Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 91


__ADS_3

Jantung Jelita berdebar tidak menentu manakah berada di mobil Adam. Dia tidak menyangka jika dosen yang selama ini dikagumi adalah kakak dari sahabatnya sendiri. Entah sebuah kebetulan atau sebuah keberuntungan untuknya bisa dekat dengan keluarga dosen pujaan hatinya. Pantas saja Ais saat itu begitu bersemangat mendukung dirinya untuk berjuang mendapatkan hati Adam, ternyata Adam adalah kakaknya.


“Lit, aku heran sama kamu, lho! Kamu itu cantik, tapi kenapa kecantikan itu kamu sembunyikan? Padahal di luar sana banyak orang yang berusaha mengubah dirinya untuk menjadi cantik, tapi kamu malah sebaliknya. Apakah kamu sedang menjalankan sebuah misi?” tanya Adam disela-sela menyetirnya.


Jelita menelan kasar salivanya. Debaran dalam dada bertambah semakin kencang manakala diajak berbicara oleh Adam.


“Emm ... enggak ada misi apa-apa, Pak. Saya cuma mau tampil beda aja!” kilah Jelita.


Adam menertawakan jawaban Jelita. Terasa lucu ketika seseorang dengan wajah cantik memilih untuk tampil beda dengan mengubah dirinya menjadi jelek dan culun. Dimana-mana wanita itu mencintai dirinya dengan cara mempercantik diri, bukan memperjeleknya. Mungkin hanya Jelita seorang yang ingin tampil beda dengan cara memperjelek diri.


“Oh iya ... ! Kamu lucu juga ya, di mana-mana itu orang ingin tampil beda dengan mempercantik diri bukan malah memperjelek. Tapi bagus sih, dengan cara seperti itu Kamu bisa menilai orang-orang sekitarmu yang tulus atau modus, karena aku yakin mereka yang modus akan mengucilkanmu karena penampilanmu.”


“Ya, Bapak benar. Dengan penampilan saya yang jelek seperti itu, saya bisa melihat ketulusan seseorang. Nyatanya tak ada satupun yang mau berteman ataupun mendekat dengan penampilan saya yang culun. Hampir semua teman satu angkatan tidak ada yang menyukai saya dengan. Hanya Ais seorang yang mau berteman dengan saya, Pak. Dan saya merasa sangat bersyukur dengan kedatangan Ais di kampus.”


“Iya, Ais memang seperti itu. Dia tidak membeda-bedakan dengan siapa dia berteman. Bahkan saat dia telah disakiti oleh pun, dia masih bisa menganggapnya teman.”


Tak terasa, mobil yang dikemudikan oleh Adam pun telah sampai di sebuah rumah sakit di mana bibi Yani di rawat. Sebelum turun dari mobil, Jelita menarik napas panjang sebelum dihembuskan. Rasanya benar-benar seperti mimpi ketika dirinya bisa berinteraksi lebih dekat dengan Adam.


Ya Allah, jika Engkau izinkan aku ingin Pak Adam menjadi imamku. Jika Engkau mengizinkan, aku siap untuk berhijrah dan belajar ilmu agama agar bisa menjadi wanita yang lebih baik dan bisa menjadi bidadari surganya Pak Adam.


***


Kini dua hari telah berlalu ...


Setelah menyelesaikan serangkaian acara di rumah Ais, kini tiba saatnya kembali pulang ke Jakarta. Namun, karena kondisi bibi Yani belum benar-benar pulih, dia pun terpaksa tetap tinggal di rumah sakit di temani oleh anak dan suaminya. Bukan ingin tega, tetapi Ais benar-benar harus kembali ke Jakarta karena dia harus kembali kuliah.


Begitu juga dengan Jelita yang merasa sangat berat saat ingin meninggalkan kampung Ais, karena dia harus berpisah dengan Adam dan entah kapan mereka akan bertemu kembali. Rasanya mimpi itu telah usai, namun setidaknya Jelita sudah bisa menghirup aroma tubuh Adam dari dekat.

__ADS_1


“Pak Adam ... saya akan kembali ke Jakarta. Entah kapan saya bisa bertemu kembali dengan Bapak. Bisakah saya meminta foto untuk sebuah kenangan-kenangan?” Jelita memberanikan diri untuk meminta selfi bersama dengan Adam. Entah keberanian darimana sehingga Jelita mempunyai nyali yang besar.


“Foto?” Kedua alis Adam saling menaut.


“Iya, foto! Pak Adam tidak keberatan, kan?”


