
Selama satu Minggu berturut-turut Bian tak diizinkan keluar rumah. Hari-harinya habjs digunakan untuk belajar bersama dengan Iza di rumahnya. Meskipun kesal, Bian tidak bisa melawan, karena gurunya itu telah diberikan kekuasaan dari ayahnya untuk menghukum Bian jika dia tidak tidak bisa diatur.
“Bian, jika kamu tidak belajar dengan sungguh-sungguh, Ibu tidak akan memberikan nilai di rapor kamu kelak, karena Ibu tahu jika selama ini kamu selalu mengharapkan jawaban dari teman kamu. Sebenarnya Ibu bisa bantu kamu untuk menemukan jawabannya, tapi dengan satu syarat, bagaimana?” tawar Iza, saat Bian enggan untuk membuka buku dan malah asik dengan gamenya.
“Apa syaratnya?” tanya Bian dengan ketus.
Iza hanya bisa menarik napas panjang ketika kesabarannya harus diuji setiap hari oleh Bian. Menjinakkan seorang Sabian hampir seimbang dengan menjinakkan sebuah bom. Butuh hati-hati dengan penuh kesabaran dan juga jangan sampai salah tarik, karena bisa meledak begitu saja.
“Syaratnya gampang, kamu buka buku dan kita belajar bersama. Siapa tahu apa yang kita pelajari hari ini akan muncul di lembar ujian besok,” ujar Iza dengan seuntai senyum merekah di bibirnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban yang dianggap tidak bermutu, Bian malah mengacuhkan Iza dan memilih fokus pada game yang sedang dia mainkan.
“Bian ... Ibu minta tolong kerjasamanya. Tolong jangan persulit pekerjaan Ibu. Bukankah sebelumnya kita sudah pernah membuat sebuah kesepakatan? Jika kelak kamu mendapatkan nilai yang sempurna, kamu boleh meminta apapun dari Ibu, termasuk jika kamu menginginkan Ibu untuk pergi menjauh darimu, Ibu akan lakukan,” jelas Iza.
Sejenak Bian terdiam untuk mengingat janji yang pernah dibuatnya bersama dengan Iza. Dengan helaan napas panjang Bian pun langsung menyambar buku yang ada di atas meja. “Oke, kita belajar sekarang. Puas!”
Sungguh sebuah keterpaksaan untuk Sabian, tetapi demi satu tujuan dia harus bisa membuktikan bahwa dirinya bisa menyingkirkan guru itu dari sekolah maupun dari rumahnya, karena saat dia bisa mendapatkan nilai baik maka satu permintaannya adalah menyuruh Iza untuk pergi sejauh mungkin dari hidupnya. Mungkin dengan begitu hidup Bian akan kembali tenang seperti sedia kala.
“Oh ya Bian, sebenarnya kamu itu pintar, lho! Tapi sayangnya kamu itu pemalas. Coba aja kamu itu rajin belajar, Ibu yakin kamu bisa menjadi bintang kelas,” ucap Iza dalam keheningan.
__ADS_1
“Sok tahu,” ketus Bian.
“Bukan sok tahu, tapi Ibu emang tahu. Nenek kamu udah cerita semua sama ibu. Ibu jadi was-was jika kamu benar-benar memenangkan challenge ini. Tapi sudahlah, ini sudah menjadi kesepakatan kita, ibu akan terima jika Ibu kalah.”
“Nah itu tahu! Pakai nantangin segela!”
Siapa yang menyangka jika interaksi antara Iza dengan Sabian diam-diam diperhatikan oleh sang nenek. Senyum di bibir pun melengkung lebar saat Bian sama sekali tak melawan apa yang diperintahkan oleh gurunya. Bahkan saat ini anak itu benar-benar belajar.
“Ya Allah, apakah wanita itu adalah sosok malaikat yang Engkau kirimkan untuk merangkai lagi keluarga kecil yang telah lama mati? Jika ini adalah ketetapan dari-Mu, sungguh aku mengikhlaskan jika wanita itu menjadi pengganti mendiang ibunya Bian. Aku yakin semua ini terjadi atas kehendak-Mu.” Tak terasa air mata pun membasahi pipi neneknya Bian. Kini sebuah harapan yang sudah lama mati tiba-tiba tumbuh kembali. Mungkinkah ini jawaban dari sepenggal doa yang pernah dipanjatkan? Hanya Allah yang tahu.
__ADS_1