
Iza merasa sangat tidak enak pada Sabian yang saat ini benar-benar sedang kecewa padanya. Bukan maksud Iza tak ingin berterus terang pada Sabian, hanya saja saat Iza ingin memberitahu Sabian, moodnya sedang tidak baik sehingga Iza mengurungkan niatnya untuk memberitahu Sabian. Iza juga tidak menyangka jika malam ini akan ada pembahasan tentang dirinya yang sudah resmi untuk menjadi ibu sambung untuk Sabian.
“Bi ... tolong berpikirlah secara dewasa! Ayah kamu juga butuh pendamping hidup, Bi! Bukankah manusia diciptakan saling berpasangan? Tidak mungkin juga kan jika ayah kamu tetap akan menjadi duda abadi. Jikapun selama ini dia masih betah untuk menduda, itu demi kamu!” ujar neneknya untuk memecahkan suasana hening.
Sementara itu Iza memilih diam tanpa kata. Dia sama sekali tidak berani memberikan menyela, karena dia benar-benar merasa sangat bersalah pada Sabian.
“Iya, Bian tahu itu, Nek! Bian tidak pernah melarang Ayah untuk menikah dengan wanita manapun, tapi Bian tidak akan pernah setuju jika Ayah menikah dengan Bu Iza!” Sabian masih bersikeras dengan penolakannya.
“Oke, ayah akan mengalah, tapi sebutkan dengan jelas di depan nenek kamu, mengapa kamu menentang dengan keras jika ayah menikah dengan Bu Iza! Jelaskan, Bi!” perintah ayahnya.
Sudah pasti Raka tahu alasan Sabian mementang keras keputusan menikahi Iza, karena Raka pernah mendengar Sabian mengungkapkan isi hatinya pada Iza, namun sayangnya di tolak oleh Iza.
Sadar karena tidak bisa memberikan alasan yang sesungguhnya, Sabian hanya terdiam, tetapi ekor matanya masih menatap Iza dengan tatapan tajam. Dalam hati saat ini Sabian sedang mencaci maki Iza.
“Bi ... katakan pada Nenek apa alasannya mengapa kamu menentang dengan keras jik Bu Iza menjadi ibu sambung kamu? Padahal Bu Iza sangat baik dan peduli denganmu. Dia mampu mengarahkan kamu untuk menjadi lebih baik. Nenek yakin jika dia akan menyayangi kamu setulus hatinya. Nenek sudah melihat dari pancaran mata Bu Iza, jika dia wanita penyayang. Lalu apa yang kamu permasalahan, Bi?”
Bagaimana mungkin Sabian bisa menjelaskan kepada neneknya jika sebenarnya wanita yang akan dinikahi oleh ayahnya adalah wanita yang pernah dia ajak untuk menikah, tetapi selalu menolaknya.
Sabian sendiri sampai saat ini tidak tahu apakah perasaannya untuk Iza benar-benar rasa cinta atau hanya rasa kenyamanan, karena apa yang diinginkan oleh Sabian ada semua pada diri Iza.
“Bi ... kamu dengarkan?”
“Iya, Bian dengar, Nek!”
“Terus apa dong alasan kamu tidak mengizinkan ayah kamu Menikahi Bu Iza?”
Sabian langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Sudahlah, Nek! Mungkin tadi hanya perasaan Bian yang merasa sangat shock. Sabian minta maaf karena telah membuat kekacauan. Seharusnya Sabian tidak melakukan pemberontakan seperti ini sehingga membuat kalian semua merasa malu pada Abah Abdullah,” ujar Sabian sambil melirik Bu Iza.
__ADS_1
Raka yang mendengar kata maaf dari bibir Sabian langsung menautkan kedua alisnya, karena selama ini kata itu tidak pernah keluar dari bibir Sabian.
“Ya udah, Bian mau masuk ke asmara lagi. Bian masih ada kelas bersama dengan ustad Yusuf.” Tak menunggu lama Sabian segera berlalu meninggalkan tiga orang yang ada di hadapannya.
“Bi, tapi nenek belum selesai berbicara!” cegah neneknya.
“Next, lain kali aja kalau mau membahas masalah ayah dan Bu Iza, karena saat ini Bian sedang tidak ingin membahasnya.”
“Sebenarnya ada apa dengan anak itu? Enggak biasanya dia mau mengucap kata maaf. Apakah sekarang dia benar-benar telah berubah. Syukurlah kalau memang ada perubahan,” gumam Neneknya.
