Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
S—2 : Cinta Untuk Sabian


__ADS_3


Tiga hari pun telah berlalu. Selama itu juga tak sedetikpun Raka muncul untuk menjenguk Sabian. Begitu juga den Iza yang sama sekali tak menampakkan wajahnya. Mungkin karena telah mendapatkan larangan dari ayahnya. Begitulah yang ada dalam pemikiran Sabian saat hendak meninggalkan ruang tahanan.


“Pak polisi, apakah aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi ditempat ini?”


Petugas polisi yang mengantar Sabian untuk keluar tiba-tiba mengernyit dahinya. Selama mengabdi menjadi anggota polisi, inilah kali pertamanya mendapatkan pertanyaan yang tidak masuk akal. Biasanya seseorang akan merasa sangat bahagia jika akan keluar dari ruang tahanan, akan tetapi berbeda dengan Sabian yang merasa tidak senang. Bahkan dia meminta perpanjangan waktu tahanannya.


“Kami ini gimana, sih? Dimana-mana orang minta keluar lebih lama. Eh kamu malah minta tinggal lebih lama di tempat ini. Gimana sih!”


“Ya mau gimana lagi, Pak. Keluargaku saja tidak ada satupun yang peduli denganku yang tidur disini selama tiga hari tiga malam. Mereka saja sudah tidak peduli denganku apakah aku tidur dengan baik, apakah aku makan dengan baik, apakah aku mandi dengan baik dan apakah aku bisa bernafas dengan baik. Mereka semua tidak peduli. Lalu untuk apa aku pulang ke rumah?” Helaan napas terdengar begitu berat. Bahkan kakinya terasa berat untuk melangkah keluar.


“Mereka bukan tidak peduli denganmu. Mungkin mereka ingin kamu bisa belajar lebih baik lagi agar kedepannya kamu tidak mengulang kesalahan yang sama lagi. Bapak yakin, mereka pasti sangat peduli denganmu. Next untuk kedepannya, jadilah anak yang baik agar tidak tidur sini lagi!”

__ADS_1


“Tapi aku lebih suka tidur disini, Pak. Apakah aku harus ikut balapan atau membuat onar lagi biar bisa tidur di tahanan lagi?”


Pak polisi hanya bisa memijat kepalanya yang telah berdenyut. Dengan cepat dia menonton sabyan untuk meninggalkan tempat itu. Semakin lama menanggapi ucapan Sabian, bisa-bisa darah tingginya bisa kambuh.


“Kamu pikir ini tampungan untuk anak-anak pembuatan onar? Jika terjadi kamu ditangkap lagi, aku tidak kan segan-segan untuk menghukummu dengan mengirim kamu ke lapas kelas kakap. Aku sudah tandai wajahmu! Sekarang kamu pulang sana! Itu mobil jemputanmu sudah datang!” seru pak Polisi yang hampir hilang kesabaran untuk meladeni Sabian.


Tubuh Sabian di dorong paksa untuk masuk ke sebuah mobil yang memang sudah menunggunya sejak tadi. Rasanya terlalu berat untuk naik, tetapi pak Polisi terus memaksa Bian untuk masuk.


“Ingat, jangan ulangi lagi kesalahanmu, karena aku sudah menandai wajahmu! Sekarang kamu pulang sana! Aku yakin keluargamu sudah merindukanmu!”


“Pak, ke jalan Delima, ya!” titah Bian dengan pelan.


“Jalan Delima? Bukankah seharusnya kita ke jalan Anggrek?” protes sang sopir.

__ADS_1


“Tapi aku mau kesana, Pak!”


“Maaf, tidak bisa, karena saya diutus untuk menjemputmu dan membawamu pulang ke jalan Anggrek!”


Sabian hanya bisa membuang napas kasarnya. Sudah pasti ini adalah perintah dari ayahnya. Lalu mengapa bukan ayahnya sendiri yang menjemputnya? Apakah saat ini dirinya sudah tidak penting lagi di mata ayahnya? Jika memang benar begitu, lalu untuk apa Sabian pulang ke rumah jika sudah tidak ada cinta lagi untuknya.


“Stop, Pak!” seru Bian dengan tiba-tiba.


Sopir pun segera menginjakkan rem. “Ada apa?”


Tak ada sepatah kata, Sabian langsung membuka pintu mobil untuk turun. Hatinya benar-benar masih kacau dengan pemikirannya sendiri.


“Heii ... mau kemana!” teriak sang sopir saat Sabian pergi berlari begitu saja. “Gawat, malah kabur dia!“

__ADS_1


...##...


Terima kasih yang masih menunggu novel ini untuk update kembali, tapi othor bener-bener lagi gak semangat, karena level novel ini turun 🥺 Dah lah, othor mau healing ke China dulu


__ADS_2