
Setelah melakukan presentasi, kelas pun akhirnya selesai. Jelita tidak tahu jika tidak ada Ais disampingnya. Mungkin dia hanya akan mendapatkan sorakan dari teman-teman di yang memang tidak menyukainya. Namun, karena ada Ais, tak ada satupun suara sorakan yang didengarnya. Terlebih Ais begitu fasih dalam melakukan prestasi. Ternyata selain cantik, Ais juga sangat pintar. Begitulah yang dipikirkan oleh Jelita.
Saat Ais dan Jelita hendak meninggalkan kelas, tiba-tiba langkahnya dihentikan dengan suara Azam yang memanggilnya.
“Ais, tunggu!”
Ais dan juga Jelita pun langsung menoleh ke belakang di mana Azam telah berada di belakang mereka.
“Ada apa, Pak?” tanya Ais dengan senyum lebarnya.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Tentang apa itu, Pak? Sepertinya tadi saya sudah melakukan presentasi dengan bagus. Apakah ada masalah?”
Azam terdiam untuk sesaat, tetapi matanya masih terpana pada sosok yang kini berada tepat dihadapannya. Jika dulu wanita itu bisa menenangkan dirinya saat sedang kacau, tetapi kini Azam sama sekali tak bisa menyentuhnya. Rasanya ingin memeluk untuk meluapkan rasa sesak didalam hatinya, namun Azam tidak bisa melakukan itu.
“Ais, apakah kamu mempunyai masalah pribadi dengan pak Azam?” bisik Jelita dengan pelan.
Ais pun segera menggeleng. “Tidak ada, Lita. Em ... kamu duluan aja! Aku ingin berbicara sebentar dengannya.”
Jelita mengangguk dengan pelan dan langsung meninggalkan Ais dan juga Azam. Dalam benaknya banyak sekali pertanyaan yang muncul dan dugaan-dugaan tentang hubungan Ais dan dosennya. Mungkinkah mereka berdua diam-diam mempunyai hubungan spesial, seperti layaknya sebuah novel yang pernah dibacanya?
Tidak. Aku tidak boleh berpikir yang macam-macam. Aku yakin jika Ais dan pak Azam tidak mungkin mempunyai hubungan apa-apa sekalipun mereka berasal dari satu universitas yang sama. Anggap saja itu hanya sebuah kebetulan saja
Setelah kepergian Jelita, kini hanya tinggal Azam dan Ais saja. Dengan cepat Azam menutup pintu kelas, membuat dada Ais semakin berdebar tidak menentu. “Kamu mau apa, Mas?” tanya Ais dengan gugup, saat sorot mata Azam terlihat sangat tajam mengarah padanya.
__ADS_1
Langkah Azam kian mendekat, membuat Ais memundurkan langkahnya. Langkah demi langkah membuat kaki Ais menabrak sebuah meja dan langsung membuatnya terduduk. “Mas Azam, kamu mau apa?” tanya Ais dengan ketakutan, karena tatapan Azam begitu tajam.
Seketika tubuh Azam langsung jatuh. Dia berlutut di depan Ais dengan sejuta rasa sesal.
“Ais ... maafkan kebodohan ini yang tak bisa memperjuangkanmu. Aku tahu kamu sangat terluka dan tidak akan bisa memaafkanku. Tapi asal kamu tahu, rasa cinta yang aku miliki tak akan pernah pudar. Cinta kita akan tetap ku simpan dalam hati. Ais, jika kamu tidak bisa menjadi ibu dari anak-anakku, aku tidak akan pernah memberikan benihku pada wanita manapun, termasuk dengan Iza. Aku sudah mengambil keputusan ingin melanjutkan studiku lagi di laur negri. Jadi dengan hati yang paling dalam, aku minta maaf karena telah menorehkan luka di hatimu. Semoga kamu bahagia bersama dengan Hanafi,” ucap Azam panjang lebar.
Ya, Azam telah mengambil sebuah keputusan berat dalam hidupnya setelah tadi malam Iza menolak untuk memberikan anak. Bahkan tadi malam Iza juga telah meminta perpisahan, karena dia tidak mau melanjutkan pernikahan yang dianggapnya pernikahan palsu.
Tubuh Ais masih membeku. Dia tidak tahu apakah dia harus bahagia atau bersedih ketika Azam bisa mengakui kesalahannya dan menyesal karena tidak bisa memperjuangkan dirinya. Bahkan dia juga ingin melanjutkan studinya di luar negeri yang artinya Azam tidak akan mengganggu hidupnya lagi. Namun, satu sisi dia merasa iba dengan apa yang sedang terjadi pada mantan suaminya itu. Pasti saat ini pria itu sedang tidak bisa menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.
“Mas Azam ... berdirilah!” pinta Ais yang merasa iba.
“Tidak Ais ... aku tidak akan berdiri sebelum aku mendengar kata maaf darimu.”
“Mas! Kamu itu seorang dosen, jangan merendahkan dirimu seperti ini! Berdiri atay aku tidak akan memaafkan kebodohanmu untuk selamanya!” ancam Ais.