Setelah kepergian Sabian, keluarga Abah pun satu persatu muncul kembali dan mulai melanjutkan perbincangan mereka. Aluna yang sejak tadi sudah mempersiapkan diri untuk menyapa Iza, rasanya begitu canggung, karena dulu mereka tidaklah terlalu dekat.
“Oh iya, ngomong-ngomong masalah perjodohan, kira-kira calonnya yang mana ya? Semua Masha Allah cantik semua?” tanya Iza yang sama sekali belum tahu wanita yang telah dijodohkan pada Sabian. Iza menganggap jika kedua putri Abah Abdullah sama-sama cantik. Hanya saja yang satu sudah terlihat matang dan yang satu belum matang. Masih sebelas dua belas dengan Bian.
“Oh iya, perkenalkan ini anak sulung saya yang telah dijodohkan dengan Sabian. Nama Aluna Prameswari dan ini adiknya namanya Azura Prameswari” jelas Umi.
Mata Iza pun langsung menatap plakat pada Aluna. Rasanya tak asing dengan nama yang baru disebutkan. Namun, Iza sama sekali tidak apa-apa tentang mana itu.
Ah ... sudahlah! Mungkin ini hanya perasaanku saja.
“Apakah kamu masih mengingatku?” tanya Aluna dengan tiba-tiba. Sontak semua orang langsung menatap ke arah Aluna, termasuk juga Abah dan Uminya. Mereka menganggap jika Aluna tidak sopan pada calon ibu mertuanya kelak.
“Aluna .... ” tegur Uminya dengan pelan.
“Apakah sebelumnya kita pernah bertemu, maaf, aku sama sekali tidak mengingat. Tapi aku memang merasa tidak asing denganmu” balas Iza yang kian penasaran dengan Aluna.
“Dulu kita pernah satu kelas saat masih berada di bangku SMA. Kamu teman dekatnya Hanafi kan?”
Seketika bola mata Iza langsung membulat karena benar-benar merasa sangat terkejut. Ternyata wanita yang hendak dijodohkan dengan Sabian adalah teman sesama dirinya masih berada di bangku SMA. Itu artinya jodoh Sabian seumuran dengannya? Iza langsung menggeleng sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
“Astaghfirullahaladzim, berarti kamu Aluna teman aku semasa SMA dulu? Maaf, aku benar-benar tidak bisa mengenalimu karena sekarang kamu lebih cantik.”
“Iza, benarkah jika Aluna temanmu semasa SMA? Itu artinya kamu dengannya seumuran dong?” tanya Raka tak percaya.
Kepala Iza mengangguk dengan pelan. “Iya, Pak. Aku dan Aluna memang teman satu kelas.”
Semua orang tercengang akan kenyataan jika ternyata antara calon istri dan menantu seumuran. Seharusnya Zura lah yang di jodohkan dengan Sabian, bukan Aluna yang selisih usianya hampir 10 tahun.
Sebuah kenyataan yang tidak bisa diterima oleh Raka yang baru mengetahui jika usia Aluna jauh lebih tua. Bahkan seusia dengan Iza, yang sebentar lagi akan menjadi ibu sambungnya Sabian.
“Bu, bisakah kita bicara?” bisik Raka pelan pada ibunya.
Kepala ibunya pun mengangguk dengan pelan. “Ibu tahu apa yang ingin kamu bicarakan. Tapi nanti setelah acara ini selesai!” balas ibunya.
***
Didalam kamar Aluna, Zura mondar-mandir tak karuan, karena menyuruh sang kakak untuk berterus terang kepada Abahnya jika dia merasa sangat keberatan dengan perjodohan itu. Terlebih saat calon ibu mertuanya nanti adalah teman satu kelasnya.
“Baiklah, jika Kak Aluna tidak bisa berbicara kepada Abah, Zura yang akan berbicara padanya!” tegas Zura dengan helaan napas panjangnya.
“Apakah kamu bisa mengubah keputusan Abah? Tidak, Ra!”
“Tidak ada yang tidak mungkin jika belum dicoba, Kak! Asalkan Kak Luna memberikan izin kepada Zura, insya Allah di surah akan membantu Kak Luna keluar dari masalah ini.”
Sebenarnya terasa berat untuk Aluna memberontak karena dia tidak ingin menjadi anak durhaka yang tidak patut dan taat pada orang tuanya. Namun, dia sendiri juga sangat berat dengan keputusan Abahnya yang tiba-tiba menjodohkan dirinya dengan anak SMA.
“Baiklah, kakak serahkan semuanya sama kamu, Ra. Semoga kamu bisa menyanyikan Abah, tapi sebelumnya kakak ingin mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Kakak enggak tahu jika tidak punya kamu, Ra.”
__ADS_1
Sabian Versi Othor