Lagi-lagi Adam tertawa pelan. Hanya sebuah foto saja kenapa keberatan. Tentu saja tidak!


“Boleh! Tapi jangan kamu masukkan ke media sosial, ya!”


Jelita mengangguk dengan pelan. “Siap, Pak!”


.


.


“Ais, kamu gak papa?” tanya ibu mertuanya saat hendak turun dari pesawat.


Ais menggeleng dengan pelan. “Ais enggak apa-apa, Bu.”


“Enggak apa-apa gimana? Dari tadi muntah terus,” timpal Hanafi yang memapah Ais untuk turun.


“Ya udah habis ini langsung check up ke rumah sakit aja dan minta vitaminnya lagi!“ saran ibu mertuanya.


Ais yang sudah tidak berdaya hanya pasrah saat tubuhnya di papah untuk keluar. Ais tidak tahu mengapa dia bisa mabuk. Padahal saat berangkat dia baik-baik saja.


“Lebih baik kalian pulang ke rumah ibu dulu, agar ibu bisa memantau keadaan Ais!” pinta ibu Hanafi.

__ADS_1


Hanafi mengangguk dengan pelan, karena dia sendiri juga membutuhkan bantuan ibunya untuk memantau keadaan Ais yang sedang hamil.


“Lita, kamu pulang sendiri enggak apa-apa kan?” tanya Hanafi pada sahabatnya Ais.


“Oh enggak apa-apa, Pak! Kebetulan Lita juga udah hubungi sopir untuk jemput.”


“Makasih ya atas pengertiannya,” imbuh Hanafi.


Setelah melewati perjalanan yang mengalahkan kini akhirnya Ais bisa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Perutnya masih seperti di obok-obok dan saat dimuntahkan tak ada sesuatu yang keluar lagi. Disitulah rasanya sangat sakit.


“Ais bangun. Minum dulu!” Hanafi menyodorkan segelas teh hangat yang baru saja diseduhnya.


Perlahan Ais bangkit. Namun, saat hendak menyeruput tiba-tiba rasa mual itu datang kembali, membuat Ais segera menutup mulutnya dan segera bangkit dari tempat tidur untuk menuju ke kamar mandi.


Hanafi langsung mengejar Ais ke mandi. Rasanya tidak tega saat melihat istrinya kesakitan. Bahkan Hanafi membantu memijat tengkuk Ais, berharap bisa membantu untuk meredakan rasa mualnya.


“Ais ... jika bisa meminta, aku ingin apa yang kamu rasakan ini pindah ke tubuhku agar kamu tidak kesakitan seperti ini. Aku ikhlas menggantikan rasa sakitnya, karena aku benar-benar tidak tega melihatmu seperti ini, Ais,” ucap Hanafi yang masih memijat tengkuk Ais.


“Mas ... apakah seperti ini yang dirasakan oleh setiap ibu hamil? Berarti dulu ibu juga merasakan hal sama seperti. Jadi begini rasanya saat ibu mengandungku dulu. Ya Allah ... maafkan aku yang sampai detik ini belum bisa membahagiakan ibu.” Tak terasa air mata tumpah membasahi pipi, karena teringat akan perjuangan ibunya ketika sedang mengandung dirinya. Ternyata tidaklah mudah perjuangan untuk menjadi seorang ibu.


Hanafi langsung memeluk Ais, berharap dengan sebuah pelukan hati Ais bisa lebih tenang. “Maka dari itu, surga Allah letakkan di telapak kaki seorang ibu karena begitu besar perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya. Mereka mempertaruhkan nyawanya untuk buah cintanya. Semua ibi hebat, Ais. Termasuk kamu. Jadi kamu harus kuat. Kata dokter ini hanya untuk trimester pertama saja. Setelah itu rasa mual akan hilang dengan sendirinya.”


“Tapi aku lelah, Mas! Hampir setiap hari aku harus mual dan muntah. Sampai kapan akan berakhir, Mas?”


“Astaghfirullahaladzim, Ais! Kamu enggak boleh berbicara seperti itu. Kamu harus kuat demi anak kita! Bukan kamu sendiri juga sudah menginginkan untuk memiliki baby? Kamu kuat Ais!”


Ais semakin terisak di dalam pelukan Hanafi. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertamanya hamil, jadi belum bisa mengontrol emosialnya. Terlebih saat ini moodnya sedang naik turun tak menentu, sehingga hatinya juga ikut sensitif.

__ADS_1


...###...


__ADS_2