Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 33


__ADS_3

Ternyata hujan tak kunjung mereda, membuat dua insan merasa semakin canggung saat berada didalam satu ruangan Meskipun tidak melakukan apa-apa, tentu saja membuat dada Keduanya terus bergerumuh dengan kuat.


Cahaya kilatan dari langit membuat Hanafi terus beristighfar. Begitu juga dengan Ais. Namun, bedanya Ais hanya sekilas saja tidak seperti Hanafi yang terus menerus berkomat-kamit.


Bisa dilihat dengan jelas jika saat ini Hanafi memang sedang dalam ketakutan, tetapi mencoba untuk disembunyikan agar tak diketahui oleh Ais.


"Mas Hanaf takut?" tanya Ais yang merasa penasaran.


"Tidak. Aku tidak takut," kilahnya.


"Bohong! Mas Hanaf pasti sedang takut kan?"


Ais mencoba memperhatikan Hanafi dan jika dilihat dengan teliti, saat ini pakaian Hanafi sedikit basah. Mungkin karena nekat menerjang hujan tadi.


Tak ada balasan dari Hanafi, menguatkan Ais jika saat ini pria itu memang sedang ketakutan.


"Mas Hanaf gak usah takut, sebentar lagi hujan juga akan mereda, kok. Ngomong-ngomong di ruangan ini ada apakah ada perkakas untuk memasak enggak ya, Mas?" tanya Ais, yang ingin memanaskan air untuk minum.


"Enggak tau, coba kamu lihat aja kebelakang."


Ais pun mengangguk dengan pelan dan mulai berjalan ke belakang. Namun, baru satu langkah, Hanafi langsung menghentikan langkahnya.


"Ais, tunggu!"


"Iya, Mas ada ada?" Ais menoleh kebelakang.


"Aku ikut," ujarnya.


Keduanya pun berjalan pelan menuju dapur. Namun, lagi-lagi keduanya harus diterkejutkan dengan lampu yang tiba-tiba padam.


"Astaghfirullahaladzim," pekik Ais yang merasa sangat terkejut dengan suasana yang tiba-tiba berubah menjadi gelap. Tak berselang lam cahaya kilatan seolah membelah langit yang diikuti dengan suara petir yang seolah saling bersahutan di langit.

__ADS_1


Duaarrrrr ....


"Astaghfirullahaladzim." Kini giliran Hanafi yang merasa terkejut serta merasa sengat ketakutan. Refleks, Hanafi pun langsung mendekat dan menggenggam erat tangan Ais.


Menyadari tangannya digenggam oleh Hanafi, Ais jantung Ais semakin bertalu-talu tak karuan. Terasa lebih jelas jika Hanafi memang sangat ketakutan.


"Ais, dimana ponselmu? Punyaku ketinggalan di mobil," ujar Hanafi dengan suara bergetar.


"Ponselku ada di tas, Mas. Dan tasnya juga ada di mobil."


"Terus kita gimana, Ais. Ini terlalu gelap."


"Mas Hanaf takut gelap?"


Hanafi menelan kasar salivanya saat menyadari ucapan Ais sangat tepat. Hanafi mungkin terlihat sebagai pria yang sempurna di mata kaum hawa, tetapi tanpa mereka ketahui jika Hanafi adalah manusia biasa yang memiliki kekurangan dalam hidupnya, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah semata.


"Ya udah kalau mas Hanaf, takut, kita kembali ke depan aja. Ayo!" Ais berjalan pelan sambil mera-ba jalan agar tidak terjatuh.


"Ais, tetaplah disini, jangan pergi kemana-mana," lirih Hanafi dengan pelan.


"Tapi Mas .... "


"Ais ... tolong untuk kali ini aja," pinta Hanafi dengan suara melemah.


Ais pun tak bisa berkata apa-apa, karena dia tahu jika saat ini Hanafi memeng benar-benar dalam ketakutan.


"Iya Mas. Ais enggak kemana-mana."


Cukup lama keduanya berada dalam keadaan gelap gulita. Bahkan saat Ais ingin keluar untuk meminta bantuan, Hanafi melarangnya.


"Ais, disini saja!"

__ADS_1


"Tapi Mas, aku hanya ingin meminta lilin ke penghuni sebelah. Kita gak mungkin gelap-gelapan seperti ini, mas!"


"Biar aja seperti ini. Tolong kamu jangan pergi!"


Karena tangan Hanafi kian erat tangannya, Ais pun tak bisa berbuat apa-apa. Dia pasrah dan memilih duduk di sebelah Hanafi, meskipun detak jantungnya sudah tak karuan lagi.


"Mas," panggil Ais yang merasa kian risih dengan genggaman tangan Hanafi.


"Ais, bisakah untuk sebentar saja. Baiklah aku mengaku jika saat ini aku sedang takut. Selain takut hujan, aku juga takut gelap. Tolong jangan pergi," pinta Hanafi dengan mengiba.


Entah sudah berapa lama hujan tak kunjung mereda, bahkan lampu pun juga tak kunjung hidup. Keduanya pun hanya bisa pasrah dalam kegelapan tanpa memikirkan apapun. Semakin lama udara pun juga semakin dingin.


"Mas kayaknya kita enggak bisa seperti ini deh. Kita harus cari cara agar mendapatkan penerangan. Kita juga harus sholat, mas!" ucap Ais yang mencoba membujuk Hanafi agar mau untuk ditinggal sebentar.


"Aku tau, tapi aku bisa mati jika kamu pergi. Tolong Ais, tetaplah disini!"


Ya Allah, tampangnya saja yang dewasa dan bijaksana, tapi sama hujan dan gelap aja takutnya hampir sakaratul maut


Karena lelah dengan keadaan yang tak kunjung membaik, keduanya pun tertidur dengan begitu saja. Hanafi yang merasa ketakutan masih memegang erat tangan Ais. Bahkan tanpa disadari pundak Ais juga menempel di bahu Hanafi.


Rasanya baru sebentar keduanya terlelap, dan saat melihat pencahayaan terang keduanya pun langsung membuka mata. Betapa terkejutnya saat keduanya bis melihat beberapa orang telah menatap dengan tata tajam.


"Mas, apakah ini mimpi. Tidak mungkin itu mas Azam?" bisik Ais pada Hanafi.


"Sepertinya memang bukan mimpi, Ais. Selain melihat Adam, aku juga melihat bapak dan ibu," ujar Hanafi dengan pelan.


"Sama, Mas. Aku juga melihat mereka."


"Akhirnya kalian berdua bangun juga. Katakan apa yang telah kalian lakukan disini satu malaman?" tanya Adam dengan tatapan tajamnya.


"Apa? Satu malaman?" cicit Hanafi dan juga Ais secara bersamaan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2