Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 44


__ADS_3

Tak perlu disesali karena semua sudah terlambat. Ibarat kata nasi telah menjadi bubur. Tinggal di taburi ayam agar bisa dimakan, daripada mubazir untuk dibuang. Begitu juga dengan apa yang telah menimpa Ais dann Hanafi. Meskipun pernikahannya hanyalah sebuah kesalahpahaman, tetapi mereka berdua mencoba untuk menerima dengan ikhlas agar pernikahan mereka diridhoi oleh Allah.


Siang ini setelah mengantarkan orang tua Ais, Hanafi mengajak Ais untuk singgah kesebuah toko perhiasan. Rencana Hanafi ingin membelikan sebuah cincin untuk Ais, karena dihari pernikahannya Hanafi tidak sempat memberikan cincin pernikahan untuk Ais.


“Kita mau ngapain kesini, Mas?” tanya Ais dengan heran.


“Ada sesuatu by yang ingin aku beli. Ayo turun!”


Ais pun langsung turun dari mobil dan mengikuti langkah Hanafi untuk masuk ke dalam toko.


Sebenarnya Ais tidak tahu apa yang sedang dicari oleh suaminya, karena mata Hanafi masih terus menelisik untuk mencari sesuatu yang diinginkan.


“Mas Hanaf cari apa sih? Kalung? Cincin? Atau apa? Biar Ais bantu cari. Untuk ibu kan?”


“Bukan untuk ibu, tapi untuk kamu!” jawab Hanafi tanpa ingin melihat kearah Ais.


“Untukku? Dalam rangka apa? Ulang tahunku masih lama, Mas!”


Seketika Hanafi menghentikan pencariannya kemudian menatap Ais sambil membuang napas kasarnya. “Memangnya harus nunggu kamu ulang tahun dulu baru aku belikan sesuatu? Enggak kan? Apakah suamimu dulu hanya akan membelikan hadiah untukmu saat kamu ulang tahun? Jika iya, berarti suamimu itu pelit!” cibir Hanafi.


Seketika bola mata Ais langsung membulat dengan lebar. Ais sendiri lupa kapan terakhir kali Azam memberikan hadiah untuknya.


“Mana tanganmu!”


Ais langsung mengulurkan tangannya pada Hanafi.

__ADS_1


Tak disangka Hanafi langsung melepaskan sebuah cincin yang sudah melingkar di jari manisnya membuat Ais terbelalak dengan lebar. “Mas Hanaf mau jual cincin pernikahan kita? Itukan cincin punya ibu, Mas!” protes Ais dengan heran.


“Siapa juga yang mau jual? Aku cuma mau beliin kamu cincin, karena pernikahan kita yang dadakan, jadi aku belum sempat beliin cincin untuk kamu. Meskipun terlambat enggak apa-apa, daripada enggak sama sekali,” komentar Hanafi.


Ais menelan kasar salivanya. Dadanya kembali bergerumuh saat mendapat perhatian lebih dari Hanafi. Ternyata dibalik sifatnya yang kaku, ada sisi romantis. Ya, meskipun masih terlihat kaku.


Hanafi segera menunjuk sebuah cincin yang dirasa cocok ditangan Ais pada penjaga toko.


“Mbak yang itu!” ucapnya pada penjaga toko.


Dengan patuh, penjaga toko langsung mengeluarkan cincin yang dimaksud oleh Hanafi. “Ini, Mas.”


“Terima kasih.”


Bibir Hanafi langsung terangkat lebar saat sebuah cincin telah berhasil dipasangkan di jari Ais. Begitu juga dengan Ais yang merasa takjub dengan cincin yang telah melingkar di jarinya.


“Gimana, kamu suka?” tanya Hanafi ingin tahu.


Kepala Ais mengangguk dengan pelan. “Iya, Mas. Aku suka.”


Karena Ais sudah cocok dengan pilihannya, Hanafi pun langsung melepaskan kembali cincin yang sempat melingkar di jari manis sang istri untuk dilakukan pengecekan dan pembayaran terlebih dahulu.


Namun, mendadak Ais terkejut dengan jumlah yang harus dibayar oleh Hanafi. Ais tidak pernah menyangka jika cincin kecil itu sangat mahal. Hanafi harus mengeluarkan uang seratus juta untuk sebuah cincin kecil.


“Astaghfirullahaladzim, Mas! Mahal sekali! Udah ah, enggak usah jadi, Mas!” Tiba-tiba Ais menolak.

__ADS_1


“Ini gak seberapa, Ais! Kamu enggak usah takut, uangku cukup untuk membayarnya.”


“Tapi itu hanya buang-buang duit aja, Mas! Lagian cincin punya ibu juga gak kalah bagus. Udah ah, aku enggak mau!”


“Tapi aku mau, Ais! Sudahlah kamu diam aja Nurut sama suami!”


Ais tak bisa membujuk Hanafi untuk membatalkan keinginannya dan tetap membeli cincin dengan harga yang sangat fantastis.


Entah harus bahagia atau bersedih saat cincin seharga seratus juta kembali melingkar di jari manis sebelum kanannya Rasanya ingin mengomel terus, ketika uang seratus juta dibuang begitu saja.


“Anggap aja itu adalah cincin pernikahan kita. Cincin punya ibu simpan aja!”


Tak ada penolakan dari Ais, dia pun segera menyimpan cincin milik ibu mertuanya yang diberikan padanya saat hari pernikahannya kemarin.


“Sekarang kamu mau beli apa lagi? Mumpung kita manis disini?” tanya Hanafi.


“Aku enggak mau beli apa-apa lagi, Mas. Mending sekarang kita pulang untuk melihat si Jalu.”


“Tapi sepertinya enggak seru, deh! Gimana kalau kita ke supermarket untuk beli stok sayur,” saran Hanafi.


“Ya udah aku nurut aja deh, Mas.”


Setelah mendapatkan sebuah kesepakatan, Hanafi pun langsung menjalankan mobilnya untuk menuju kesebuah swalayan terdekat. Namun, pada saat hendak masuk kedalam mobil mata Hanafi menangkap sosok yang begitu familiar untuknya.


“Iza,” gumamnya dengan pelan.

__ADS_1


...###...


__ADS_2