Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 27


__ADS_3

Sungguh Ais tidak menayangkan jika akan diperlukan sangat baik dari ibunya Hanafi. Bahkan saking baiknya, ibunya Hanafi sampai menawarkan Hanafi pada Ais, karena dia melihat sang anak yang tak pernah mau mendekati seorang wanita. Hanafi yang memegang teguh pendirian tidak ingin pacaran, sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan ibunya saat menahan Ais setelah acara pengajian berakhir.


Ibu Hanafi sudah tau tentang masa lalu Ais. Dan saat ini masa idah Ais juga sudah habis. Itu tandanya Ais bisa meneruskan hidupnya kembali. Ibu Hanafi menerima dengan lapang status Ais yang seorang janda.


"Bagaimana Ais, jika kamu bersedia, ibu dan bapak akan datang ke Jogja untuk berbicara dengan orang tuamu." Ibu Hanafi meminta jawaban atas pertanyaan yang telah diberikan pada Ais.


Tentu saja wajah Ais langsung memerah dan tubuhnya seketika menjadi tegang. Sangat di luar prediksinya jika ternyata ibunya Hanafi mempunyai rencana lain selain mengajak Ais untuk mengikuti acara pengajian di rumahnya.


"Bu, tidak bagus memaksa orang lain. Ais butuh waktu, terlebih saat ini Ais masih trauma dengan kegagalan. Biarkan Ais menikmati masa mudanya yang tertunda," sahut Hanafi yang merasa sangat malu dengan permintaan ibunya yang menawarkan dirinya pada Ais. Padahal bukan Hanafi tidak laku dan tidak ada yang mau. Hanya saja Hanafi memang belum siap untuk menikah.


"Hanaf! Sampai kapan kamu akan menolak untuk menikah? Usia kamu hampir memasuki kepala tiga dan kamu belum mau menikah? Apalagi yang ingin kamu tunggu, Han? Ibu sudah lelah mencarikan jodoh untuk kamu. Sebenarnya kamu mau wanita yang seperti apa? Meskipun ibu belum mengenal Ais secara mendalam tetapi ibu yakin jika Ais adalah wanita yang baik. Sebenarnya sudah lama ibu ingin bertemu dengan Ais, tetapi karena Ais sibuk kuliah, ibu tidak ingin menggangunya. Apakah kamu akan melajang sampai tua?"

__ADS_1


"Ibu, bukan seperti itu. Bukankah Hanaf sudah pernah mengatakan kepada ibu jika Hanaf akan menikah saat hati Hanaf telah siap. Saat ini hati Hanaf belum siap, Bu. Hanaf belum siap untuk menjadi seorang imam, karena Hanaf masih memiliki banyak kekurangan. Jika waktu telah tiba, percayalah, Hanaf akan menikah." Hanafi mencoba untuk memberikan pengertian pada ibunya.


"Iya, ibu tau. Tapi tidak ada salahnya kan jika kamu membuka hati untuk Ais," ucap ibunya yang bersikeras dengan keinginan karena telah terpesona dengan Ais sejak pandangan pertamanya.


"Tapi Ais juga butuh waktu, Bu. Ais, kamu enggak usah dengerin apa yang dikatakan sama ibu, ya! Karena saat ini kamu harus fokus pada kuliah kamu. Ayo, aku antar kamu pulang!" ucap Hanafi pada Ais.


Ais benar-benar merasa tidak enak pada ibunya Hanafi, tetapi untuk saat ini Ais memang belum siap untuk menjalan hubungan dengan pria manapun, termasuk juga dengan Hanafi, meskipun pria itu adalah pria idaman para kaum hawa.


"Walaikumsalam."


Sebenarnya ibu Hanafi merasa sangat kecewa karena tidak mendapatkan jawaban dari Ais. Entah mengapa dirinya begitu tertarik pada sosok Ais yang baru saja dikenal. Seperti ada data tarik dalam tubuh Ais untuk memikat dirinya. Helaan napas berat pun terdengar begitu panjang.

__ADS_1


"Sudahlah, Bu. Jangan memaksa diri. Biarkan Hanaf mencari tulang rusuknya sendiri. Kita sebagai orang tua tidak berhak ikut campur dengan masalah jodoh untuk anak. Ucapan Hanaf itu ada benarnya, saat ini Ais masih shock dengan kenyataan. Jangan sampai ibu juga menambah beban Ais, Bu!" Bapak Hanafi mencoba untuk menasehati istrinya.


"Iya, Pak. Ibu tau itu. Ibu hanya merasa kasihan aja dengan cerita Adam yang sampai saat ini Ais belum bisa melupakan mantan suaminya itu. Kan enggak ada salahnya kalau kita jadikan Hanaf untuk membalut luka Ais. Ibu enggak akan menuntut apa-apa dari Ais. Bapak kan tau sendiri hubungan Hanaf dan juga Adam itu sangat baik. Bahkan kita juga sudah menganggap Adam seperti bagian dari keluarga kita. Lalu apa salahnya jika kita membantunya, Pak?"


"Kamu benar, Bu. Tapi berilah Ais waktu. Bapak tau niat ibu baik, tapi jangan sampai niat baik itu malah menjadi beban untuk orang lain. Apakah ibu melupakan ucapan Adam yang pernah mengatakan jika dia tidak mengizinkan siapapun untuk meminang Ais, sebelum Ais lulus? Percuma saja ibu menekan Hanaf, jika pada kenyataannya Adam tidak memberikan izin."


Seketika ibu Hanafi hanya bisa pasrah. Meskipun Ais seorang janda, tetapi auranya masih seperti anak muda pada umumnya. Sama sekali tidak terlihat seperti janda pada umumnya, karena usia memang masih muda.


"Andaikan saja dulu Hanaf bertemu dengan Ais lebih cepat, aku tidak akan menyia-nyiakan menantu sebaik dan secantik Ais. Aku jadi penasaran seperti apa mantan ibu mertuanya Ais."


...***...

__ADS_1


__ADS_2