
Semenjak liburan sekolah, Ais selalu tak lepas dari suaminya. Bahkan hampir setiap hari nempel seperti perangko. Dan pada saat liburan telah usai, Ais merasa tidak terima saat ingin ditinggal Hanafi untuk mengajar. Karena tidak ingin mendengar rengekan dari istrinya, terpaksa Hanafi mengajaknya untuk ke sekolahan. Tentu saja Ais merasa sangat bahagia, karena ini adalah kali pertamanya ikut ke tempat kerja suaminya.
“Ingat, nanti saat aku sedang ngajar, kamu jangan kemana-mana, ya!” pesan Hanafi pada Ais.
“Siap, Mas! Ais janji enggak bakal kemana-mana, kok.”
Sesampainya di sekolahan, banyak mata para siswa yang tertuju pada Ais. Bahkan diantara mereka mengira jika Ais adalah guru baru di sekolahan mereka.
“Bi, ada guru baru! Enggak kalah cantik sama Bu Iza, lho!” celetuk Gala, pada Sabian yang asyik dengan ponselnya.
“Terus apa hubungannya denganku?” protes Sabian dengan acuh.
“Ya ... kali aja kamu mau kamu ambil juga ciumman pertamanya guru itu.” Seketika gelak tawa Gala pun pecah karena berhasil menggoda Sabian.
Sabian mendengus dan kasar dan sekilas melirik kearah Gala yang masih menertawakannya. “Tertawalah sepuasnya sebelum sepatu ini membungkam mulutmu!”
Gala pun langsung membungkam mulutnya, karena tidak ingin di bungkam menggunakan sepatu oleh Bian. “Tapi aku kan ngomongin fakta, Bi! Buktinya Bu Iza aja udah kamu sosor dua kali!”
“Itu kan hanya sebuah kecelakaan aja, Gal! Lagian nggak mungkin juga setiap guru baru aku cium kan?”
“Ya kali aja, Bi! Tapi sumpah yang ini cantik dan bening lho, Bi! Enggak ada niatan mau ngerjain gitu?”
Seketika Sabian langsung mematikan ponselnya dan menyimpannya di saku. Karena Gala lebih cantik daripada guru Iza, dia pun tertarik untuk melihat seperti apa bentuknya.
“Dimana dia sekarang?”
“Akhirnya penasaran juga kan? Tadi sih ada di perpustakaan. Kesana yok!
Dengan langkah gontai Sabian berjalan menuju ke perpustakaan untuk membuktikan apakah guru baru itu benar-benar cantik atau mata Gala aja yang mata keranjang, karena setiap wanita akan dianggapnya cantik.
“Gal, kamu enggak bohong kan kalau guru baru itu ada di perpustakaan? Tapi ngapain juga pagi-pagi udah ke perpustakaan? Seharusnya kan mempersiapkan untuk memperkenalkan diri. Jangan-jangan kamu lagi ngerjain aku, kan?”
__ADS_1
Gala menggeleng dengan pelan, karena tadi dia memang melihat guru baru itu masuk ke dalam perpustakaan. “Suer, Bi! Aku enggak bohong! Tadi aku lihat orangnya masuk sini! Coba kita cek dulu!” saran Gala.
Bian menghela nafas panjang sebelum masuk ke dalam perpustakaan untuk membuktikan ucapan Gala. Bola matanya menyapu ke setiap sudut ruangan untuk menemukan sosok yang dicarinya. Bian yang tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di dalam perpustakaan langsung menetapkanlah dengan tatapan tajamnya. Namun, saat ingin memberikan pelajaran kepada Gala, tiba-tiba sosok Ais muncul dari belakang rak buku.
“Kalian ngapain kesini? Bukanya ini udah jam masuk?” tanyanya pada dua anak berbaju putih abu-abu.
“Lha, ibuk sendiri ngapain disini? Bukannya memperkenalkan diri malah bersembunyi,” celetuk Gala.
Tatapan pertama membuat jantung Bian berdegup sangat kencang. Bahkan tubuh Sabian membeku karena terpesona akan wajah ayunya yang mampu menggetarkan hatinya. Ternyata selain guru Iza, ada sosok lain yang juga bisa menggetarkan hatinya.
“Ngapain aku memperkenalkan diri? Kalian pikir aku guru baru disini? Jika memang begitu pemikiran kalian sungguh disayangkan karena pemikiran kalian salah besar. Aku bukan guru baru disini!” jelas Ais.
Gala langsung mendelik. “Jadi ibuk bukan guru baru kami? Tapi kata anak-anak, ibu adalah guru baru pengganti Bu Iza yang katanya sudah mengundurkan diri dari sekolah ini.”
“Bukan. Aku kesini karena menemani suamiku aja, karena kebetulan sedang libur kuliah. Apakah kalian anak IPS?” tanya Ais.
