Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 86


__ADS_3

Iza merasa terkejut dengan jumlah yang disebutkan oleh Mama mertuanya. Padahal jika dihitung-hitung lagi pemberian mama ya tidaklah sampai menyentuh angka 1 M. Mungkin jika ditetapkan hanya menyentuh sekitar 100 juta saja.


“Astaghfirullahaladzim, Mama! Ini tidak benar, Ma! Sekalipun Mama sering memberikan uang, tetapi mustahil jika sampai menyentuh 1 M!” protes Iza dengan rasa keterkejutannya.


“Pak Raka, tolong jangan gegabah untuk memberikan Mama uang. Mama sedang memerrasku agar aku tak bisa keluar dari pernikahannya ini, Pak!” jelas Ais dengan rasa tidak terima. Entah bagaimana bisa mama mertuanya sanggup memeeras dirinya.


“Aku tidak peduli yang akan kamu bisa keluar dari belenggu nenek lampir ini!” tegas Raka.


“Enggak boleh seperti itu, Pak! Mama Maya hanya sedang memerras, Pak!” cegah Iza.


“Ma, dulu Mama bantuan untuk keluarga Iza. Bahkan saat ingin ditolak oleh ayah dan ibu, Mama Maya mengatakan jika Mama Maya ikhlas untuk membantu tapi mengapa sekarang Mama Maya malah menjadikannya untuk senjata? Ma, aku sama Mas Azam tidak berjodoh. Tolong jangan paksa kami, Ma!”


Mama Maya masih terdiam dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada. Pandangannya masih kosong. Bahkan dia tidak sendiri tidak tahu apa yang akan dia lakukan untuk selanjutnya. Semua harapannya sudah sirna.


Andaikan saja dia tidak tergesa-gesa mengambil sebuah keputusan, mungkin saat ini apa yang diinginkan akan diberikan oleh Ais. Namun, sayangnya semua telah menjadi bubur dan tak bisa untuk disesali. Andaikan saja dia bisa bersabar untuk sebentar lagi saja, mungkin saat ini Ais akan hamil anak Azam, bukan pria lain.


“Ma, jika Mama masih bersikukuh untuk meminta ganti rugi sebesar itu, Ais tidak akan segan-segan untuk melaporkan Mama atas tuduhan pemerrasan!” Entah mendapat keberanian darimana, Iza bisa menantang mama mertuanya. Mungkin karena Iza telah lelah untuk menghadapi mama mertuanya yang semena-mena padanya.


Bibir mama Maya menyungging tipis saat Iza mengancam dirinya. Sungguh diluar dugaan jika Iza akan melawannya. Bahkan menantunya itu tidak merasa takut dengannya lagi. Sejenak mata mama Maya menatap pria asing yang ada disamping Iza. Sudah bisa dia pastikan jika pria itu bukanlah orang sembarangan. Buktinya saja dia mampu menawarkan dua kali lipat uang yang dimintanya.


“Apakah alasanmu untuk berpisah dengan Azam karena pria ini? Apakah kamu berselingkuh dibelakang Azam?”


Bola mata Iza seketika mendelik dengan lebar Entah apa yang ada didalam pikiran mama mertuanya sehingga mempunyai pikiran yang sangat sempit. Padahal sudah jelas-jelas jika anaknya-lah yang telah pergi tanpa sebuah kepastian dan kini dia bisa memutar balikkan untuk tetap menahannya.


"Astaghfirullahaladzim, Mama! Istighfar, Ma! Sebenarnya apa yang telah merasuki Mama? Dulu Mama tidak seperti ini! Dulu Mama layaknya seorang malaikat, tapi mengapa kini Mama berubah layak .... ” Iza menggantung ucapannya


“Iblis.” Satu celetukan dari luar membuat semuanya tercengang. “Mama sekarang telah berubah seperti iblis!”

__ADS_1


Dada Iza semakin berdegup dengan kencang manakala suara itu menyentuh genderang telinga. Suara yang sangat dikenali, meskipun baru beberapa bulan mereka bersama. Suara siapa lagi jika bukan suara Azam.


Ya, dia adalah Azam. Entah mengapa bisa Azam muncul dengan tiba-tiba. Mungkinkah ini termasuk dari rencana dari Allah, karena saat ini sangat membutuhkan Azam untuk meminta talak dari pria itu.


“Mas Azam,” gumam Iza dengan gugup.


Kedatangan Azam yang secara tiba-tiba sangat mengejutkan semua orang termasuk dengan Mama Maya. Wanita itu tak menyangka jika sang anak akan muncul di waktu yang bersamaan dengan kedatangan Iza. Mengapa semua bisa kebetulan seperti ini.


