Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 55


__ADS_3

Karena sudah terlanjur datang, akhirnya Ais dan Hanafi memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya. Hanafi sangat menyesali kecerobohannya yang buru-buru mematikan teleponnya sebelum sang bapak selesai berbicara.


“Makanya lain kali tuh dengerin sampai tuntas biar enggak salah paham,” ujar Ais setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar.


“Iya ... iya. Tadi aku tuh bener-bener sangat khawatir pas bapak bilang ibu sakit. Aku pikir ibu emang beneran sakit.”


Malam yang sunyi pun berlalu begitu saja. Rasanya baru sebentar memejamkan mata, tetapi suara adzan telah berkumandang. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi mampu untuk membangunkan mata yang sedang terlelap. Ibarat sebuah alarm yang telah melekat di hati, sekecil apapun suaranya mampu terdengar sekalipun berada dibawah alam bawah sadarnya.


Seperti biasa, sepasang suami istri itu akan melakukan sholat subuh secara berjamaah. Karena bagi Hanafi sebagai seorang imam dalam keluarga, dia harus bisa menuntun istrinya.


“Ais, nanti kamu pulang jam berapa?” tanya Hanafi usia sholat.


“Kayaknya sekitar jam tiga, Mas. Kenapa? Mau jemput?”


“Enggak, Ais. Hari ini aku ada rapat ke kantor dinas. Kemungkinan enggak bisa menjemput kamu. Kamu enggak apa-apa kan kalau naik taksi. Kalau enggak berani di rumah sendiri, kamu pulang aja disini.“


Ais hanya mengangguk dengan pelan. Baginya tidak dijemput bukanlah sebuah masalah yang besar, karena dia sudah terbiasa pulang tanpa jemputan. Apalagi hanya di rumah seorang diri, Ais sudah sangat terbiasa dengan kesendirian.


“Iya, enggak apa-apa, Mas. Mas Hanaf enggak usah khawatir. Ais udah terbiasa pulang sendiri dan tinggal di rumah sendiri.”


“Yah udah, kamu masak ya, karena hari ini aku mau bekal.”


“Tumben bawa bekal? Emangnya enggak malu?”


“Malu? Untuk apa malu. Dulu aku sering kok bawa bekal. Cuma karena lama-lama ibu malas untuk menyiapkan. Jadi berhubung sekarang sudah ada kamu, jadi tugas kamu tiap pagi siapkan bekal untukku. Mau kan?”


Dengan senang hati Ais sangat bersedia untuk menyiapkan bekal untuk suaminya.


...***...


Disisi lain Iza hanya bisa meratapi nasib yang sedang menimpanya. Iza baru saja menemukan selembar kertas yang ditulis oleh Azam jika kini pria yang menikahinya selama enam bulan pergi keluar negeri untuk melanjutkan kuliahnya lagi.

__ADS_1


Tanpa berpamitan secara langsung, tentu saja membuat hati Iza terasa sangat sakit, sekalipun Iza memang menginginkan sebuah perpisahan.


Baginya tinggal di ibukota tanpa siapa-siapa rasanya ingin menyerah. Namun, dia langsung teringat kepada kedua orang tuanya. Jika Iza menyerah, lalu bagaimana dengan orang tuanya. Pasti mereka akan merasa sangat bersalah. Iza pun langsung menghapus jejak air mata yang telah membasahi pipinya.


“Apakah aku harus meminta bantuan kepada Hanafi? Tapi bagaimana jika dia tidak mau membantuku karena saat ini dia telah memiliki seorang istri? Lalu jika bukan dia, siapa lagi yang ingin ku mintai pertolongan. Hanya dia satu-satunya orang yang aku kenal.”


Iza segera mengambil ponselnya untuk memeriksa apakah dia masih menerima nomor ponsel Hanafi atau tidak. Namun, Iza pun mendadak menjadi ragu apakah nomor Hanafi masih aktif atau tidak, secara sudah lama mereka berdua lepas kontak.


“Tidak. Aku tidak boleh menghungi Hanafi. Aku tidak mau dianggap sebagai pihak ketiga untuk hubungannya dengan istrinya, terlebih istri Hanafi adalah mantan istrinya mas Azam. Aku tidak mau dianggap sebagai perusak rumah tangga orang.” Iza pun meletakkan ponselnya diatas meja untuk mengurungkan niatnya menghubungi Hanafi.


Iza pun memutuskan untuk bangkit tanpa meminta bantuan dari orang lain. Mungkin dari sini dia harus lebih ikhlas untuk menghadapi takdir yang sedang mengujinya.


