Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 85


__ADS_3

...( Cerita othor percepatan ya 😊 )...


Setelah melewati drama sakit, hampir satu malaman Ais tidur dalam dekapan suaminya, karena itu adalah posisi yang paling nyaman. Hingga adzan berkumandang, Ais masih enggan untuk beranjak dari dekapan suaminya.


“Ais, bangun! Udah subuh!” bisik Hanafi dengan pelan.


Ais menggeliat dengan pelan. Rasanya sangat malas untuk bangkit, tetapi demi kewajiban sebagai seorang muslim, Ais harus bangun.


“Kalau perut kamu masih sakit nggak usah pergi ke kampus dulu. Nanti aku disini sama dosennya,” ujar Hanafi saat hendak beranjak dari tempat tidur.


“Udah baikkan kok, Mas. Maaf, ya tadi malam sudah membuat Mas Hanaf cemas.”


Sebenarnya Ais ingin mengungkapkan jika dia melanggar satu larangan, tetapi karena Ais tidak mau terkena marah, dia memilih untuk menyembunyikannya dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya.


Mas Hanaf, maaf aku harus menyembunyikan sesuatu darimu, tapi aku berjanji tidak akan mengulanginya.


***


Ternyata waktu dua minggu itu begitu cepat berlalu. Tak terasa waktu yang telah dijanjikan oleh Hanafi telah tiba. Ais benar-benar merasa sangat bahagia karena dia akan segera bertemu dengan kedua orang tuanya.


Tujuan utama Ais pulang adalah untuk melakukan resepsi pernikahannya yang sempat tertunda. Selain memboyong keluar besar Hanafi, Ais juga mengajak Jelita, satu-satunya sabahat yang dimilikinya. Ais ingin berbagi kebahagiaan dengan Jelita, terlebih saat mengetahui jika Jelita menyukai kakaknya.


Untuk menghemat waktu orang tua Hanafi memutuskan untuk naik pesawat terbang karena hanya akan memakan sekitar 1 jam 20 menit.


Sesampainya di Bandara, kedatangan Ais telah di tunggu oleh keluarga Ais. Kedua orang tuanya Ais tak hentinya mengucap kata syukur setelah memeluk putrinya. Bukan karena lama tidak berjumpa, tetapi karena kenyataannya jika saat ini putrinya sedang hamil.


“Alhamdulillah nduk, ibu sangat bahagia sekali saat mendengar kamu hamil. Akhirnya kamu bisa mematahkan tuduhan itu.”


“Ibu ... tolong enggak usah bahas yang lalu. Yang lalu biarlah berlalu, karena aku sudah ikhlas, Bu. Sekarang aku ingin bahagia tanpa ada bayang-bayang masa lalu,” balas Ais dengan pelan.


“Iya, Nduk. Ibu tidak akan membahasnya. Tapi ibu hanya ingin melihat wanita itu menyesali keputusannya.”

__ADS_1


Ternyata bukan hanya kedua orang tua Ais saja yang menjemputnya di bandara, tetapi juga Adam yang turut menjemput kedatangan Ais.


“Mas Adam.” Ais merasa sangat terkejut saat Adam muncul dari belakang ibunya. Begitu juga dengan Hanafi, karena sebelumnya Adam telah mengatakan kepada Hanafi jika dia tidak bisa pulang dan tidak bisa menghadiri acara resepsinya. Namun, nyata temannya itu malah muncul dengan tiba-tiba.


“Adam, kamu pembohong!” ucapnya.


Adam tertawa pelan, karena telah berhasil meyakinkan Hanafi jika dia tidak bisa pulang.


“Kamu pikir aku benar-benar tidak akan pulang dan tidak akan menyaksikan acara adikku sendiri? Tidak akan mungkin Hanaf! Ais adalah adikku satu-satunya. Sekalipun aku sibuk di tempat baru, aku akan tetap menyempatkan diri untuk menyaksikan acara bahagianya. Ya, meskipun udah di unboxing.”


“Ya mau bagaimana lagi, kami berdua adalah pasangan suami istri. Dan unboxing itu adalah kebutuhan kami setiap malam. Makanya nikah biar tahu bagaimana rasanya unboxing tiap malam. Jangan cuma ngejar karir terus, takutnya keburu experied dan enggak laku!” celetuk Hanafi.


“Sekalipun sudah experied, aku masih tetap akan laku, karena wajahku tampan.”


Tak ingin membuang waktu berlama-lama, ayah Ais langsung mengajak semua bersiap untuk pulang, karena jarak antara Bandara dengan rumah masih membutuhkan waktu hampir 2 jam.


Dalam perjalanan pulang sebenarnya Adam menyimpan rasa ingin tahu tentang sosok perempuan yang bersama dengan Ais. Mungkinkah itu teman Ais atau saudara Hanaf.


“Siapa juga yang lirik-lirik,” tepis Adam.


“Halah ... udah ketahuan masih aja ngelak! Kanapa? Terpesona dengan kecantikan Lita?” goda Ais.


“Lita?” cicit Adam dengan alis yang menaut. “Maksud kamu Jelita yang culun dengan kacamata besar itu?”


