
Setelah selesai mengajari Bian, Iza langsung berpamitan untuk pulang. Namun, karena hari sudah malam, Raka pun memutuskan untuk mengantarnya pulang. Sebenarnya Iza sudah menolak, tetapi Raka terus memaksakan keinginan. Dia takut terjadi sesuatu pada wanita itu.
“Pak Raka, seharusnya Anda tidak perlu untuk mengantar saya pulang, karena saya bisa pulang sendiri. Seharusnya Anda beristirahat saja di rumah,” ucap Iza ditengah-tengah perjalanan.
Raka yang tengah menyetir mengulum senyum di bibir. Untuk kali pertamanya dia terhipnotis oleh seorang wanita yang baru saja dikenalnya. Padahal selama ini Raka telah menutup pintu hatinya, karena baginya tak ada sosok yang bisa menggantikan mendiang istrinya. Namun, entah mengapa saat pertama kali bertemu dengan Iza, hatinya seolah terhipnotis, terlebih sifat yang dimiliki Iza lebih keibuan dan yang paling penting dia adalah satu-satunya guru yang bisa menjinakkan anaknya.
“Ah, enggak apa-apa. Tapi ngomong-ngomong kita enggak usah terlalu formal deh, biar lebih enak ngobrolnya.”
Iza mengangguk dengan pelan. “Baiklah.”
Mobil yang dikemudikan oleh Raka pun telah sampai di depan rumah yang ditempati oleh Iza. Rumah yang jauh dari kata besar, tetapi karena Iza hanya tinggal seorang diri rumah itu sudah jauh lebih besar untuknya.
“Kamu tinggal disini sama siapa?” tanya Raka saat Iza ingin turun dari mobil.
“Aku tinggal sendiri.”
Kedua alis Raka langsung menaut, karena terkejut dengan pengakuan yang diberikan oleh Iza. “Sendirian?”
“Iya. Orang tuaku ada di luar kota dan suamiku entah pergi kemana,” jelas Oza dengan lemah.
“Suami?” Bola mata Raka langsung membulat dengan lebar. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Bahkan jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Sungguh Raka tak percaya jika Iza telah menikah. “Kamu udah nikah?”
Lagi-lagi Iza Hanya mengangguk dengan pelan untuk membenarkan ucapan Raka. “Iya, aku udah nikah, tapi sedang dalam proses perpisahan.”
Tubuh Raka yang awalnya sudah terasa lemas, tiba-tiba kini terlihat mulai bertenaga kembali saat mendengar kata perpisahan. Itu artinya Iza dengan suaminya akan bercerai.
“Alhamdulillah,” gumam Raka dengan pelan.
__ADS_1
Iza yang masih bisa mendengar ucapan Raka langsung mengernyit. “Alhamdulillah?” cicit Iza dengan heran.
Seketika Raka langsung menutup mulutnya, karena kelepasan begitu saja. “Maaf, maksudku pantas saja kamu lebih keibuan, ternyata kamu telah menikah.”
Iza tersenyum getir. Sebenarnya dia tidak ingin mengaku jika dia telah menikah, tetapi dia juga tidak ingin membohongi kenyataan yang ada jika dia memang telah menikah meskipun hanya sebentar pernikahan siri dan kini nasib pernikahan telah berada diujung tanduk, karena kini pernikahan itu telah tak berarti apa-apa lagi.
Karena tak ingin menimbulkan sebuah fitnah, Iza pun memilih untuk langsung turun dari mobil Raka. Statusnya yang tidak jelas akan dengan mudah untuk menjadi sasaran para pemburu berita.
Mata Raka masih menatap punggung yang kini mulai menjauh. Balutan hijab membuat Iza terlihat lebih bercahaya. Mungkinkah itu adalah cahaya dari surga?
“Aku tak menyangka jika ternyata dia telah menikah. Tapi sudahlah, toh dia tadi mengatakan jika saat ini dia dalam proses berpisah dengan suaminya. Sebenarnya pria mana yang menyia-nyiakan wanita sebaik itu. Ah, sudahlah ... mengapa juga aku memikirkan dia.” Raka pun langsung membuang napas kasarnya sebelum melajukan mobilnya untuk meninggalkan halaman rumah Iza.
***
Disisi lain Bian telah mondar-mandir untuk menunggu kedatangan ayahnya. Entah mengapa perasaan mendadak tidak enak ketika membayangkan apa yang akan dilakukan oleh ayahnya dan juga guru baru itu saat berduaan di dalam mobil.
