
Meskipun Allah membenci perceraian, tetapi Aisyah memutuskan untuk tetap bercerai dari Azam. Untuk apa tetap bertahan pada akhirnya akan menyiksa diri sendiri, terlebih saat Azam juga tak lagi peduli dengannya. Katanya sayang, katanya cinta tapi semuanya hanya blusit. Azam sama sekali tidak mencari Aisyah untuk meminta maaf.
"Mas Adam." Aisyah terkejut saat melihat kakaknya duduk di sofa samping Aisyah terduduk. Tangannya juga menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat. Karena Aisyah tidak tau apa isinya, dia pun langsung bertanya kepada Adam apa isi dalam dalam amplop itu.
"Ini apa, Mas?" tanyanya pada sang kakak.
"Kamu baca sendiri saja! Aku juga sudah mengirimkan gugatan itu pada Azam," ujar Adam datar.
Aisyah yang merasa penasaran segera membuka isi dari amplop berwarna coklat itu. Dadanya berdebar dengan sangat kencang saat membaca sebuah tulisan Pengadilan Agama. "Mas ini kan .... " Aisyah menjeda ucapannya dan segera membuka amplop tersebut.
Betapa terkejutnya Aisyah saat membaca sebuah surat dari dalam amplop coklat, dimana itu adalah surat gugatan perceraian. "Mas Adam ini ... " Lagi-lagi bibir Aisyah terasa kelu. Dia tidak menyangka kakaknya akan mengambil menggugat Azam.
"Mas tau perceraian memang dibenci oleh Allah, tetapi mas tidak mau melihat satu-satunya adik mas dibuat disakiti oleh seorang pria yang pernah berjanji akan menjaganya dengan baik. Tapi apa nyatanya? Dia sama sekali lupa akan janji itu. Bisa-bisa dia menikah begitu saja. Sekalipun surga ada di telapak kaki seorang ibu, tetapi seharusnya Azam bisa mencari jalan untuk menyelesaikan masalah. Bukan nambah masalah. Mulai sekarang lupakan Azam!" urai Adam panjang lebar pada adiknya.
__ADS_1
Aisyah masih menatap nanar pada kertas yang masih dipegangnya. Mungkinkan ini adalah keputusan yang terbaik? Sekalipun bibirnya mengatakan dia baik-baik saja dan memilih mundur, tetapi hatinya sungguh belum bisa menerima kenyataan yang ada.
"Ais ... kamu kenapa? Bukankah kamu sendiri yang memilih untuk mundur daripada berbagai suami dengan wanita lain? Saat ini Azam sudah menikahi wanita untuk bisa mendapatkan seorang anak. Jika dia benar-benar cinta dan sayang sama kamu, dia tidak akan melakukan itu. Dia akan datang kesini untuk menjemput kamu dan terus meyakinkan tante Maya jika kalian bisa segera memberikan anak!" lanjut Adam yang merasa geram dengan sikap Azam.
"Mas Adam tidak perlu menyalahkan mas Azam karena Ais yang memilih mundur dan tidak mempertahankan rumah tangga kami."
"Tapi tidak seperti ini caranya, Ais! Bukankah sebelumnya kalian berdua sudah sepakat untuk menunda untuk memilih anak? Lalu mengapa Azam tidak bisa memberikan pembelaan itu kepada mamanya? Mengapa dia malah setuju dengan ide konyol mamanya? Jika dia benar-benar mencintaimu, apapun yang terjadi dia akan tetap mempertahankanmu. Tapi apa buktinya? Hanya selang waktu tiga hari kamu meninggalkan rumahnya, dia sudah menikah lagi. Itu kah yang disebut cinta?"
Air mata Ais rasanya telah kering untuk meratapi nasib rumah tangganya yang baru setahun berjalan, tetapi tak bisa menopang badai yang datang.
Sebagai seorang kakak sudah kewajiban Adam untuk melindungi adiknya, terlebih dari pria breng*sek seperti Azam yang katanya cinta tetapi tidak bisa membuktikan ucapannya.
"Pindah?" Kedua alis Aisyah langsung menaut.
__ADS_1
****
Azam yang mendapatkan sebuah surat dari pengadilan agama merasa shock. Saat dia tidak mau menceraikan Aisyah tetapi Aisyah yang menceraikan dirinya. Semua ini karena dia tidak bisa mempertahankan Aisyah. Dan ini pantas dia dapatkan.
"Mas Azam ... maafkan aku." Entah sudah berapa kali Iza mengucapkan kata maaf kepada Azam. Namun, percuma saja kata maaf itu diucapkan, karena tidak akan bisa mengembalikan keadaan.
"Sudahlah, aku sudah tidak mau mendengar kata maaf lagi!" sentak Azam.
Iza pun langsung menunduk dengan rasa takut karena saat ini wajah Azam sudah memerah setelah membaca surat gugatan perceraian yang dilayangkan oleh Aisyah.
"Mas ... jika kamu merasa keberatan lalu mengapa kamu tersedia untuk menikahi ku? Kamu bisa saja menolak untuk tidak menikahi ku, tetapi tidak dengan aku yang tidak bisa menolak apa yang diinginkan oleh mama Maya."
Azam langsung menatap Iza yang duduk disampingnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Iza, tetapi setelah menolak keinginan mamanya, Azam yakin jika kedepannya mamanya akan terus berusaha untuk memisahkannya dengan Aisyah. Azam sudah tahu bagaimana sifat mamanya yang pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Selain itu Azam juga belum siap untuk dikeluarkan dari anggota keluarga, itulah alasan utama mengapa Azam tidak bisa menolak keinginan mamanya.
__ADS_1
...****...