Helaan napas panjang terdengar begitu berat. Sakit memang jika mengingat apa yang telah dilakukan oleh Azam yang sama sekali tidak bisa mempertahankan rumah tangganya hanya demi mengejar warisan dari orang tuanya. Namun, Ais sudah merelakan Azam tanpa sedikitpun menyesal ketika berpisah dengannya, karena dari situlah Ais tahu jika pria seperti Azam tak patut untuk dipertahankan.
Bagi Ais, lukanya telah sembuh meskipun bayangan masa lalu masih sering muncul. Melupakan semua kenangan yang pernah terasa indah tak semudah seperti membalikkan telapak tangan, karena apa yang telah terjadi tak akan bisa terhapus dari memori ingatannya.
“Aku sudah lama memaafkan kebodohanmu, Mas. Tapi tolong, untuk kedepannya jangan pernah kamu sia-siakan lagi wanita yang tulus mencintaimu, jika kamu tidak ingin menyesal lagi.”
“Iya, aku tau. Mungkin setelah ini tidak akan ada wanita yang akan mengisi relung hatiku lagi, karena aku telah menutupny.”
“Maksud kamu apa, Mas?”
__ADS_1
Kali ini Azam terlihat lebih tenang. Dia menarik sebuah bangku yang ada dibelakangnya. Helaan napas pun terdengar begitu berat. “Aku tidak aka jatuh cinta lagi pada seorang wanita manapun, karena aku telah mengunci hatiku dengan cintamu. Oleh sebab itu aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di luar negeri. Dan kemungkinan aku akan menetap disana, karena aku tidak akan sanggup untuk melihatmu bahagia bersama dengan orang lai.”
“Lalu bagaimana dengan Iza? Jangan bilang mas Azam .... ”
“Aku dan Iza akan segera berpisah, karena Iza tidak ingin melanjutkan pernikahan ini. Aku juga tidak akan memperdulikan lagi masalah warisan itu. Aku akan ikhlas jika mama tidak memberikan warisannya padaku,” jelas Azam.
Mata Ais terasa panas. Mengapa tidak sedari awal Azam mempunyai pemikiran yang waras seperti itu, sehingga pernikahan mereka tidak hancur. Namun, nasi telah menjadi bubur. Tidak ada gunanya untuk disesali lagi, karena saat ini Ais telah menikah dengan orang lain.
“Mas Azam akan menceraikan Iza? Astaghfirullahaladzim, Mas! Mas ... kenapa Mas Azam tidak membuka hati untuk Iza? Dia wanita yang baik. Ais yakin jika Iza bisa menggantikanku di hatimu asalkan kamu mau membuka hati. Mas Azam ... tolong pikiran lagi! Jangan berpisah dengan Iza. Kasihan dia!”
“Tapi itu keinginan dia, Ais. Aku tidak akan memaksakan keinginanku, karena itu hanya akane menyakitinya. Ais ... lusa aku akan berangkat ke Paris. Bisakah aku meminta satu permintaan?”
Ais mendongak untuk menatap mata Azam. “Apa itu, Mas?”
“Bisakah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya, agar aku bisa berangkat dengan tenang. Anggap saja kita adalah kakak dan adik. Bukankah sebelum menikah kamu menganggapku sebagai kakakmu? Ais ... tolong untuk kali terakhir ini saja.” Azam mencoba untuk menyakinkan Ais. Sungguh Azam sangat merindukan pelukan Ais yang meneduhkan hatinya.
“Tapi Mas ... sekarang aku ini istri orang lain dan aku tidak akan sembarangan untuk memeluk orang lain, karena ada hati yang harus aku jaga. Maaf Mas Azam ... aku tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Dan jika tidak ada lagi yang harus kita bahas, aku akan keluar karena Jelita telah menungguku.”
Azam sungguh merasa sangat kecewa dengan penolakan Ais, tetapi dia tidak ingin memaksakan keinginan. “Baiklah, jika kamu tidak mau tidak apa-apa. Aku mengerti. Tapi apakah kamu tidak akan mengucapkan kata perpisahan untukku?”
Ais tersenyum lebar saat melihat jika saat ini Azam sudah bisa meredam emosinya. “Mas Azam, sekalipun tidak ada kata perpisahan yang ku ucapkan, tetapi aku selalu mendoakan yang terbaik untukku. Semoga kelak kamu menjadi seorang pria yang bertanggung jawab dan bisa memperjuangkan cintamu. Jadikanlah kegagalan ini sebagai pembelajaran untukmu.”
Azam pun hanya mengangguk dengan pelan. Rasa sesal kian mendalam, ketika berlian itu telah dimiliki oleh orang lain. “Baiklah, terima kasih Ais, aku akan menjadikan kegagalan ini sebagai pembelajaranku di kemudian hari. Terima kasih telah hadir untuk mengisi relung hatiku. Semoga kamu juga segera diberikan momongan, sekalipun itu bukan dari benihku.”
“Terima kasih atas doanya, Mas. Aku dan mas Hanaf memang sedang melakukan program kehamilan untuk membuktikan jika aku bukanlah wanita mandul.”
__ADS_1
...###...