Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
S—2 : Cinta Untuk Sabian


__ADS_3


Karena Iza tidak ingin diajak pulang rumahnya, Raka pun memutuskan untuk membawa Iza ke salah satu apartemen miliknya. Awalnya Iza menolak dengan sangat keras, tetapi Raka terus membujuk Iza untuk menerimanya. Karena Iza merasa tidak enak, akhirnya Iza pun mengiyakan saja keinginan Raka.


“Untuk sebelumnya, makasih ya Pak. Tapi Pak Raka tenang aja, nanti kalau aku udah dapat rumah sewa yang baru aku akan segera pindah,” ujar Iza saat Raka membuka pintu apartemen yang telah lama tidak ditempatinya.


“Kamu enggak usah kemana-mana, tetaplah tinggal diisi. Bagaimanapun juga kamu adalah gurunya Sabian, jadi apapun yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku. Tolong jangan menolak.”


Iza menghela napas panjangnya. Meskipun dia mencium aroma lain, tetapi dia mencoba untuk tetap proposional dan tidak mencampur adukkan perasaan, karena kedekatannya dengan keluarga Sabian semata-mata hanya menjadi guru lesnya saja, tidak lebih.


“Apartemen ini sudah lama tidak ditempati, jadi harus dibersihkan dulu. Nanti aku panggil cleaning servis untuk membersihkannya,” lanjut Raka sambil menyeret koper milik Iza.


“Gak udah repot-repot, Pak. Aku bisa membersihkan sendiri, kok.”


“Enggak apa-apa. Kamu istirahat aja! Aku tahu kamu pasti capek!”


Iza tidak biasa berkata apa-apa lagi jika Raka sudah berbicara. Mungkin itulah kelebihan yang dimiliki oleh orang yang mempunyai kekuasaan, selalu bisa membuat orang tunduk dan patuh. Namun, anehnya tidak bisa menundukkan anaknya sendiri.

__ADS_1


Sambil menunggu cleaning servis membersihkan seluruh ruang apartemen, Raka memesan makan malam untuk mereka berdua, karena perlengkapan dapurnya sudah tidak lengkap lagi.


“Za, kamu mau makan apa?” tanya Raka pada Iza yang sedang menata pakaiannya kedalam lemari.


“Pak Raka lapar?” Iza langsung mendongak untuk menatap Raka yang sedang bertanya.


“Kamu ini gimana sih, Za! Aku tuh nanya kamu, eh malah kamunya malah ganti nanya! Rencana aku mau makan malam disini sebelum pulang. Jadi kamu mau pesan apa?”


“Terserah Pak Raka aja. Aku orangnya enggak pemilih makanan, selagi makanan itu masih halal.”


Baru saja Raka hendak menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku tiba-tiba sebuah nomor tak dikenal memanggilnya. Dengan cepat dia pun mengangkat karena takut ada sesuatu yang urgent. Dan benar saja, setelah diangkat tubuh Raka membeku tanpa kata hingga panggilan terputus. Iza yang melihatnya langsung mendekat.


“Pak Raka ... ada apa? Apakah ada kabar buruk?” tanya Iza sambil mengernyit.


Raka menghela napas panjang sebelum menatap Iza. Baru saja ingin bernapas lega, kini si biang kerok telah membuat ulah lagi. Rasanya tidak tenang jika satu hari saja tidak membuat masalah.


“Sabian .... ” ucapnya dengan lemah.

__ADS_1


“Sabian kenapa, Pak?”


“Di kantor polisi.”


Bola mata Iza langsung membulat dengan lebar manakala mendengar Sabian berada di kantor polisi. “Kantor polisi? Bian kenapa, Pak?”


“Ikut balapan liar lagi,” ucap Raka dengan berat


“Iza, maaf aku tidak bisa makan malam bersamamu, karena aku harus pergi. Nanti kalau ada apa-apa, segera hubungi aku, atau langsung hubungi scurity yang ada di bawah sana!” Raka pun langsung menyambar jasnya. Namun, langkahnya ditahan oleh Iza.


“Tunggu, Pak! Aku ikut!”


Raka mengangguk dengan pelan. Entah dengan cara apalagi agar Sabian meninggalkan hobinya yang satu itu. Masih mending jika tertangkap oleh polisi daripada tertangkap oleh malaikat pencabut nyawa.


...####...


...Mumpung hari Senin, boleh dong bagi Vote, bunga ataupun kopinya 🤭...

__ADS_1


__ADS_2