Langkah Azam semakin mendekat. Saat posisinya sudah berada disamping mamanya, dia langsung menatap Iza dengan datar. “Azizah, detik ini juga atas kesadaranku, aku menalakmu.”


Iza yang mendengar langsung terbelalak dengan lebar. Bahkan detak jantungnya berdegup dengan sangat kencang.


“Karena pernikahan ini hanya sebatas pernikahan agama, maka detik ini jatuh sudah talakku atasmu. Sekarang diantara kita sudah tidak ada hubungan suami-istri, kamu bukan istriku dan aku juga bukan suamimu!”


Tak terasa Iza menjatuhkan air matanya. Entah mengapa adanya terasa sesak ketika ditalak oleh Azam. Padahal itulah tujuan Iza datang ke Jogja untuk mendapatkan talak dari Azam. Namun, saat Izasudah mendapatkan apa yang dia inginkan bedanya terasa sakit.


“Sekarang, berikan nomor rekening anda karena saya yang akan mengembalikan uang yang telah anda keluarkan untuk keluarga Iza,” sambung Raka.


“Tidak perlu!” potong Azam. “Aku yang akan mengembalikan uang yang telah mama keluarkan untuk keluarga Iza.”


“Tapi Mas .... ”


“Anggap saja ini ini adalah ganti rugi atas apa yang telah aku lakukan padamu. Aku harap kamu bisa memaafkanku dan mulai sekarang kamu bisa memilih jalan hidupmu sesuai dengan keinginanmu tanpa harus terikat dengan rasa hutang budi. Hari ini kamu terbebaskan,” lanjut Azam.


Mama Maya hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum saat apa yang dia harapan selama ini benar-benar hancur lebur. Tak ada lagi harapan untuk mendapatkan sepeserpun warisan dari suaminya. Helaan napas panjang pun terdengar sangat berat.


“Mas Azam ... sekali lagi terima kasih. Semoga Allah yang akan membalas atas kebaikan Mas Azam.”

__ADS_1


Setelah semua urusannya selesai, Iza memutuskan untuk pamit karena sudah tidak ada lagi yang akan dibahas. Kali ini dia tak hentinya mengucap kata syukur karena urusannya berjalan dengan sangat lancar. Bahkan, Azam yang telah pergi meninggalkan dirinya tiba-tiba datang dan memberikan apa yang dia inginkan.


“Pak Raka ... sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak karena telah banyak membantu saya,” ucap Iza saat hendak naik ke dalam mobil.


Raka tersenyum kecil dengan mata yang masih mena wajah teduh wanita di hadapannya. “Saya? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menggunakan bahasa formal?”


Iza tertawa pelum karena dia melupakan jika sekarang keduanya telah menjadi teman. Namun, meskipun begitu Iza tetap akan memanggil ayahnya Sabian dengan sebutan Pak.


“Maaf, lupa.”


Karena sudah berkunjung ke kota itu, Raka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sebelum mereka pulang ke Ibukota. Iza merasa tidak keberatan selama ayah dari muridnya bisa menjaga dan membatasi diri untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.


“Oh iya, aku dengar salah satu rekan gurumu ada yang akan melakukan resepsi di kota ini. Siapa namanya?”


Iza langsung menautkan kedua alisnya. Seketika dia baru mengingat jika besok Hanafi akan melangsungkan acara resepsi pernikahannya yang sempat tertunda.


“Astaghfirullahaladzim! Aku hampir lupa jika besok Hanafi akan melakukan resepsinya. Untuk pak Raka mengingatkannya.”


“Karena kita sudah berada di kota yang sama bagaimana kalau kita menghadiri acara resepsi mereka?” saran Raka.


Iza mengangguk dengan pelan untuk menyetujui saran dari Raka. “Boleh juga. Tunggu sebentar biar aku bertanya gimana alamat rumah Ais.”


Lagi-lagi Raka tersenyum kecil saat wajah teduh itu terlihat lebih bersinar. Raka sendiri tidak tahu mengapa dia sangat bahagia jika berada di dekat Iza. Padahal sebelumnya Raka sudah tidak berniat untuk membuka hatinya. Namun, entah mengapa saat bertemu dengan Iza, hatinya kembali bergetar dan rasa ingin memiliki kian tumbuh lagi.


Ya Allah, jika ini adalah rencana baik dari-Mu, aku ikhlas untuk menerima wanita ini sebagai ibu dari anakku. Aku yakin jika rencana-Mu adalah yang terbaik untukku


...###...

__ADS_1


__ADS_2