingga langkahnya terhenti karena ada sosok yang menghalangi dirinya.
“Bu Iza,” gumamnya dengan pelan.
Ya, Iza sengaja menghentikan langkah Sabia. Dia baru saja mendapat kabar dari ayah Sabian jika saat ini Sabian sudah tinggal di pesantren sebagai bentuk hukuman.
Sebenarnya Iza tidak terima akan keputusan ayah Sabian yang memaksakan Sabian untuk tinggal di pesantren lebih awal. Namun, Iza tidak mempunyai hak untuk ikut campur dalam urusan keluarga Sabian. Namun, sebagai guru les Iza sangat menyayangkan keputusan itu, karena Iza tahu yang di butuhkan oleh Sabian itu kasih sayang dan perhatian dari orang terdekatnya.
Ya, tidak dipungkiri di pesantren memang bisa mencetak anak untuk menjadi lebih baik dan bisa berubah dari segala sifat buruknya. Namun, butuh waktu lama.
“Bicara apa? Jika hanya ingin membahas masalah hidupku, rasanya tidak perlu! Jangan mentang-mentang ibu dekat dengan ayah lalu ibu merasa mempunyai hak untuk mengaturku! Ibu itu bukan siapa-siapa!” ketus Sabian.
Iza mengangguk dengan pelan. “Iya, Ibu tahu jika ibu bukan siapa-siapa, tapi sebagai gurumu ibu tidak mau melihatmu tertekan. Ibu tahu ini adalah kenyataan yang pahit, tapi ini semua juag demi kebaikanmu dimana mendatang. Bi, andaikan saja kamu mendengarkan kata-kata ibu, mungkin kamu tidak akan tertekan seperti ini.”
“Oh ... jadi ceritanya ibu nyalahin aku?”.
“Bukan gitu, Bi! Em ... kita ngobrol di taman belakang aja ya! Ada hal lain yang juga ingin ibu sampaikan untukmu!” Iza menarik tangan Bian, sekalipun Bian memberontak.
“Bu! Aku enggak mau!” bentak Bian.
“Tapi Ibu mau, Bi! Udah enggak usah banyak drama!”
__ADS_1
Bian pun hanya menghela napas kasarnya. Mau tidak mau dia hanya pasrah saat di tarik oleh Iza, guru yang pernah merenggut ciuman pertanyaan. Sayangnya semesta tak mengizinkan untuk memilikinya, karena sang nenek sudah sangat mengincar Iza untuk dijadikan istri dari anaknya, yang tak lain adalah ibu tirinya. Tidaklah mungkin jika Bian akan bersaing dengan ayahnya sendiri, terlebih sebelumnya Iza sudah pernah menolak ajakan untuk menikah dengannya.
“Ibu lepas! Enggak malu dilihatin anak-anak!” sentak Sabian yang berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Iza.
“Oh ... kamu punya rasa malu. Syukurlah, itu artinya kamu masih normal!”
“Ibu!” Sabian terlihat sangat kesal.
Setelah sampai di sebuah taman belakang sekolah Iza langsung melepaskan cengkramennya dan menyuruh sajian untuk duduk di sebuah bangku panjang. Tanpa protes Sabian pun langsung duduk.
“Sekarang ibu mau ngomong apa? Ibu tidak perlu merasa kasihan padaku, aku tidak butuh! Atau sebenernya ibu enggak terima kalau aku tinggal di pesantren lebih awal karena disana ada calon yang telah dijodohkan denganku? Jangan bilang Ibu cemburu dengan hal itu? Tenang, aku tidak akan jatuh cinta padanya asalkan ibu mau menikahiku!”
Iza langsung melotot kearah Sabian dan tertawa pelan. “Bian ... kamu gak usah ngelantur! Sampai kapanpun ibu tidak akan pernah mau untuk menikah denganmu karena kamu sudah Ibu anggap seperti anak ibu sendiri. Bian ... jangan karena kamu sudah merasa nyaman pada seseorang lalu kamu berharap penuh pada orang itu untuk menjadi pasanganmu. Ibu dekat denganmu bukan berarti Ibu mempunyai rasa cinta padamu. Mungkin karena kamu belum pernah jatuh cinta sehingga kamu tidak bisa membedakan karena rasa nyaman dan mana rasa cinta. Bian ... lupakan perasaan itu, karena itu hanyalah perasaan sesaat.”
Mata Sabian menatap lekat pada Iza yang tengah menatapnya. Sabian sendiri tidak tahu apakah perasaan yang dimilikinya adalah rasa cinta yang sesungguhnya atau hanyalah rasa nyaman untuk sesaat.
“Tapi Bu Iza sudah mengambil ciuman pertamaku! Lalu apa yang akan aku katakan pada pasanganku nanti, jika ciuman pertamaku sudah kuberikan kepada Bu Iza?”
Meskipun Iza merasa sedikit malu tetapi dia mencoba untuk tetap menyembunyikan raut wajahnya. Bukan hanya Sabian saja yang kehilangan ciuman pertama, akan tetapi dia pun juga kehilangan ciuman pertamanya sekalipun dia telah pernah menikah.
“Itu hanyalah sebuah kecelakaan yang sama sekali tidak kita inginkan. Jadi jangan bawa perasaan!”
“Lalu bagaimana ciuman yang ada di dalam kelas? Itu bukan sebuah kecelakaan, tapi sebuah kesengajaan.”
“Bian, cukup! Ibu tidak ingin membahas masalah itu, karena ibu hanya menganggapnya sebagai sebuah kecelakaan. Bahkan ibu sudah mensucikan bibir ini dan melupakan apa yang pernah terjadi, jadi tolong lupakan semuanya!”
“Tapi tidak denganku, Bu!”
Iza menarik napas beratnya. Cukup sulit untuk berbicara dengan Sabian. Butuh kesabaran yang luar biasa. “Cukup, Bi! Sebenarnya ada yang ingin ibu katakan padamu, tapi rasanya tidak perlu lagi. Sudahlah, kamu lanjutkan lagi waktu istirahatmu!” Iza pun terlalu meninggalkan Sabian begitu saja.
__ADS_1
...###...