Hampir lima belas menit Bian menunggu, akhirnya mobil milik ayahnya telah sampai di halaman rumahnya. Dengan cepat ayah Bian pun langsung turun dan mendekat kearah Bian. “Kamu ngapain disini, Bi? Ayah perhatian kamu kayak setrikaan yang mondar-mandir gak jelas,” cibir ayahnya.
“Akhirnya ayah pulang juga! Ayah enggak apa-apain Bu Iza kan?” tanya Bian langsung pada intinya.
Sang ayah pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Enggak. Emangnya kamu pikir ayah mau apain dia? Kamu sendiri ngapain mondar-mandir Di sini kayak setrikaan rusak aja,” cibir ayahnya. “Ayo masuk!”
Bian tidak menjawab pertanyaan ayahnya tetapi dia mengikuti langkah sang ayah untuk masuk ke dalam rumah. Helaan napas panjang terdengar begitu berat. Setidaknya Bian merasa bersyukur karena ayahnya tidak berbuat yang tidak-tidak kepada Bu Iza, mengingat sang ayah adalah seorang duda yang hampir karatan. Bayangkan saja 17 tahun tidak pernah diasah, takutnya saat ada kesempatan, sang ayah akan khilaf. Begitulah yang dilakukan oleh Bian.
“Raka sini dulu!” panggil ibunya, yang ternyata belum tidur.
Raka yang mendengar namanya dipanggil pun langsung berjalan ke arah ibunya yang saat ini sedang duduk di atas sofa. “Iya, Bum Ada apa?” tanyanya.
__ADS_1
“Ibu mau membahas sesuatu tentang guru les Bian. Menurut kamu dia bagaimana?”
Mata Raka berbinar ketika sang ibu ternyata juga tertarik untuk membahas tentang Iza. Tanpa memprotes Raka langsung duduk disampingnya ibunya.
Namun, tidak dengan Sabian yang telah memasang wajah masamnya. Dia merasa tidak suka jika ternyata ayah dan neneknya menyukai kehadiran guru baru itu.
“Nenek ngapain minta pendapat sama ayah? Tentu saja ayah akan memujinya, karena Bu Iza itu bening. Coba aja kalau Bu Iza burik, sudah bisa diaplikasikan jika ayah sama sekali tidak tertarik untuk membahasnya!” celetuk Bian dengan kesal.
“Lho ... kamu kok ngomong gitu sih, Bi? Nenek cuma mau tahu aja bagaimana pendapat ayah kamu. Kali aja guru yang bening itu bisa nyuci mata ayah kamu dan membuka pintu hatinya. Syukur-syukur ayah kamu bisa jatuh cinta dengannya. Nenek lihat guru itu baik dan sabar saat menghadapi kamu. Hatinya juga lembut. Jadi enggak ada salahnya kan kalau Nenek berharap dia adalah jodohnya ayah kamu, biar ayah kamu enggak jadi duda karatan,” jelas sang nenek panjang lebar.
“Enggak! Ayah sama Bu Iza sama sekali enggak cocok!” bantah Bian.
“Maksud kamu apa, Bian?” protes ayahnya.
“Tauk ah!” Bian pun memilih berlalu begitu saja dengan rasa kesal, karena sang nenek yang ternyata berencana untuk menjodohkan ayah' dengan Bu Iza.
“Sabian!” panggil ayahnya, tetapi Bian tak peduli.
“Tuh anak kenapa sih?” gerutu ayahnya.
“Sabar, Ka! Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh guru Bian, jika Bian kurang perhatian dari kita. Kita hanya sibuk memberikan anak itu dengan materi tanpa tahu apa yang sebenarnya dia inginkan. Ibu tahu jika dia membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu. Maka dari itu Ibu sangat berharap jika kamu bisa membuka hatimu demi Bian. Tapi kamu harus seleksi dulu seperti apa wanita itu.”
“Tapi tidak semudah itu, Bu ... ! Ibu pikir mencari wanita tulus itu mudah? Tidak Bu!”
“Iya, Ibu tahu itu. Makanya Ibu ingin meminta pendapatmu tentang guru Bian yang tadi. Ibu merasa semua yang dibutuhkan Bian ada pada wanita itu. Terbukti kan jika hanya dia satu-satunya guru yang bisa menjinakkan kenakalan Bian di sekolah.”
Raka mengangguk dengan pelan. Ternyata pemikiran ibunya sama seperti dia. Entah magnet apa yang ada pada diri Iza sehingga begitu mudah menarik perhatian satu keluarga. Mungkinkah ini adalah awal kisah perjalanan hidup Iza yang baru?
__ADS_1
...####...