
Seperti biasa setiap pagi Ais akan bangun sebelum adzan berkumandang. Namun, sepertinya tidak dengan pagi ini. Ais yang baru memejamkan matanya pada pukul 03.00 dini hari, membuatnya tak tak menyadari jika waktu subuh telah tiba. Bahkan suara alarm dari ponselnya saja tak terdengar oleh Ais.
"Ais ... bangun! Sholat dulu!" Suara Hanafi seakan masuk kedalam alam bawah sadarnya. Karena Ais masih mengantuk, dia hanya sedikit bergerak untuk mengeratkan pelukan pada gulingnya.
Hanafi hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan pelan ketika menyadari jika Ais susah untuk dibangunkan.
"Ais, ayo bangun dulu! Kita sholat subuh dulu, abis itu kamu boleh tidur lagi." Kini Hanafi memberanikan diri untuk menggoncangkan tubuh Ais.
Ais yang yang merasa itu nyata langsung mengerjap dengan pelan. Dilihatnya sosok Hanafi telah berdiri di sampingnya.
"Astaghfirullahaladzim ... mas Hanafi kenapa disini?" tanya Ais yang langsung menutup mulutnya karena sangat terkejut.
Tidak hanya itu saja, Ais juga merasa ada yang berbeda di dalam kamarnya. Kamar yang asing bagi, tetapi saat Ais ingin menanyakan di mana dirinya, seketika dia baru mengingat jika saat ini dirinya dan juga Hanafi adalah pasangan suami istri.
"Astaghfirullahaladzim .... maaf Mas, aku lupa jika sekarang kita telah menikah," ucapnya dengan lemah. Dan pada saat Ais mengambil ponselnya untuk melihat jam, bola mata Ais langsung membulat dengan lebar.
"Astaghfirullahaladzim ... Mas Hanaf kenapa enggak bangunin Ais?" Ais terlonjak dengan keterkejutan dan segera beranjak dari tempat tidurnya.
"Bukan enggak dibangunin, tapi kamu-nya aja yang enggak mau bangun," ujar Hanafi dengan gelengan kepala.
Didalam kamar mandi Ais segera mencuci muka dan mengambil air wudhu. Namun, saat baru keluar dari kamar mandi mendadak tubuh Ais terasa membeku. Dilihatnya sosok Hanafi sedang duduk di tepi ranjang untuk menunggunya sholat. Dan saat itu juga Ais baru menyadari jika dia meninggalkan jilbabnya di kamar mandi.
"Astaghfirullahaladzim ... " Dengan segera Ais langsung masuk ke kamar mandi untuk memakai jilbabnya. "Kok bisa-bisanya sampai lupa sih!" gerutunya dengan pelan.
Meskipun saat ini sudah halal untuk diperlihatkan pada suaminya, tetapi Ais masih merasa malu dan canggung jika harus memperlihatkan auratnya kepada Hanafi.
__ADS_1
"Ais, lebih cepat sedikit! Nanti keburu abis waktunya!" seru Hanafi yang masih sabar menunggu Ais.
"Iya, Mas. Ini juga udah siap kok." Ais pun berjalan pelan menuju tempat yang akan digunakan untuk sholat.
Dada Ais bergerumuh dengan saat kencang saat dia sholat berjamaah dengan Hanafi. Meskipun sebelumnya Ais sudah pernah merasakan salat berjamaah dengan Azam, tetapi untuk saat ini rasanya sangat mendebarkan dada.
Dalam sujudnya Ais memanjatkan doa untuk pernikahannya dengan Hanafi. Meskipun pernikahannya tak dilandasi dengan rasa cinta, tetapi Ais meminta agar pernikahan kali ini bisa sakinah mawadah warahmah until jannah. Ais berharap jika Hanafi mampu membimbingnya menjadi lebih baik dan membalut luka di dalam hatinya.
Sebisa mungkin Ais berusaha untuk tetap tenang saat mencium tangan Hanafi selepas sholat. Ini adalah kali kedua Ais mencium tangan Hanafi setelah kemarin menciumnya di kantor agama setelah ijab.
"Mas, kamu mandi dulu aja. Kamu kan ada jadwal kuliah pagi," kata Hanafi saat Ais melipat kembali mukena yang baru saja ria gunakan untuk sholat.
