
Perjodohan keluarga tidak bisa di tentang, sekalipun terasa berat untuk menerimanya. Sabian sudah pasrah saat dia masukkan ke sebuah pesantren milik keluarga Aluna, wanita yang telah dijodohkan untuknya. Namun, semakin hari Sabian merasa tidak adil dengan perjodohan ini dan menyusun rencana untuk kabur dari pesantren tempat tinggalnya saat ini.
“Bi, apakah kamu serius ingin kabur dari pesantren itu? Lalu kamu akan tinggal dimana setelah ini?” tanya Gala, sahabat Sabian.
Sabian melirik Gala dengan rasa malas, karena ini sebuah keputusan yang sangat besar. Namun, meskipun berat, Sabian akan tetap menerjangnya. “Sejak kapan aku tidak serius, Gal? Aku selalu serius dengan ucapanku. Ini semua tidak adil untukku! Aku masih anak SMA dan dijodohkan dengan wanita yang usianya jauh lebih tua 10 tahun dariku. Yang lebih parah lagi, wanita itu adalah teman Bu Iza, calon ibu tiriku, Gal!” Sabian menghela napas panjang. ”Untuk masalah aku tinggal dimana, kamu tidak usah khawatir! Aku bisa tinggal di bawah jembatan.”
Bola mata Gala langsung membulat dengan lebar saat mendengar penjelasan Sabian yang sangat mengejutkan. Bahkan Gala hampir tidak percaya jika Sabian akan dijodohkan dengan seorang tante-tante. “Serius, wanita yang dijodohkan denganmu lebih tua 10 tahun dan ternyata dia teman Bu Iza, guru kita? Apakah wanita di dunia ini telah punah sehingga kamu dijodohkan dengan seorang tante-tante? Tapi enggak apa-apa sih kalau cantik!”
Seketika Sabian menjitak kepala Gala dengan kuat. “Aku tidak menyuruhmu untuk mengomentari tentang perjodohanku, tapi aku memintamu untuk membantuku kabur!”
“Aduh Bian ... sakit tahu!” Gala segera mengosok bekas jitakan Sabian di kepalanya. “Jadi apa yang harus lakukan untuk membantumu, Bi?”
Seketika mata Sabian langsung berbinar. Bibirnya pun langsung menyunggingkan senyum lebarnya, karena ide telah tercetus di dalam kepala. Dengan cepat, Sabian membisikkan semua rencana yang satu persatu telah disusunnya dengan sangat rapi.
__ADS_1
Gala yang mendengar rencana Sabian langsung melotot dengan lebar. Belum selesai Sabian membisikkan rencananya, Gala segera mendorong wajah Sabian untuk menjauh dari telinganya.
“Gila kamu, Bi! Enggak! Aku enggak bisa bantu kamu kalau itu rencana kamu, Bi! Aku enggak mau terlibat dalam masalahmu, apalagi kamu sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi!” tolak Gala secara mentah-mentah.
“Tapi hanya itu satu-satunya cara untukku tetap bertahan. Kamu tenang aja, jika aku telah sukses, aku akan mengembalikannya padamu. Bahkan jika perlu, aku akan membelikan yang baru untukmu. Ayolah, Gal! Apakah kamu meremehkan kemampuanku? Aku selalu menang dalam bertanding, jadi kamu tidak usah khawatir jika motor kamu tidak akan kembali. Ayolah Gal! Please!” rengek Sabian penuh iba pada Gala, satu-satunya sahabat yang bisa diandalkan.
Sabian benar-benar berharap jika Gala bisa meminjamkan motornya dan sejumlah uang untuk bertahan ditempat barunya nanti, karena saat ini Sabian tidak memiliki apa-apa.
“Maaf, Bi! Aku enggak bisa! Aku tidak tahu apa yang akan aku katakan pada ayahmu saat dia bertanya tentangmu nanti, karena aku sudah berjanji padanya tidak akan membawamu ke dunia perbalapan lagi. Aku tidak bisa membohonginya terlalu dalam, Bi!” Gala masih tetap pada pendiriannya yang tidak setuju dengan rencana Sabian.
Sadar dengan kepergian Gala, Sabian pun berteriak. “Gala Tunggu!” teriaknya.
“Tidak usah pedulikan aku jika kamu tidak mau membantuku. Aku akan menggunakan caraku sendiri untuk kabur dari tempat itu. Kamu pikir aku tidak mempunyai teman lain selain dirimu!” ketus Sabian merasa diikuti oleh Gala.
Gala hanya bisa menghela napas panjangnya. Bukan tidak mau membantu, hanya saja keputusan yang akan diambil oleh Sabian akan berisiko besar. Terlebih dengan kaburnya Sabian itu sama saja akan berhenti sekolah. Padahal hanya tinggal menunggu satu tahun lagi perjuangan selama 12 tahunnya akan segera usia.
__ADS_1
“Bi, bukan begitu! Tapi apakah kamu sudah berpikir dengan matang? Jika kamu kabur, lalu bagaimana dengan sekolahmu ini? Apakah kamu akan mengorbankan perjuanganmu selama ini? Ayolah Bi berpikirlah secara dewasa!”
Seketika Sabian menghentikan langkahnya dan membalikkan badan untuk menatap Gala yang ada dibelakangnya. “Kamu bisa berbicara seperti itu karena kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini, Gal! Ya udah, cobain aja kamu berada di posisiku biar kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini!” ujarnya dengan helaan napas panjangnya.
“Jika bisa seperti itu, tidak apa-apa. Sebenarnya jadi kamu tuh enak asalkan nurut sama orang tua. Apa-apa sudah tersedia. Mau ini itu tinggal tunjuk. Kurang apa coba?”
“Udah ... udah nggak usah berisik kalau enggak mau bantuin aku!”
Sabian hanya bisa menghela panjangnya. Dengan berat hati dia pun mengiyakan keinginan Sabian untuk meminjam motor miliknya, tapi tidak dengan keinginannya untuk meminjam uang, karena Gala sendiri tidak akan mempunyai uang banyak.
“Oke, aku kasih motorku, tapi tidak dengan uangku! Kamu tahu sendiri kan bagaimana keuangan keluargaku yang pas-pasan?”
Sabian yang mendengar kata oke langsung tersenyum lebar. Dirinya merasa sangat puas dengan jawaban yang memang sudah ditunggunya. “Nah, gitu kek dari tadi. Ya udah, ayo ke kantin! Aku traktir sepuasnya untuk terakhir kalinya.”
Sabian pun langsung merangkul pundak Gala untuk menunju kantin. Mungkin ini akan menjadi makan terakhir di kantin, karena setelah ini Sabian benar-benar akan meninggalkan sekolahannya.
__ADS_1
...###...