“Mas Azam ... dimanapun kamu berada semoga kamu baik-baik saja. Tapi mengapa kamu pergi sebelum menyelesaikan hubungan kita. Dengan seperti ini sama saja kamu menggantungku, Mas,” lirih Iza sambil membuang napas kasarnya.


...***...


“Ais ... ” panggil Jelita saat melihat Ais baru saja turun dari mobil.


“Ais ... cepetan! Aku punya kabar bagus sekaligus kabar buruk.”


Ais pun langsung mempercepat langkahnya untuk menghampiri Jelita yang ingin menyampaikan sebuah kabar. Sudah bisa dipastikan jika kabar yang akan disampaikan oleh Jelita adalah kabar yang paling penting, karena Jelita bukanlah tipe orang yang suka bergosip.


“Kabar apa Lita?”


Jelita langsung menarik tangan Ais untuk menjauh agar tak ada seorang pun yang bisa mendengar perbincangan mereka.


Ais hanya bisa pasrah ketika tangannya ditarik. Dia juga merasa tidak sabar untuk mendengar kabar baik dan buruk itu.


“Ais ... kamu harus segera tahu kabar ini. Kamu tahukan dosen baru itu. Dia mengundurkan diri,” ujar Jelita dengan senyum melebar di pipinya. Jelas saja Jelita merasa sangat senang karena satu-satunya dosen yang sering memberinya tugas telah out. Itu artinya hari-harinya tidak akan pernah dibebani oleh tugas dan tugas lagi.


“Oh ... cuma berita itu. Aku pikir ada berita paling heboh.”

__ADS_1


Jelita langsung menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran dengan sikap Ais yang biasa saja dan sama sekali tidak terkejut dengan apa yang dia sampaikan. Seharusnya Ais juga merasa sangat senang karena mantan suaminya itu keluar dari kampus dan tidak akan mengganggu dia lagi.


“Lho, kamu kok biasa aja? Enggak ada rasa kaget sama sekali. Apakah kamu emang udah tahu kalau Pak Azam akan keluar dari kampus?”


“Iya, aku tahu itu. Karena saat itu dia pernah mengatakan kepadaku jika dia ingin melanjutkan studinya lagi di luar negeri. Aku pikir tidak secepat ini. Tapi sudahlah, aku tidak mau membahas masalah mantan. Biarkan dia pergi dengan pilihannya sendiri.”


“Iya sih. Lagian siapa suruh lebih mentingin warisan daripada mempertahankanmu. Kan nyesel jadinya kan?”


“Terus satu lagi kabar apa, Lit?”


Jelita langsung memasang wajah murung. Rasanya tidak terima saat dosen pujaan hatinya, tiba-tiba dipindahkan tugasnya keluar kota.


“Lit, kamu kenapa? Kok malah diam aja? Kabar buruknya apa?” tanya Ais, saat tiba-tiba terdiam.


“Ais ... kabar ini benar-benar seperti kabar duka untukku. Dia benar-benar pergi sebelum dia mengetahui perasaanku. Aku sendiri tidak tahu apakah dia akan kembali lagi atau tidak. Tapi aku sangat berharap jika dia kembali, agar aku nisa mengungkapkan isi hatiku padanya,” ujar Jelita dengan wajah sedihnya.


“Memangnya dia pergi kemana? Keluar negeri juga sama seperti dosen baru itu?”


“Enggak, Ais. Dia cuma pergi keluar kota. Tapi sampai sekarang dia tuh enggak tau kalau aku mempunyai perasaan padanya. Secara dia seorang dosen dan aku mahasiswa. Aku sendiri juga enggak tau apakah dia sudah ada yang punya atau belum,” jelas Jelita lagi.


Sejenak Ais terdiam untuk mencerna apa yang diucapkan oleh Jelita, karena satu-satunya dosen yang dipindahkan hanyalah Adam, kakaknya. Apakah mungkin jika diam-diam Jelita menyukai kakaknya?


“Lit, apakah dosen yang kamu maksud itu adalah dosen Adam?”


Jelita langsung membulatkan matanya dengan sangat lebar. Dia benar-benar sangat terkejut dengan tebakan Ais yang tidak salah lagi. “Ais ... kamu kok bisa tahu? Kan aku belum bilang siapa nama dosennya.”


“Jadi benar kamu suka sama dosen Adam?”


Jelita mengangguk dengan pelan. Selama ini Jelita terpana akan pesona dosen Adam yang meneduhkan hatinya. Bahkan Jelita telah menyimpan dalam-dalam nama Adam di dalam lubuk hatinya, berharap suatu saat bisa dia utarakan. Namun, sayangnya belum sempat Jelita mengutarakan perasaannya Adam keburu pindah. Pupuslah harapan Jelita untuk menyatakan perasaannya pada Adam.


...###...

__ADS_1


__ADS_2