
Sabian hanya bisa pasrah ketika semua perlengkapannya telah dibawa masuk ke asrama pria. Rasanya seperti mimpi buruk ketika sang ayah telah menyerahkan Sabian sepenuhnya pada abah Abdullah.
“Ayah, apakah bisa bicara sebentar saja?” tanya Sabian saat hendak diantar ke asmara pria.
“Tentang apa itu? Jika hanya tentang pemberontakan, maag, ayah tidak mempu waktu,” jawab ayahnya dengan pelan.
Belum saja diungkapkan, sudah langsung dijawab. “Ayah, please! Mengertilah! Bian enggak mau tinggal disini, Yah. Bian janji enggak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Bian janji akan menjadi anak yang patuh dan enggak akan mengecewakan ayah, tapi tolong jangan biarkan Bian tinggal disini. Ayah ... Bian mohon .... ”
Raka hanya bisa menghela napas panjangnya. Entah sudah janji yang keberapa, tetapi tak satupun yang bisa ditepati oleh Sabian. Lagi dan lagi Sabian akan terus mengulang kesalahan yang sama hingga membuatnya merasa gagal untuk menjadi seorang ayah.
“Bian ... untuk kali ini ayah minta maaf. Ayah menyerah. Andaikan saja hari ini kamu tidak bertemu dengan Azura, kamu mau kemana? Di tahanan tiga hari bukannya introspeksi diri, malah buat kekacauan lagi. Apakah kamu tahu, setelah mendapat kabar kamu kabur, ayah langsung membatalkan meeting yang sangat penting. Bian ... kamu sudah dewasa, seharusnya kamu sudah bisa menyaring mana yang baik untukmu dan mana yang buruk. Ayah sudah lelah dengan semua janji palsumu, jadi maaf, untuk kali ini ayah menyerah.”
Tubuh Sabian membeku tanpa kata. Dia menyadari kesalahan yang dilakukannya, akan tetapi bibirnya terasa kelu untuk mengucap kata maaf.
“Bian ... ayah melakukan semua ini demi kamu, demi kebaikan kamu dimasa mendatang. Ayah menempatkan kamu disini, bukan berati ayah tidak menyayangimu. Justru Ayah sangat menyayangimu sehingga Ayah memilih menitipkan kamu disini. Tolong berjanji pada ayah jika kamu tidak akan membuat masalah ditempat ini. Dan buktikan jika kamu bisa berubah!”
__ADS_1
Sabian tertunduk lesu. Percuma saja dia memohon belas kasihan pada ayahnya, jika tekad ayahnya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.
“Bian ... kamu adalah satu-satunya harapan ayah, karena kelak kamulah yang akan menjadi penerus ayah, jadi tolong untuk kali ini jangan mengecewakan ayah!”
Sebenarnya Raka tidak tega untuk melepaskan sabyan secepat ini. Namun, karena dia telah leleh dengan segala tingkah anaknya, dia benar-benar harus mengambil keputusan lebih cepat agar anaknya tidak terseret lebih jauh dalam pergaulan bebas. Sebagai orang tua tentu saja Raka sangat khawatir jika Sabian salah pergaulan.
“Ayah ... ” rengek Sabian penuh iba.
Lagi-lagi Raka hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Sebagai anak tunggal, tentu saja Raka sangat berat untuk meninggalkan Sabian. Namun, dia harus tetap kuat.
Sabian benar-benar tak berdaya. Tubuhnya terasa lemas untuk melangkah. Semua cahaya seakan telah sirna. Tak ada satupun tempat yang bisa digunakan untuk bersandarnya lagi. Jikapun ada itu hanyalah bu Iza.
“Sudah tidak usah bersedih! Apa yang kamu pikirkan? Di tempat ini tidaklah menyeramkan seperti apa yang ada di dalam pikiranmu. Sini peluk dulu, baru ayah akan pulang.”
Sabian tidak memberontak saat dipeluk oleh ayahnya. Bahkan tak sedikitpun ada rasa malu saat dilihat oleh beberapa santri yang tak sengaja melihatnya.
Dalam pelukan, Raka mencoba untuk menahan air mata. Tak mudah baginya untuk melepaskan Sabian begitu saja, akan tetapi dia sudah tidak punya jalan lain untuk meluruskan jalan Sabian yang tidak bisa diatur.
__ADS_1
“Bian ... maafkan ayah. Percayalah ini semua untuk kebaikanmu,” bisik ayahnya dengan pelan.
Namun, Sabian tak merespon. Tubuhnya masih tetap membeku. Dia sangat berharap jika ini hanya mimpi buruk saja dan berharap jika saat dia bang semua akan kembali seperti semula.
“Baiklah, jaga diri dengan baik, Ayah pulang. Semua fasilitas ada di dalam tas, tolong gunakan sebaik mungkin.” Perlahan Raka melepaskan pelukannya dan berjalan pelan untuk meninggalkan Sabian yang masih diam membisu tanpa kata. Bahkan sekedar mengucap kata salam saja bibir Sabian sudah tidak mampu lagi.
“Sudah, jangan bersedih. Abah tahu jika ini masih terlalu berat untukmu. Kamu tidaklah sendirian karena semua santri yang ada di sini sama seperti kamu harus berpisah dengan keluarga. Ayo, Abah antar kamu ke kamar.” Tiba-tiba saja tangan Abah Abdullah menarik tangan Sabian untuk melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Di dalam mobil, Raka menjatuhkan rasa sedihnya karena harus merelakan Sabian tinggal di pesantren lebih awal. Raka tahu jika Sabian sangat tertekan, tetapi dia tidak punya pilihan lain karena Sabian sama sekali tidak bisa berubah.
“Bian ... maafkan Ayah! Ayah melakukan Semua ini karena Ayah sayang sama kamu. Andaikan saja kamu bisa mendengarkan kata-kata ayah, mungkin Ayah tidak akan mengirim lebih awal ke tempat ini. Tapi sudahlah, mungkin ini sudah menjadi jalan dari Allah agar kamu bisa dewasa, karena ayah benar-benar membutuhkanmu untuk meneruskan perusahaan ayah.”
Disisi lain Zura tidak berani keluar kamar karena rasa bersalahnya kepada Sabian. Namun, jika tidak seperti itu mungkin Sabian hanya akan menjadi seorang gelandangan di jalanan.
“Sabian ... maafkan aku! Bukan maksudku ingin menjebakmu, tapi aku hanya tidak ingin kamu menjadi gelandangan di jalanan, makanya aku hubungi ayah kamu. Semoga kamu tidak mengetahui jika aku dibalik semua ini. Ya Allah, tolong tutuplah kebenaran ini, karena semua ini juga demi kebaikan Sabian.”
...###...
__ADS_1