Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 52


__ADS_3

Ais tidak menyangka jika Hanafi akan menunggu dirinya hingga selesai mengerjakan tugas kuliahnya. Meskipun harus menunggu satu jam lebih, tetapi tak membuat Hanafi mengeluh lama.


“Mas Hanaf, maaf harus menungguku lama,” ujar Ais setelah naik kedalam mobil.


Ya, selama Ais mengerjakan tugasnya, Hanafi memilih untuk menunggunya di dalam mobil.


“Enggak apa-apa. Sekarang udah selesai kan?”


Ais mengangguk dengan pelan. “Iya, udah Mas.”


Mobil pun kini melesat meninggalkan halaman rumah Jelita yang sangat luas. Ais sendiri tidak tahu mengapa tidak mau mempercantik dirinya sendiri. Padahal sudah jelas jika Jelita lahir dari keluarga yang berada. Andaikan saja Jelita mau membuka kaca mata tebal serta mengurai rambutnya, tentu dia akan dengan mudah mendapatkan teman di kampus dan dia tidak akan terus-menerus dikucilkan, karena penampilan yang terlihat sangat culun.


“Mas, kita mau kemana? Kayaknya ini bukan jalan menuju pulang deh?” tanya Ais saat menyadari jika Hanafi mengambil jalan lain.


“Iya, aku sengaja ingin mengajakmu untuk singgah ke sebuah tempat terlebih dahulu.”


“Kemana, Mas?” Ais semakin penasaran dengan tujuan Hanafi.

__ADS_1


“Nanti kamu juga tahu,” ucap Hanafi sambil mengulum senyum di bibirnya.


“Mas Hanaf sok misterius, deh,” cibir Ais sambil mengerucutkan bibirnya.


Berada di mobil yang ber-acc membuat mata Ais semakin lama semakin berat. Tanpa disadari kini Ais telah menutup matanya. Hanafi yang melihat Ais ketiduran lagi-lagi hanya bisa mengulum senyum di bibirnya.


“Ais, aku tidak tahu mengapa ada pria yang begitu tega menyia-nyiakanmu. Aku tahu kamu adalah wanita yang begitu tulus untuk mencintai pasanganmu. Tapi sudahlah, aku yakin jika semua ini adalah rencana dari Allah.”


Tak terasa kini mobil yang dikemudikan oleh Hanafi telah sampai di sebuah perumahan yang tidak terlalu elit, tetapi bisa dibilang jika penghuninya adalah orang-orang kaya.


Tangan Hanafi pun langsung mengelus pipi Ais untuk membangunkannya. “Ais, bangun. Kita sudah sampai.”


Kedua garis bibir Hanafi langsung diangkat lebar. “Turun yuk!”


Ais yang masih mengumpulkan sebagian nyawanya mengganggu pelan sambil melepaskan sabuk pengamannya sebelum mengikuti langkah hanya untuk keluar dari mobil. Ekor matanya menyapu ke sekeliling tempat dan ternyata saat ini dia telah berada disebuah perumahan.


“Mas, kita mau ngapain ke sini? Mau berkunjung ke rumah saudara mas Hanaf?” tanya Ais yang masih merasa heran.

__ADS_1


Namun, Hanafi tidak menjawab pertanyaan Ais. Dia malah menggandeng tangan Ais untuk masuk ke sebuah rumah yang masih terlihat baru. “Mas, ini rumah siapa? Kayaknya ini rumah kosong deh, karena enggak ada tanda-tanda kehidupannya disini,” ujar Ais.


“Ini rumah kita, Ais. Lusa kita akan pindah ke rumah ini dan akan tinggal disini sampai kakek dan nenek. Apakah kamu mau hidup sampai menua bersamaku? Bersama dengan segala kekuranganku? Aku harap kamu-lah tulang rusukku.”


Ais menelan kasar salivanya. Dirinya benar-benar sangat terharu dengan ucapan suaminya. Meskipun pernikahan mereka terjadi karena sebuah kesalahpahaman, tetapi tak membuat Hanafi mempunyai pemikiran untuk mengakhiri pernikahannya. Pria itu malah menghujaninya dengan cinta dan ketulusan layaknya pasangan suami-istri pada umumnya.


“Jadi ini rumah kita? Masya Allah Mas Hanaf ... makasih. Aku berjanji akan terus berada di sampingmu dalam suka dan duka hingga kita menua nanti. ” Ais tak bisa berkata-kata lagi. Dia pun langsung memeluk Hanafi tanpa rasa malu lagi.


“Ais ... terima kasih karena kamu telah bersedia untuk menerima segala kekuranganku.”


“Aku juga berterima kasih kepada mas Hanaf yang juga mau menerimaku apa adanya. Aku juga memiliki banyak kekurangan, Mas. Mari kita lengkapi semua kekurangan dengan kelebihan yang kita punya.”


“Tentu Ais.” Hanafi mendaratkan sebuah kecu.pan di pucuk kepala Ais sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam rumah baru yang akan mereka tempati nantinya.


Rasa sakit yang pernah dirasakan oleh Ais kini benar-benar telah terbalut oleh ketulusan yang dimiliki oleh Hanafi. Begitu juga dengan segudang kekurangan yang dimiliki oleh Hanafi bisa diterima dengan lapang oleh Ais. Keduanya berusaha untuk saling melengkapi setiap kekurangan dengan kelebihan yang mereka miliki. Mungkin dengan cara seperti itu mereka berdua bisa hidup bahagia selamanya.


...###...

__ADS_1


Masih mau lanjut atau cukup sampai disini, alias Tamat?


__ADS_2