Gala mengangguk dengan pelan. “Iya, Buk. Kami anak IPS.”
“Huh ... sok tahu. Udah ah, ngapain lama-lama disini, Gal! Cabut yuk, Gal!” Sabian langsung berlalu dengan debaran yang masih tak menentu. Bisa-bisanya dadanya mendebarkan istri orang.
Huh! Dasar dada sialan! Ngapain sih harus berdebar kayak gini! Kayaknya enggak ada wanita lain aja! Tapi emang cantik sih! Kira-kira itu istrinya siapa ya? batin Sabian.
“Bian ... tunggu Bi ... !” teriak Gala yang juga ikut berlalu.
Ais hanya menggelengkan kepalanya. Melihat pakaian putih abu-abu sekilas membuatnya teringat akan masanya dulu. Masa dimana masih suka jahil dan seringkali iseng kepada teman-temannya.
Hampir tiga jam Ais menunggu suaminya di kantin. Namun, belum juga terlihat batang hidungnya. Rasanya lelah dan ngantuk, tetapi tak ada tempat untuk merebahkan tubuhnya. Jika tahu rasanya akan sangat membosankan, lebih baik Ais tidur di rumah sambil nonton drama daripada duduk berjam-jam hingga habis bakso tiga mangkok.
“Dari pagi aku kok belum lihat Iza, ya?” gumam Ais saat tak melihat sosok Iza. “Apakah dia tahu kalau aku akan datang?” lanjut lagi.
Ya, hari ini Iza memang tidak terlihat, karena Iza tidak datang. Padahal surat pengunduran dirinya sudah diurus kembali oleh Bian dan masih bisa mengajar, tetapi entah ada apa dengan wanita itu sehingga dia tak datang di hari pertamanya masuk sekolah, setelah dua Minggu libur.
__ADS_1
Bel istirahat berbunyi, satu persatu murid meninggalkan kelasnya. Ada yang ingin ke toilet, ada yang ingin ke kantin ada juga yang hendak membuka bekalnya.
Hanafi yang baru siap selesai mengajar langsung menghubungi istrinya. Ais yang memang sudah menanti panggilan suaminya langsung menjawab saat panggilan itu.
“Halo Mas ... kamu dimana?” tanya Ais langsung pada intinya.
“Aku di kantor. Kamu dimana? Kenapa tidak ada di kantor?”
“Aku di kantin, Mas! Bentar ya, aku kesana.” Setelah mematikan ponselnya, Ais pun segera berlalu meninggalkan kantin untuk menemui suaminya yang sudah ada di kantor guru.
***
Kali ini Sabian tidak tertarik untuk keluar dari kelasnya. Tangannya sibuk pada ponsel untuk menghubungi bu Iza yang hari ini tak datang. Padahal Bian sudah mengurus masalah pembatalan pengunduran dirinya, tapi mengapa pagi ini gurunya itu tidak datang.
“Bu Iza kemana sih? Bukannya semua udah kelar dan enggak ada masalah? Masa iya dia lupa kalau hari ini udah masuk sekolah,” gerutu Bian saat panggilan telepon tidak diangkat oleh Iza. Bahkan pesannya juga belum dibaca.
“Bi ... ke kantin yuk! Lihat ibu cantik tadi!” seru Gala.
“Pergi aja sendiri! Aku enggak tertarik!”
“Seriusan? Ya udah, aku duluan ya!”
“Untuk apa cantik tapi istri orang. Mending Bu Iza meskipun kalah cantik tapi enggak ada yang punya!” seru Sabian dengan keras.
Rasanya seperti ada yang kurang saat tak melihat wajah gurunya itu. Terlebih saat libur sekolah dia sudah tidak mengajar les lagi, sehingga diantara mereka sudah tidak saling bertemu lagi. Dan pertemuan terakhir mereka adalah saat di cafe satu Minggu yang lalu
“Apa aku tanya sama pak Hanaf aja ya, mengapa Bu Iza enggak datang?” gumam Bian yang bener-bener mengkhawatirkan gurunya. Dia takut jika telah terjadi sesuatu yang buruk padanya. “Ini nggak bisa dibiarin aku harus mencari tahu mengapa Ibu Iza enggak masuk sekolah di hari pertama ini!”
Sabian pun berlalu meninggalkan ruang kelas untuk menuju ke ruang guru. Tujuannya hanya satu yaitu menemui Pak Hanafi untuk bertanya mengapa Ibu Iza-nya tidak datang. Mengapa Bian memilih untuk bertanya kepada Hanafi ketimbang dengan kepala sekolahnya, karena Pak Hanafi adalah satu-satunya orang yang dekat dengan ibu Iza-nya.
...###...
__ADS_1