Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 42


__ADS_3

Karena rasa sakit telah dianggap tidak bisa memberikan keturunan, Ais bertekad untuk melakukan program kehamilan. Tanpa rasa malu Ais meminta pada Hanaf untuk disentuh karena untuk beberapa hari kedepan adalah masa suburnya. Ais berharap jika Allah akan mengabulkan apa yang dia inginkan agar tak terus-terusan dihina oleh mamanya Azam.


Hanafi yang mendengar permintaan Ais merasa sangat terkejut. Bahkan dia terpaku untuk beberapa saat untuk menetralkan detak jantungnya. Sungguh Hanafi dibuat tak percaya dengan keinginan Anda Ais. Namun, sebagai pasangan yang sah, Hanafi tidak menolak permintaan Ais yang malam ini ingin disentuh.


“Ais, kamu yakin?” Hanafi meyakinkan lagi.


“Insyaallah, Mas. Aku berharap jika Allah bisa memberikan amanah secepatnya pada kita agar mas Azam tidak terus-menerus menggangguku,” ucap Ais dengan pelan.


“Kamu tidak terpaksakan, Ais?”


Ais menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Insyaallah aku sudah siap lahir dan batin, Mas.” Entah mendapatkan keberanian darimana seorang Ais meminta lebih dahulu pada pria yang berstatus sebagai suaminya. Padahal Ais sendiri adalah sosok pemalu. Namun, siapa yang menyangka jika dia sangat berani meminta sesuatu yang memang sudah sewajarnya dilakukan oleh pasangan suami-istri.


Sebelum menyentuh Ais, Hanafi menengadahkan tangannya untuk berdoa kepada Allah, sebagaimana nabi Zakaria meminta keturunan.


“Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” ( QS Ali-Imran ayat 38. )


Karena cahaya kamar tidak terlalu terang, Hanafi tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah Ais. Dan sebelum Hanafi menyentuh Ais lagi-lagi dia membacakan sebuah doa diatas ubun-ubun Ais.

__ADS_1


Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.


( Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami )


Tidak sampai disitu saja, Hanafi juga membacakan doa lagi agar Allah mengabulkan apa yang Ais inginkan.


Allahummaj'alnuthfatna dzurriyyatan thayyibah


( Ya Allah jadikanlah nutfah (sp*erma) kami ini menjadi keturunan yang baik )


Berbagai rangkaian dilakukan Hanafi sebelum melakukan penyatuannya dengan Ais. Meskipun ini adalah kali pertamanya Hanafi melakukan sebuah penyatuan, tetapi Hanafi tau bagaimana tata cara sebelum masuk pada intinya.


...***...


Adzan telah berkumandang, tetapi dua insan masih terlelap dalam tidurnya hingga sebuah ketukan pintu membuat pasangan muda itu terbangun.


tok .. tok .. tok

__ADS_1


“Hanaf, Ais! Kalian sudah bangun atau belum? Ini sudah subuh! Ais, bangun, Nak!” seru ibunya dari luar.


Samar-samar suara Ibu Ais bisa didengar oleh Hanafi. Dengan cepat, pria itu langsung mengerjap dengan pelan. “Iya, Bu. Kami udah bangun.” Hanafi mencoba untuk menyahuti panggilan dari luar.


“Oh, syukurlah kalau sudah bangun. Ibu takut kalian kesiangan dan meninggalkan shalat subuh. Ya udah Ibu sama Bapak sholat duluan ya.”


“Iya, Bu.”


Ais merasa terganggu dengan suara Hanafi dan langsung membuka matanya dengan pelan. Rasanya enggan untuk bangkit karena tubuhnya yang terasa lemas. “Ada apa, Mas?” tanyanya pada Hanafi.


“Ibu bangunin kita. Ibu takut kalau kita terlambat bangun dan meninggalkan shalat subuh,” jawab Hanafi yang kemudian menjatuhkan lagi kepalanya di atas bantal.


Saat matanya menoleh ke samping dia melihat Ais yang belum sempat mengenakan pakaiannya. Tubuhnya hanya dibalut dengan sebuah selimut. Bibirnya menyunging saat mengingat apa yang terjadi tadi malam. Hilang sudah perjakanya di tangan Ais.


“Ais, bangun! Kita harus mandi dan sholat!” ujar Hanafi dengan mengusap kening Ais.


.

__ADS_1


.


__ADS_2