"Eh, kok aku duluan, sih? Mas Hanaf dulu aja. Aku mau ke dapur. Mau bantuin ibu masak," tolak Ais.
"Ibu gak usah di bantuin enggak apa-apa. Ibu udah bisa masak sendiri," celetuk Hanafi.
"Ya udah, terserah kamu aja. Berati aku yang mandi duluan ya!"
Kepala Ais mengangguk dengan pelan. "Iya.as Hanaf aja yang mandi duluan."
Setelah Hanafi masuk ke dalam kamar mandi, Ais pun segera keluar dari kamar dan memutuskan untuk langsung ke dapur. Kakinya mengayun dengan pelan karena tidak ingin menimbulkan suara derap langkah kakinya. Ais takut menimbulkan suara sehingga membangunkan mertuanya.
Namun, setelah sampai di dapur Ais terbelalak saat melihat dua orang mertuanya sudah berkutat di dapur. Rasanya sungguh malu saat melihat bapak mertua ikut memotong sayuran, sementara mereka sudah memiliki seorang menantu. Dengan rasa gugup, Ais langsung menyapa kedua dengan rasa gugup.
"Ibu udah masak? Maaf Ais bangunnya kesiangan karena tadi malam tidak bisa tidur."
__ADS_1
"Eh, Ais. Udah bangun?" sapa bapak mertuanya.
"Enggak apa-apa. Wajar aja kalau pengantin baru bangunnya kesiangan. Enggak usah merasa bersalah kalau lihat Bapak bantuin ibu masak, ya. Bapak emang kayak gini kalau pagi suka nemenin ibu masak," jelas Ibu mertuanya.
Ais hanya nyengir. Rasanya tetap tidak enak saat melihat Bapak mertuanya ikut bantuin memasak di dapur.
"Em ... sini Pak, biar aja yang bantuin masak. Bapak mau ngeteh apa ngopi? Biar Ais buatin?"
"Wah ... ini nih ... menantu idaman. Pagi-pagi nawarin teh apa kopi, enggak kayak istri sendiri yang malah nyuruh bantuin masak. Ya udah bapak mau teh aja. Tapi jangan manis-manis ya. Takutnya pas liat ibu kamu, udah gak manis lagi dia," seloroh bapak mertuanya yang memilih untuk meninggalkan dapur.
Lagi-lagi Ais tersenyum tipis. "Ah, bapak bisa aja."
"Tapi beneran lho Ais. Kalau abis minum yang manis-manis terus lihat ibu itu rasanya lain. Makanya lain kali kalau ngasih minuman sama Hanaf jangan yang manis-manis ya. Biar manisnya awet di kamu," lanjut Bapak mertuanya lagi.
"Ais, jangan kamu dengarkan bapak kamu. Dia orangnya emang gitu," saran ibu mertuanya. "Jadi tadi malam ngapain kok enggak bisa tidur?"
"Em ... itu Bu .... " Sejenak Ais menjeda ucapannya.
"Udahlah, Bu! Jangan diintrogasi kayak gitu! Kasihan Ais! Kayak ibu enggak pernah muda aja!" seru bapak mertua dari meja makan.
...***...
Makasih yang masih bertahan untuk tetap mendukung author sampai bab ini. Tinggalin jejaknya dong, biar othornya gak terlalu down 🥺
Selagi nungguin novel ini update kembali, mampir dulu yuk ke novel baru author dengan judul KISAH YANG TERTINGGAL. Dapatkan kejutan diakhiri baby-nya ya ☺️
__ADS_1
Sinopsis: Lima belas tahun berpisah, kini Alvaro dan Bunga dipertemukan lagi dalam satu universitas yang sama. Meskipun telah berpisah lama, tetapi tak membuat rasa benci yang dimiliki oleh Alvaro luntur. Pria itu masih menyimpan rasa benci yang tinggi. Namun, suatu saat Alvaro dibuat menyesal dengan sikapnya yang selama ini acuh kepada Bunga. Dan penyesalan selalu datang dikemudian hari. Bagaimana kisahnya? Langsung baca ke Novelnya ya 🥰