“Ih ... Mas Adam jahat banget ngatain Lita culun! Lita enggak culun, cuma pura-pura culun aja!” jelas Ais.


Di sisi lain kabar tentang Ais pulang ke kampung halaman pun telah terdengar oleh mantan mama mertua. Bahkan kabar kehamilan Ais pun juga sudah di dengarnya. Kali ini wanita itu terdiam seribu bahasa dengan kenyataan sebuah kenyataan dimana perempuan yang dianggapnya tidak bisa memberikan anak kini telah dinyatakan hamil.


Bukan hanya itu saja, di hari yang sama Iza juga datang ke rumahnya untuk mengakhiri pernikahannya dengan Azam yang sampai saat ini tak ada kejelasan.


“Kamu pikir kamu bisa lepas dari pernikahan ini?” tanya mama Maya dengan sinis pada Iza yang kini ada di depan matanya.

__ADS_1


Iza yang di temani oleh ayah Sabian benar-benar tidak takut dengan segala ancaman yang diberikan oleh mama Azam, karena bagi Iza tak ada gunanya mempertahankan pernikahan yang tidak jelas. Apalagi saat ini Azam telah pergi entah kemana. Lalu apakah masih bisa dianggap sah pernikahan?


“Insya Allah bisa, Ma. Jika Mama menginginkan Iza untuk mengembalikan semua uang yang telah Mama berikan untuk orang tua Iza, insya Allah Iza sanggup, Ma.”


Mama Maya mencibir ucapan Iza, karena tidak akan mungkin Izamampu untuk mengembalikan semua uang yang telah ia keluarkan untuk keluarga Iza. Bahkan sekalipun mengabdi seumur hidup untuk keluarganya saja tidak akan bisa untuk mengembalikan apa yang telah dia berikan.


“Apakah kamu yakin dengan ucapanmu itu? Iza, ingat jika tidak ada Mama yang membantu keluargamu, mungkin saat ini kalian semua telah menjadi gelandangan di jalanan,” tegas mama Maya.


“Tapi Mas Azam itu tidak mencintai Iza, Ma! Dia memilih untuk pergi karena dia tidak mau menjalani pernikahan ini. Ma, tolong mengertilah! Mas Azam enggak cinta sama Iza! Sekalipun mama paksa, tetap saja Mas Azam enggak akan pernah mau untuk menyentuh Iza. Lalu untuk apa Iza bertahan, Ma?” Iza mencoba untuk menahan agar air matanya tidak jatuh membasahi pipinya. Dia berusaha untuk menguatkan diri.


Sejenak mama Maya terdiam untuk beberapa saat. Wanita itu tentu saja tidak terima dengan keinginan Iza yang meminta untuk mengakhiri pernikahannya dengan Azam, terlebih saat ini mantan menantunya itu telah hamil. Akan diletakkan dimana wajahnya untuk menghadapi kenyataan ini.


“Baiklah, jika kamu memang ingin mengakhiri pernikahanmu Azam, mama kabulkan, tetapi dengan catatan kamu harus mengembalikan apa yang pernah Mama berikan untuk keluarga kamu. Jika kamu tidak bisa mengembalikan dalam waktu 2 x 24 jam, Mama akan menahan kedua orang tua kamu. Bahkan Mama juga akan melaporkan mereka dengan tuduhan penipuan. Bagaimana?” tawar mama Maya.


Tangan Iza mengepal dengan keras. Dia tidak menyangka wanita yang pernah dianggap sebagai seorang malaikat ternyata berhati iblis. Bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun, sayangnya Allah tidak meridhoi ambisinya.


Raka yang berada di samping Iza semakin geram dengan kesombongan mama Maya. Mungkin dia pikir dia saja yang mempunyai kekayaan melimpah? Karena tidak tega dengan Iza, Raka pun bersedia untuk mengganti semua yang pernah diberikan pada Iza, tanpa terkecuali.


“Tidak usah menunggu waktu 2 x 24 jam, karena detik ini juga saya yang akan mengganti atas semua yang telah Anda berikan untuk keluarga Iza,” ucap Raka memecahkan keheningan.


Bola mata Iza langsung membeli dengan lebar. “Pak Raka, apa yang Anda lakukan?”


“Aku paling tidak suka melihat sebuah penindasan, terlebih pada orang terdekatku. Sekarang berapa jumlah yang harus Iza kembalikan agar terbebas dari penindasan ini?”


Mama Maya masih mencoba untuk mengembangkan senyum di bibirnya dengan keangkuhannya. “Baiklah, karena ada orang yang terbaik hatiku untuk mengembalikan akan aku beritahu berapa jumlah yang harus dikembalikan.” Mama Maya menjeda ucapannya untuk mengambil pasokan udara sebelum menyebutkan nominalnya.


“1 M. Apakah kamu sanggup?” tantangan mama Maya dengan sinis, karena dia yakin lawannya tidak akan sanggup untuk mengeluarkan uang sebesar itu.


“1 M,” cicit Raka sambil membuang napas beratnya. “Hanya 1 M saja! Saya akan membayarnya 2 M detik ini juga!”


...###...

__ADS_1


__ADS_2