Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
S—2 : Cinta Untuk Sabian


__ADS_3


Sebagai penghuni baru di pesantren tentu saja rasanya terasa asing. Baik lingkungan ataupun kegiatan yang harus dilakukannya. Dab mau tidak mau Sabian harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan, dimana dia harus mengikuti sholat berjamaah dan ngaji bersama. Karena Sabian hanya jarang mengerjakan sholat, rasanya sangat kaku, apalagi ada bagian yang ucapan yang tidak dihafal olehnya.


Keringat dingin bercucuran, meksipun berada dalam ruangan berACC, karena saat ini Abah Abdullah meminta Sabian untuk mengaji, sementara dia belum fasih untuk mengaji. Hanya sekedar bisa membaca Alif, Baa yang bisa dimengerti oleh Sabian, sebab saat disuruh ayahnya untuk mengaji, Sabian selalu memberontak.


“Bian ... ayo!” ucap Abah Abdullah yang sudah tidak sabar menunggu Sabian untuk mengaji.


Sabian hanya bisa menelan kasar salivanya. Bahkan tangannya berusaha untuk menyeka yang telah bercucuran. Dan tak lama kemudian Sabian memilih untuk menggeleng kepala, membuat beberapa santri yang berkumpul tercengang.


“Maaf Abah ... Bian enggak bisa,” ucapnya dengan pelan.


Sontak ucapan Sabian langsung ditertawakan oleh beberapa santri yang berkumpul ditempat itu. Namun, detik kemudian langsung di-stop oleh Abah Abdullah.


“Sudah, cukup semua. Jangan menertawakan saudara kita. Bagaimanapun Sabian adalah saudara baru saja mulai belajar. Sama seperti kalian dahulu saat tiba ditempat ini. Jadi Abah minta tolong bantu Sabian belajar agar mengaji seperti kita. Paham?”

__ADS_1


Semua santri tertunduk lesu menyadari kesalahan yang telah dilakukan. Dan seharusnya sebagai senior, mereka merangkul Sabian bukan malah menertawakannya.


“Iya Abah, kami minta maaf,” ujar salah satu diantara para santri.


“Lain kali jangan diulangi, ya! Disini kita semua adalah keluarga, jadi tidak boleh ada yang merasa hebat karena telah tinggal disini lebih lama. Mengerti?”


“Mengerti Abah.”


Karena Sabian tidak bisa, maka santri lain pun menggantikannya. Hampir dua jam berada di ruangan itu, membuat mata Sabian terasa lengket. Entah mengapa lantunan ayat demi ayat membuat Sabian merasa ngantuk, padahal waktu masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Biasanya sampai pukul dua belas malam pun Sabian kuat. Akan tetapi tidak untuk malam ini.


Namun, tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu Zura dan membuatnya langsung jantungan. Matanya memejam karena menganggap jika yang menepuk pundaknya adalah Uminya.


“Zura ... kamu ngapain disini? Nanti kalau Umi sama Abah tahu, kamu bisa kena hukuman, lho.”


Zura langsung membuka matanya dan menghela napas panjangnya. Ternyata bukan Umi yang sedang mengagetkan dirinya.

__ADS_1


“Astaghfirullahaladzim ... Kak Luna! Zura pikir Umi. Kak Luna ngapain ngagetin Zura?” Bukannya menjawab, Zura malah melayangkan pertanyaannya pada Aluna, yang tak lain adalah kakaknya.


“Kamu ini gimana, sih Ra? Ditanya kok malah ganti nanya? Kakak disini ya ... karena kakak juga sedang mengecek para santri. Kan itu udah tugas kakak sebagai pengajar disini, Ra. Terus kamu ngapain ngintip-ngintip kayak gini? Jangan bilang kamu naksir sama salah satu santri yang ada di dalamnya? Awas lho, nanti kalau sampai ketahuan Umi dan Abah siap-siap aja kamu terima akibatnya!”


“Zu—Zura cuma lagi lihatin Abah kok, Kak. Udah Ah, Zura mau balik ke kamar.” Zura pun langsung beranjak meninggalkan Kakaknya. Namun, tiba-tiba langkah yang terhenti dan membalikkan badan untuk melihat kakaknya lagi. “Kak Lun, tolong jangan katakan sesuatu kepada Umi dan Abah kalau Zura datang ke asrama ini ya.”


Aluna tersenyum kecil sambil mengangguk dengan pelan. “Oke, tidak masalah. Tapi nanti setelah Kakak selesai mengecek, kamu harus cerita, siapa di antara mereka yang telah menarikmu untuk datang ketempat ini!”


Kak Luna, Zura tidak tahu bagaimana reaksi Kak Luna jika yang menarikku untuk datang ketempat ini adalah pria yang hendak dijodohkan untuk Kak Luna. Zura sendiri tidak tahu mengapa Zura ingin sekali melihat. Kak, bisa tidak jika Zura saja yang menggantikan Kak Luna? Zura merasa hati Zura telah jatuh padanya, Kak. Zura jatuh cinta pada pandangan pertama. Maafkan Zura jika Zura tidak bisa mengontrol perasaan Zura. Zura tahu jika ini adalah sebuah kesalahan tetapi, Zura bener-bener tidak bisa mengendalikannya.


Zura berjalan lesu meninggalkan asrama pria dengan degup jantung yang terus berdebar. Ada sepenggal rasa bersalah karena telah berani memiliki perasaan kepada calon yang tentukan untuk kakaknya.


Dan sepeninggal Zura, Aluna pun mencoba untuk mengintip ke dalam ruangan. Entah mengapa pandangan matanya langsung menangkap pada sosok Sabian yang tengah menyadarkan kepalanya di dinding dengan mata yang telah memejam.


“Astaghfirullahaladzim.” Aluna langsung mengalihkan pandangan matanya saat melihat wajah Sabian. Karena tidak ingin melihatnya terlalu lama, Aluna pun meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2